Abdillah Onim, WNI Pertama yang Mempunyai Tanah di Jalur Gaza

Syamorganizer.com – Di sela-sela kesibukannya menunaikan amanah di Suriah, Ust. Abu Zahidah, Relawan Syam Organizer untuk Suriah tim ke 2 menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Ust. Abdillah Onim, Relawan Indonesia di Gaza, meski hanya melalui saluran telpon. Berikut adalah hasil komunikasinya, yang dipaparkan dalam bentuk reportase.

Abdillah Onim adalah Relawan Indonesia untuk Palestina sekaligus wartawan Indonesia yang berada di Jalur Gaza Palestina sejak tahun 2009 pasca agresi Israel. Tragedi yang telah menewaskan lebih dari 1400 warga Jalur Gaza serta melukai lebih dari 16 ribu orang. Saat ini Abdillah Onim yang akrab di sapa bang Onim nekat mengikrarkan seluruh waktunya untuk membantu perjuangan rakyat Palestina agar terbebas dari jajahan Israel serta pembebasan Masjid Alaqsa (kiblat pertama Umat Islam) yang hingga saat ini sudah dikuasai oleh israel. Laki-laki, yang sekaligus wartawan ini hingga kini menetap di Jalur gaza.

Keberadaan Abdillah di Jalur Gaza tidak membawa bendera serta tidak terikat LSM/Lembaga/partai apapun akan tetapi independen membantu dan bebas bekerja sama dengan lembaga dan LSM secara non profit dan cuma-cuma dalam memberikan solidaritas terhadap rakyat Palestina.

Aktifitas Abdillah sendiri bekerja sebagai wartawan/reporter di salah satu stasiun Televisa Indonesia serta aktif menulis berita yang disebarkan di seluruh media di Indonesia.

Menabung adalah bagian dari kebiasaan Abdillah, dari hasil tabungan uang pribadi ditambah dengan dukungan istrinya yang rela menjual seluruh perhiasan akhirnya beliau dapat membeli tanah di Jalur Gaza yang menjadi harapannya, pada bulan Juli tahun 2013. Abdillah Onim membeli sebuah lahan/tanah seluas 259 meter persegi di Jabalia Jalur Gaza bagian Utara. Tanah tersebut menjadi Hak Milik dan atas nama Abdillah Onim serta bersertifikat dari kementrian pertanahan Palestina di Jalur Gaza. Dengan kepemilikan hak milik tersebut Abdillah Onim merupakan WNI yang pertama memiliki tanah di Bumi Syam Gaza Palestina.

Pria kelahiran Galela Halmahera Utara ini menamatkan Sarjana S1 (Ekonomi dan Perbankan Syariah) nya di sebuah universitas swasta di Jakarta Jl.Limo kebayoran baru. Beliau adalah putra dari Alm.Ismail Onim dan Marwiyah Onim. Sebuah keluarga yang sangat sederhana dan berprofesi sebagai petani kopra dan cengkeh. Meski demikian keluarga ini sudah mengenal dunia relawan dan sudah melanglang buana di sebagian besar wilayah di Indonesia yang diterpa bencana untuk menjalankan misi kemanusiaan. Ayahnya wafat saat bang Onim berada di Jalur Gaza tahun 2009 saat agresi israel ke wilayah Gaza.

Abdillah Onim bahkan pernah menjadi alumni Kapal Mavimarmara armada pelayaran pembebasan Palestina. Beliau sempat mendekam di penjara Israel. Meski sudah menetap di Palestina, beliau tetap berziarah ke Indonesia, mengajak anak istrinya ke Indonesia untuk bertemu dengan ibunda tercintanya di kampung kelahirannya.

