Catatan Relawan # 10: Saat RSL. Salma Kewalahan Menangani Pasien

Minimnya tenaga medis membuat kewalahan saat pasien yang datang ke rumah sakit Salma meningkat. Apalagi jika ada korban perang terkena mortar yang datang dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Terkadang dalam situasi darurat seperti ini menuntut yang bukan berlatar belakang medis turun membantu. Abu Uday misalnya, beliau bukan seorang dokter atau perawat tapi pernah terlihat menyuntik antibiotik ke seorang pasien. Ketika ditanya, “Apakah pernah melakukan sebelumnya?”. Yang menjawab justru si pasien, “Saya sudah berkali-kali disuntik dia. Alhamdulillah saya tidak apa-apa bahkan bertambah baik”. Terlalu gegabah memang tapi begitulah dalam kondisi perang seseorang dituntut untuk multi talenta agar bisa bertahan hidup.

Demikian pula para relawan Syam Organizer dan HASI, terkadang harus membantu dokter dan perawat. Tidak hanya membantu menterjemahkan tim medis yang tidak mahir bahasa Arab, tapi juga membantu pekerjaan medisnya. Maka untuk itu, dr. Abu Sholih, dokter yang sudah dua kali bertugas di Suriah, memberi pembekalan kepada relawan lain yang tidak berlatar belakang medis tentang dasar-dasar pertolongan medis pertama untuk korban luka.

Selain ada jadwal khusus, yaitu ba’da subuh untuk dr. Abu Sholih menyampaikan teori-teori kesehatan, di waktu tidak ada pasien beliau juga bermurah hati memberi pelajaran langsung di ruang darurat. Memberi pelatihan dan stimulasi menangani korban luka. Mulai cara melindungi diri dari penularan penyakit via darah, membersihkan luka, menyiapkan infus, dan mengenalkan alat-alat medis lainnya. Alhamdulillah semoga pelajaran dan pelatihan ini bermanfaat untuk membantu saudara-saudara kita di Suriah. Amin.

Rep: Relawan Syam Organizer
Red: AR70

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*