Al Baqarah: 183 versus Al Baqarah: 216

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” (QS. Al Baqarah: 216)

Ayat ini redaksi awalnya sama dengan ayat yang sering dibaca oleh penceramah saat ini.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al Baqarah: 183)
Tetapi kalau kita perhatikan tanggapan kaum muslimin terhadap kedua ayat ini sangat jauh berbeda. Kita menyaksikan bagaimana kaum muslimin mensikapi ayat 183 dari surat Al Baqarah tersebut. Hampir semua umat islam gemuruh melaksanakan dan menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan hingar bingar. Tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun gema puasa itu sangat terasa. 
Orang yang sebelumnya tidak pernah menulis dalam statusnya tentang islam, mendadak statusnya dipenuhi dengan rangkaian nasihat-nasihat. Bahkan, para artis pun tak mau ketinggalan. Kalau selain bulan ramadhan mereka memerankan peran yang tidak islami, di bulan Ramadhan ini banyak dari mereka yang berubah penampilan. Mulai dari baju maupun tema sinetron yang ia mainkan. Pokoknya suasana di mana-mana ada unsur islaminya, ada unsur penyambutan ayat, diwajibkan atas kamu berpuasa.
tentu hal itu tidak salah, hanya ironinya, gemuruh dan tanggapan yang luar biasa itu tidak sepadan dengan sambutan mereka (baca umat islam, red) terhadap ayat yang artinya, diwajibkan atas kamu berperang.
Memang tidak harus berangkat berperang semuanya, karena peperangan membutuhkan persyaratan yang barangkali tidak semua orang bisa memenuhinya. Tapi bukankah hari ini syariat perang (baca jihad, red) itu kini telah menjadi fardhu. Memang awalnya fardhu kifayah. Tapi bukankah kewajiban yang sifatnya kifayah itu akan terus menjadi kewajiban setiap orang manakala jika hanya dilakukan oleh beberapa orang ternyata tidak mencukupi atau sempurna?
Awalnya jihad wajib ain antara lain hanya atas orang-orang yang terjajah dan teraniaya atau diserang. Sedangkan bagi yang tidak hukumnya fardhu kifayah. Tetapi ketika fardhu kifayah itu tidak bisa sempurna ditunaikan oleh sebagian umat islam maka kewajiban itu akhirnya akan menjadi kewajiban bagi setiap individu muslim.
Lalu bagaimana dengan sekarang?
Apakah jihad itu fardhu kifayah atau fardhu ain? 
Hari ini beberapa wilayah islam telah dirampas oleh kaum kafir. Bukan hanya sekedar merampas. Mereka juga mengadakan pembantaian dan pembunuhan yang luar bisa biadabnya. Tidak peduli apakah mereka berhadapan dengan anak-anak atau orang dewasa. Tidak peduli juga apakah yang mereka bantai itu wanita ataukah laki-laki. Semua di mata orang-orang kafir sama, orang islam harus dihabiskan.
Lihatlah Suriah hari ini. Berapa ratus ribu jiwa melayang. Berapa bayi dan anak-anak disembelih seperti mereka menyembelih binatang. Dan dengarlah teriakan mereka. Teriakan kaum muslimin yang dibantai. Teriakan dari anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Pekikan yang diteriakan seorang muslimah karena diperkosa. 
Tidakkah bulu kuduk kita merinding ketika mereka teriak dengan lantang
“Dimana kamu wahai saudaraku. Dimana kamu wahai kaum muslimin? Kenapa engkau biarkan orang kafir itu merampas kehormatan kami. Kenapa lengan tanganmu tidak kamu ulurkan saat kami meronta ingin menggapai tanganmu. Kenapa engkau justru tertawa dalam girangnya musik dengan meja penuh hidangan.
Anak-anak Syria rela mengantri dan berdiri lama sekali demi mendapatkan makanan buka puasa gratis di utara kota Raqqa selama bulan suci Ramadhan
Tidakkah kalian melihat betapa sulitnya kami mendapatkan sepiring nasi, atau bahkan sekerat roti. Tidakkah kalian lihat anak-anak kami hanya makan sekeping roti dan segelas air untuk satu hari. Hingga mereka menangis. Hingga kami meminta fatwa, tentang boleh tidaknya makan daging kucing?
Hari ini kalian mungkin bisa merasakan penderitaan kami dalam lapar dan haus karena kalian berpuasa. Tapi sungguh kelaparan dan kehausan kalian karena puasa jauh berbeda dengan lapar dan haus yang kami rasakan. Karena begitu waktu buka puasa tiba, kalian akan segera memenuhi perut kalian dengan makanan yang sesuai dengan keinginanmu. Sedangkan kami, tetap harus menahan lapar dan haus itu sampai batas waktu yang kami sendiri tidak tahu.

