BETA PUNG BAPA PIARA DI SURIAH

IMG-20141223-WA0015
Mungkin bahasa Ambon ini adalah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan relawan SO dan CAS dengan Haji Hasan. Beliau adalah seorang tokoh yang sempat dikunjungi oleh relawan tersebut pada Jum’at (19/12/2014).

Bapa piara artinya 2 orang yang tidak pernah saling bertemu sebelumnya, tidak saling kenal dan tidak ada ikatan darah atau kekerabatan sama sekali, namun setelah bertemu dan saling mengenal, mereka akan seperti saudara kandung sendiri, seperti anak atau orang tua sendiri. Saling melindungi, menyayangi bahkan bisa tinggal bersama.

Semenjak kedatangan relawan di bumi Suriah, H. Hasan-lah yang melihat dan mengurusi mereka siang dan malam, mengawasinya bak bapak mereka sendiri. Beliau sanantiasa mengecek apakah relawan sudah makan siang ataukan belum. Bahkan digelapnya malam kadang beliau datang hanya untuk memastikan bahwa relawan baik-baik saja.

Beliau benar-benar menganggap para relawan seperti anak sendiri. Terkadang para relawan merasa diperlakukan seperti seorang anak, anak beliau saat kecil. Diajak ngobrol dan bercanda. Mengajari para relawan walau hanya sekedar menghidupkan dan mematikan kompor secara aman. Mengajari mencuci piring dan membuang sampah yang benar supaya saluran air tidak macet. Mengajari cara membersihkan dan menghidupkan mitfa’ dan seabrek tetek bengek yang lainnya. Para relawan berusaha memperhatikan semuanya satu demi satu, sebagai wujud penghormatan kami kepada beliau.

Diam-diam para melihat cara beliau melihat para relawan saat tidur. Saat beliau mengelilingi rumah dari lantai satu sampi tiga, dari kamar ke kamar, beliau melihat deteil satu demi satu. Yang membuat relawan terheran adalah para relawan ini melihat mutiara-mutiara bening mengalir dari sudut mata biru beliau. Sambil berucap istighfar dan menghela nafas dalam-dalam. Banyak pertanyaan yang menggelayut di kepala para relawan. Apa sebenarnya yang beliau rasakan dan pikirkan, sehingga sampai sering berbuat seperti itu? Hal tersebut akhirnya terjawab hari ini Jumat (19/12/2014) saat para relawan silaturahmi kami.

H Hasan, lahir 75 tahun yang lalu. Masa mudanya dihabiskan untuk melanglang buana, menjadi seorang sopir. Seluruh negara Timur Tengah pernah beliau jelajahi. Mulai dari Iraq dan Syria, Kuwait, Bahrain, seluruh Uni Emirat Arab sampai Libia pernah beliau lalui. Beliau hidup bahagia dengan istri dan 9 anak yang Alloh karuniakan kepadanya. Sampai revolusi 13 maret 2011 itu terjadi. Suasana saat itu dirasa oleh keluarga H. Hasan bak kiamat. Keguncangan terjadi di seluruh bumi Suriah, termasuk di tempat beliau tinggal.
Srigala liar tentara Basyar Assad mengoyak 7 permata penyejuk mata dan hatinya, menyiksa dan kemudian membunuhnya.
H. Hasan berucap, “Yang paling sakit adalah saat Muhammad anak yang paling beliau sayangi diikat di hadapan beliau, ditusuk perutnya, dikeluarkan usus dan jantungnya, dicongkel matanya”. Beliau mulai menangis sampai cerita itu. Istrinya memegangi tangan beliau, sambil terus beristighfar. “Tentara Basyar berucap,’Ini adalah akibat kalian membantu orang Sunni (Islam). Ini akibat kalian berpaham seperti anjing Usamah ibnu Ladin. Ini akibat kalian tidak taat dengan Basyar Assad'”. Kemudian… Door…door… Timah panas menembus kepala Muhammad. Pecah kepalanya. Darah tersembur, mengantar Muhammad ibnu H. Hasan menjemput syahadah in syaa Alloh. Semoga 7 putra terbaik menjadi syafaat bagi kedua orang tuanya.

Demikianlah penyebab mengalirnya airmata orang tua itu. Ternyata rumah yang ditempati relawan saat itu (saat relawan silaturahmi) adalah rumah seorang insinyur Muda, Muhammad putra dari H. Hasan, yang terbunuh saat revolusi 4 tahun yang lalu. Rumah ini sekarang menjadi gudang bantuan kemanusiaan. Bangunan 3 lantai yang seluruh kaca bangunannya telah renyak pecah. Di sisi kanan kiri bangunan terdapat lubang-lubang besar dan tembok yang luka-luka di sana sini, menjadi saksi bisu bagaimana dasyatnya bom-bom birmil, dengan ratusan kilo TNT, benar-benar mengarah dan menghajar bangunan ini. Namun tak satupun yang pernah tepat mengenai bangunan, paling dekat dari birmil jatuh berjarak 10 meter dari sisi depan bangunan. Meskipun demikian kerusakan terjadi pada sebagian besar dari bangunan walau tidak rusak seluruhnya. Kini bangunan ini masih dapat ditempati dan dimanfaatkan.
“Semoga menjadi pahala yang terus mengalir bagi Insinyur Muda pembela umat Islam, Muhammad Ibnu H. Hasan, menjadi pahala bagi seorg lelaki kuat dan tabah, Bapa Piara Kami di Suriah, Bpk H Hasan semoga Alloh menjaga beliau”, begitu harapan dan doa relawan kepada keluarga H. Hasan [Abu Abdillah]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*