Di akhir tahun 2011, bang Onim mempersunting seorang Hafidzah muslimah asli Jalur Gaza dan melangsungkan pernikahan di Jalur Gaza. Di awal tahun 2012 Allah swt mengaruniai bang Onim seorang putri yang diberi nama Marwiyah Filindo Onim. Ispirasi dari nama Filindo ini adalah adanya hubungan yang sangat erat antara Indonesia dan Palestina, tidak hanya ikatan akidah dan emosional akan tetapi ikatan darah. Nama Filindo dengan demikian dimaknai Filistin Indonesia, panggilannya Filin atau Filistin. Saat ini Filin sudah berusia 1,5 tahun dan sudah dapat memahami dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Arab.

 Setelah memiliki tanah/lahan berukuran 259 meter persegi, Bang Onim berniat membangun rumah sebagai tempat tinggal bang Onim dan anak istri, tidak hanya tempat tinggal akan tetapi sekaligus akan di fungsikan sebagai markaz tahfidz Qur’an Indonesia (Rumah Tahfidz) yang  alhamdulillah sudah dimulai pembangunannya sejak tanggal 30 September 2013 dan hingga saat ini masih dalam pembangunan.

Untuk tahap awal pembangunan hanya dibangun ruang bawah tanah dengan ukuran 100 meter persegi, lantai 1 akan difungsikan markaz tahfidz Qur’an pria dan wanita dan menampung lebih dari 100 orang anak-anak Gaza menghafal Qur’an yang langsung dikoordinir oleh ustadzah Rajaa Onim istri dari bang Onim dibantu bang Onim, sedangkan dilantai 2 dijadikan tempat tinggal bang Onim dan keluarga.

Rumah tahfidz ini murni dihandle oleh PPPA DAQU Indonesia dan sampai sekarang mereka sudah mengirimkan dana hampir 600 juta, nantinya rumah ini selain sebagai markaz tahfidz qur’an juga bebas dijadikan tempat tinggal relawan Indonesia yang datang ke Gaza untuk misi kemanusiaan. Meskipun demikian mereka juga welcome bagi siapa saja yang ingin ikut menyumbang pembangunan rumah tahfidz ini. Karenanya bagi kaum muslimin yang ingin membantu menyalurkan infaqnya ke rumah tahfidz ini bisa melalu rekening berikut:

1.No.Rek: 6900090001 BNI Cab.Kenari Mas Jak-Pus.
2.No.Rek: 6900060009 BNI Cab.Kenari Mas Jak-Pus.
3.No.Rek pemb.Markaz Tahfidz Qur’an: 0101305907 BNI Cab.Kramat Jak-Pus. A/n. Abdillah Onim

Masyarakat di sekitar pembangunan rumah tersebut sangat antusias mendengar ada WNI membangun rumah bahkan jalan raya pun sudah disepakati akan dinamakan Jl.Raya Indonesia.

Terkait dengan kondisi Mesir khususnya Jalur Gaza, beliau menjelaskan bahwa meskipun sudah tidak ada serangan dari pasukan Zionis tetapi pembunuhan yang dilakukan oleh tentara Israel sering terjadi. Kondisi yang demikian menyebabkan warga asing belum diijinkan masuk ke Rafah, ini berarti belum ada ijin sama sekali dari militer Mesir saat ini, bang Onim menjelaskan. Meski demikian, kepedulian rakyat gaza terhadap muslimin Suriah sangat luar biasa. Mereka sangat membenci Syiah laknatullah ‘alaih.

Beliau juga memberi nasihat kepada kaum muslimin di Indonesia agar umat islam bersatu untuk menyuarakan perjuangan atas landasan la ilaha ilallah muhammadarasulullah, membantu sesama jagan pernah melihat harakahnya, tetapi atas nama kemanusiaan laki-laki ini mengajak bergandengan tangan untuk membantu rakyat Suriah, Gaza Palestina dan wilayah lainya yang dilanda perang.

“Berjuanglah dengan hati bersih niat iklas karena Allah, bantulah dan tanggalkan kata KENAPA?”, begitu nasihatnya di akhir pembicaraan lewat telpon yang dilakukan oleh relawan Syam organizer.

Rep: Abu Zahidah
Red: AR70

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*