Antara ISIS, Warga Sipil, dan Paradoks Serangan Rusia

Oleh: Muhammad Pizaro*)

demo-anak-suriah-atas-serangan-udara-rusia

INVASI militer Rusia ke wilayah Suriah telah memasuki hari ke-85. Dengan dalih memerangi ISIS, Rusia mulai melancarkan serangan pada 30 September 2015.

Mengerahkan 500 tentara dan peralatan militer seperti tank, helikopter, pesawat tempur dan rudal jelajah, serangan Rusia tercatat telah menewaskan ribuan orang, termasuk wanita dan anak-anak. Para aktivis kemanusiaan menilai, serangan Rusia telah menjebak warga Suriah dalam kondisi kemanusiaan yang parah.

Dilansir AFP, Selasa malam (22/12), Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), mencatat serangan udara Rusia telah menewaskan 2.132 orang di Suriah. Dari jumlah itu, ISIS menempati sepertiga jumlah korban tewas dari serangan itu. Porsi terbesar dari serangan Rusia justru ditempati warga sipil dan kelompok yang dianggap berafiliasi kepada Al Qaeda.

Dari sejumlah data-data itu, SOHR kemudian merilis jumlah total korban tewas dari pihak sipil tercatat 710 orang, di antaranya 161 anak-anak dan 104 wanita.

Sementara itu, kelompok yang berafiliasi kepada Al Qaeda ada 824 orang. Sedangkan jumlah korban gugur di pihak ISIS ada 598 anggota.

Dari daftar di atas menunjukkan bahwa jumlah korban di luar ISIS, khususnya warga sipil justru menempati porsi terbesar sejak serangan udara dimulai pada 30 September 2015.

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, namun fakta-fakta ini menunjukkan korban paling besar dari serangan “Anti ISIS” Rusia, justru warga Suriah.

Amnesty International mencatat, akibat agresi ini sedikitnya 100 ribu orang telah melarikan diri dari Aleppo, sementara 1.000 lainnya melarikan diri sebuah kamp pengungsi di pinggiran kota Atma, Idlib.

Indikasi banyaknya korban sipil dari serangan Rusia ke Suriah memang sudah terlihat sejak serangan pertama di mana 35 warga menjadi korban di Idlib pada malam 30 September.

Bahkan serangan terbesar terjadi di Provinsi Idlib, di mana 49 warga Sipil pada 29 November meninggal dunia setelah tiga misil menghantam pasar tradisional di Ariha.

Amnesty Internasional mengklaim, temuan tersebut mengindikasikan “kegagalan serius Rusia untuk menghormati hukum kemanusian internasional”.

Rusia Targetkan Instalasi Kemanusiaan?

Sebenarnya, sejumlah aktivis kemanusiaan telah memberikan kritikan tajam kepada Rusia akibat invasi militernya di Suriah. Tercatat, selain membunuh warga sipil, serangan Rusia juga menyasar fasilitas medis dan konvoi kemanusiaan.

Pada tanggal 20 Oktober, misalnya, serangan udara Rusia juga sempat menyasar sembilan rumah sakit di wilayah Idlib, Suriah. Akibat serangan yang menimpa satu dari sembilan rumah sakit yang menjadi sasaran serangan itu, 12 orang dinyatakan meninggal dunia dan 28 orang mengalami cedera.

Sementara itu, Kelompok Medecins Sans Frontieres (MSF) mengatakan, sejak melakukan serangan pada 30 September lalu, Rusia setidaknya sudah menyerang 12 rumah sakit di Suriah. Di mana, enam di antaranya adalah rumah sakit yang dikelola oleh MSF.

MSF menuturkan, rumah sakit yang diserang tersebut berada di Idlib, Aleppo dan Hama. Menurut MSF, Rusia juga turut menghancurkan sejumlah fasilias milik rumah sakit, seperti ambulan.

Memang Rusia membantah laporan ini, namun MSF menunjukkan data bahwa 35 orang tewas, sementara 72 lainnya menderita luka-luka, termasuk dokter, perawat, staf rumah sakit dan pasien yang tewas dalam serangan udara Rusia itu.

Siapa Sebenarnya yang Disasar Rusia?

Meski mendapat perlindungan hukum internasional, relawan kemanusiaan pun tidak luput dari arogansi Rusia.

Pada akhir November lalu, pesawat-pesawat tempur Rusia menyerang konvoi bantuan kemanusiaan wilayah Aleppo yang berusaha memberikan pasokan kepada para pengungsi. Akibat serangan ini, tujuh pengemudi tewas, dan 20 truk terbakar.

Tak puas menyerang konvoi kemanusiaan di Aleppo, Rusia juga menyerang bantuan kemanusiaan yang ada di Idlib. Tidak hanya itu, truk-truk yang mengangkut bantuan kemanusiaan pun tak lepas dari serangan Rusia.

Invasi Rusia yang akhirnya banyak membunuh warga sipil sebenarnya sudah jauh-jauh hari diingatkan oleh tokoh oposisi Rusia Garry Kasparov.

Mantan pecatur dunia ini menegaskan, serangan Rusia ke Suriah hanya akan melanggengkan eksistensi Bashar Assad untuk membunuh warga sipil di Suriah.

Hal senada juga dikatakan Recep Tayyib Erdogan. Presiden Turki itu mengatakan agresi militer Rusia dengan dalih menyerang ISIS hanyalah kedok belaka. Fakta di lapangan menunjukkan situasi di Suriah bertolak belakang dengan klaim Rusia. Sebab, kata Erdogan, yang diserang dan Suriah justeru adalah kaum muslimin Suriah pada umumnya.

Dengan bahasa sindirian, Erdogan mengatakan, kini di Suriah ada pertunjukan besar, yakni drama pembantaian. Semua pihak berlomba-lomba menunjukan pertunjukan terbaiknya. Sedangkan, “Wanita, anak-anak, dan orang tua renta adalah korban dari pertunjukan tersebut!” tegasnya.

*) Muhammad Pizaro adalah Redaktur Islampos.com dan Sekjen Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*