Hidanngan buka bersama sebagian muslimin di Indonesia
Karenanya, jangan salahkan ketika besok kami menuntut kalian di hadapan Sang Khalik. Kami akan menuntut kalian di hadapan Allah, karena kalian telah menelantarkan kami dalam penderitaan, sementara kalian lebih asik bersenang-senang. Kalian tidak pernah melihat dan mendengar berita yang kami alami.”
Sungguh teriakan mereka bukanlah mengada-ada. Setiap harinya, mereka menjerit, ‘keluarkan kami dari negeri kami yang telah dirampas oleh orang kafir terlaknat. Jaga dan belalah kehormatan kami.’
Apakah ketika kita mendengar teriakan itu masih akan mengatakan bahwa jihad adalah fardhu kifayah. Tidak adakah kenginan untuk segera menyambut seruan Allah
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” (QS. Al Baqarah: 216)
Kenapa tidak kita ulurkan tangan kita? Kenapa tidak kita kirimkan sebagaian dari rizqi kita. Kenapa kita juga tidak memahami bahwa apa yang barangkali kita benci itu hakikatnya baik dan mulia untuk kita.
Kenapa kita mengabaikan ukhuwwah islamiyah padahal orang-orang kafir itu sebagian satu dengan yang lainnya telah bersatu padu. Lihat lah di Suriah. Musuh-musuh islan dari kalangan Syiah dan zionis telah bersatu disana menggempur dan berusaha menghabiskan umat islam, Mereka datang dari Irak, Iran dan bahkan Rusia dan China pun ikut membatu memusuhi islam dan umat islam.
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu [Yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.], niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi (pembantaian) dan kerusakan yang besar (pemurtadan)” QS. Al Anfal: 73)
Ya, Allah ampuni aku yang hanya bisa berdoa kepadaMu dengan sepenuh harap. Janganlah Engaku biarkan musuh-musuhMu menghinakan hambaMu. Kuatkan mereka. Rengkuhlah mereka dalam kasih sayang Mu. Berilah ketabahan dan kesabaran atas mereka. Ya, Allah, mereka adalah anak-anak kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami. Mereka adalah saudara-saudara kami. Aku yakin Engkau sanggup dan mudah menolong mereka. Karena itu ya Allah, tolonglah mereka dari kebiadaban dan kebengisan orang-orang kafir. 
Ya Allah hancurkan pertahanan orang-orang kafir, cerai beraikanlah barisan mereka sebaliknya berilah kekuatan kepada para mujahidin, satukanlah mereka dalam barisan. Kuatkanlah mereka dalam setiap langkah menuju keridloan dan berilaj kemenangan kepada mereka. 
Ya, Allah sungguh Engkau Maha Penolong. Tidak ada yang sanggup menghalangi pertolongan Mu jika Engkau memang berkehendak untuk menolong.
Ya, Allah ampuni aku yang hanya bisa membuktikan kasih sayangku dengan saudara-saudaraku di Suriah dengan doa. Tapi ijinkan aku memohon, berilah kesempatan dan kekuatan kepadaku untuk ke sana, ke bumi jihad, bumi Syam, agar aku juga bisa merasakan penderitaan mereka. Agar aku bisa mendapatkan satu dari dua, hidup mulia atau mati syahid, 
Ya Allah kabulkan permohonanku  (AR70)


Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*