Bantuan Midfa untuk Desa di Daerah Dekat Pertempuran

midfa 2

Suriah, Syamorganizer.com – Rabu (17/12/2014), di pagi yg cerah ini, relawan SO dan CAS akan mendistribusikn bantuan mitfa’ atau alat penghangat ruangan. Lokasi dan daerah pendistribusian sudah tentukan. Lokasinya agak sulit, apalagi lokasi tersebut berada di wilayah medan pertempuran. Kali ini relawan berangkat lebih awal dengan bertawakal penuh kepada Alloh. Baru beberapa saat relawan berangkat, tiba-tiba kabut pekat turun menyelimuti jalan, tebal sekali, jarak pandang terbatas kira-kira 20 m. Berkali-kali pak sopir bilang jayyid-jayyid. Sambil beliau terus berdzikir sang sopir mempercepat laju mobil dan mencari jalur jalan yang relatif lebih aman.

Ketika sampai tujuan, relawan sempat heran karena suasana sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Berkali-kali klakson dibunyikan, panggilan dilakukan tetap tidak ada seorang pun yang keluar dari dalam rumah. Masjid pun terkunci rapat. Kondisi seperti itu menyakinkan relawan bahwa tidak ada orang lagi yang tinggal, karena memang dekatnya daerah tersebut dengan medan pertempuran. Jalur transportasi terputus. Mobil tetap berjalan. Relawan mencoba turun dan berjalan kaki sambil mengabadikan suasana daerah itu dengan kamera sampil menungulur waktu dengan harapan ada penduduk yang keluar.

Ternyata benar sesaat kami berjalan dan mengambil gambar pemandangan daerah itu, pintu-pintu rumah mulai terbuka. Tampak para kakek nenek keluar dari rumah. Dari mereka relawan bisa mengetahui bahwa ternyata mereka khawatir kalau yang datang para penguasa jahat. Tanpa membuang waktu paket mitfa’ pun dibagikan. Kemudian relawan segera melesat keluar dari desa, dengan iringan doa dari mereka. Mereka para orang tua yang mengatakan lebih baik meninggal di rumah sendiri, dari pada susah hidup di tenda pengungsian.

Di tengah perjalanan tiba-tiba terdengar mirwahi (helikopter yang siap menghantam dengan birmil) meraung-raung berseliweran di atas mereka. Sopir semakin mempercepat laju mobil. Relawan baru mengerti kenapa saat di perjalanan berangkat dengan kabut yang tebal, sopir sering mengucapkan kata jayyid dan ucapan alhamdulillah. Di dalam mobil masih tersisa midfa. Sisa midfa’ tersebut akhirnya dibagikan pada sebuah sekolah. Sekolah yang sudah 4 thn setelah revolusi guru yang mengajar tidak digaji, setelah itu relawan melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.

Tidak seperti biasa relawan pulang lebih awal, belanja kebutuhan di pasar lalu pulang, bersih-bersih, ganti pakaian dan makan. Kemudian istirahat sambil menengok ke jendela, menikmati kota indahnya pemandangan di kota tersebut dari lantai 3. Namun, Tiba-tiba orang berteriak thoooirohhh. Thoooiroh… Abu Abdillah, salah satu relawan, segera mengambil kamera.

roket

Pesawat pembom MIG buatan rusia, memuntahkn 6 roket, sekilat cahaya di atas langit kota itu memancar dan ledakan keras merontokkan bangunan di sekitar pasar di mana para relawan biasa berbelanja setelah pulang dari mendistribusikan bantuan. Abu Abdillah terlempar, jendela rumah juga terlepas. Namun didorong ingin mengambil gambar kejadian, segera beliau bangun dan menyempatkan untuk mengambil gambar. Asap dan debu memenuhi sisi bagunan yang hancur. Sementara itu sirine ambulan memecah kesunyian kota. Seorang ibu dan bapak menjemput syahid in syaa Alloh. Sementara sekitar 7 anak-anak menderita luka serius.

“SubhanaAlloh, Ilahi Robbi kembali melindungi kami dengan pulang lebih awal. Tentara Basyar kembali kesal karena 2 kota kemarin berhasil dibebaskan penduduk. Yakni kota Waadi Dhoif dan kota Hamidiyah”, desah Abu Abdillah. “Semoga Alloh senantiasa menolong penduduk Syam amien”, sambungnya dengan doa. [Abu Abdillah]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*