Adakah Hari Perempuan Untuk Perempuan-Perempuan Korban Perang Suriah?

Bulan Maret ini tepatnya tanggal 8 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Seperti kebanyakan seremonial tingkat dunia bergegaslah kebanyakan elemen masyarakat merayakannya. Dari barat sampai ke timur bertebaran hastag #Internationalwomensday. Hampir di semua media sosial hastag #Womenday bertebaran.

Seorang teman yang bekerja di UN mengirimkan fotonya lengkap dengan banner Women-UN dengan hastag #HERStory dengan harapan setiap perempuan berani menyuarakan kisahnya ke seluruh dunia.

Di Jakarta sendiri para aktivis perempuan menggalang aksi di Monas dan membawa banyak spanduk diantaranya permintaan kepada pemerintah menghentikan Kekerasan Pada Anak dan Perempuan.

Tak hanya di Jakarta hampir di seluruh kota besar di berbagai negara mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan dan anak ini.

Lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan dari negara-negara konflik?

Saat ini di Suriah termasuk dalam 10 negara dengan kasus kekerasan seksual menjadi lazim di masyarakatnya (Deutsche Welle). Selain Suriah ada Rohingya, Afghanistan, Irak, Republik Afrika Selatan, Kolumbia, Kongo, Libya, Mali, dan Somalia yang masuk dalam daftar.

Karena PBB tahun ini mengangkat tema #HERStory izinkan saya berkisah tentang perempuan-perempuan Suriah kepada dunia. Sejak meletusnya perang Suriah tahun 2011 aksi kekerasan seksual pada perempuan dan anak meningkat di Suriah.

Tidak hanya menimpa kalangan bawah tetapi juga kalangan terdidik dan kalangan atas masyarakat Suriah. Rezim Bashar melakukan teror mental salah satunya dengan pelecehan seksual kepada wanita-wanita kalangan sunni Suriah. Tidak ada pengadilan untuk para pelaku karena mereka dilindungi oleh hukum pemerintah yang berkuasa.

Bahkan banyak kasus kekerasan seksual yang terpaksa disembunyikan oleh pihak keluarga untuk menghindari rasa malu. Bahkan tak hanya sampai disitu banyak korban kekerasan seksual yang dibunuh. Tercatat dalam laporan SNHR tahun 2013 sedikitnya telah terjadi 6000 kasus pemerkosaan yang terus meningkat sampai tahun 2017 ini. Diikuti dengan meningkatnya kasus kehamilan paksa. Tercatat kasus tertinggi terjadi kantong-kantong konflik seperti Homs, Damaskus, Hama, Latakia, Daraa, Idlib dan Tartous.

Tingginya kasus kekerasan perempuan di Suriah tak berhenti hanya di Suriah. Banyak para perempuan yang melarikan diri keluar dari Suriah tetap mengalaminya. Kebanyakan perempuan-perempuan korban perang ini melarikan diri tanpa didampingi suami atau keluarga laki-lakinya. Di pengungsian pun mereka mengalami kekerasan seksual.
Penampungan pengungsian yang tidak layak memicu tindak kekerasan ini. Kebanyak dari mereka tidak punya pilihan lain selain tinggal di penampungan.

Hanya orang-orang dari kalangan berada yang bisa melarikan diri sampai ke Eropa. Yang ketika sampai di luar negeri mereka juga mengalami kesulitan finansial dan terpaksa tinggal di penampungan yang disediakan pemerintah setempat. Beberapa teman blogger yang sempat mewancarai para pengungsi perempuan di Eropa banyak menerima kisah-kisah tragis para pengungsi.

Jika anda mengatakan “kenapa tidak lari dari pengungsian?”

Wahai saudaraku, lari dari pengungsian itu ibarat lolos dari mulut harimau masuk mulut buaya. Kerasnya kehidupan di luar pengungsian untuk perempuan tanpa identitas resmi adalah BAHAYA TINGKAT TINGGI.

Tahukah anda jika mereka melarikan diri dari pengungsian maka sindikat Human Traficking akan berpesta-pora. Baru-baru ini badan Perserikatan Bangsa-Bangsa merilis sebuah film tentang ngerinya perdagangan perempuan dan anak untuk bisnis prostitusi dunia. Karena tidak hanya perempuan dewasa yang dijadikan lahan prostitusi. Ada 5,5 juta anak perempuan dari berbagai belahan dunia yang dilibatkan dalam sindikat prostitusi ini. Dan sebagian besar berasal dari negara-negara konflik termasuk Suriah.

Hidup sebagai perempuan korban konflik Suriah benar-benar tidak mempunyai pilihan hidup. Jadi ketika masyarakat dunia gegap gempita merayakan Hari Perempuan Internasional maka muncul pertanyaan “ Adakah hari perempuan untuk wanita-wanita Suriah?”.

Tak hanya untuk wanita-wanita Suriah tetapi juga Rohingya, Irak, Afghanistan, Somalia dan berderet perempuan dari berbagai negara muslim yang terdzalimi. Dimana kalian wahai kaum muslimin?. Dimana kalian?
By: Mrs. Walker

Referensi:
EMHNR (Euro-Mediterranean Human Rights Network), 2013. Violence against Women, Bleeding Wound in the Syrian Conflict. Copenhagen
International Rescue Committee (IRC), 2013. Commission on Syrian Refugees, Syria: A Regional Crisis 7.
Save The Children, 2015. The Cost of War: Calculating The Impact of the Collapse of Syria’s Education System on The Country’s Future (online)
U.N Women, 2014. Press release, Conference of Syrian Women, convened by U.N Women and the Netherlands, ends with strong recommendations for upcoming peace talks, (Jan.13,2014) [online] tersedia di: www.unwomen.org/…/2…/1/press-release-on-syrian-women-meeting.
Yuuk barengan Syam Organizer Membantu Syam
Donasi kita bisa melalui rekening atas nama Yayasan Amal Syam Abadi.
*Bank Mandiri
1370011025976
(untuk Palestina)
*Bank Syariah Mandiri
7068692088
(untuk Suriah).
Konfirmasi transfer melalui HP +62 878 3959 0220

Jazakumullah khairan
Semoga apa yang telah kita usahakan menjadi pemberat timbangan amal.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*