Catatan Relawan # 14 : Pengungsian di Jabal Turkman

Jabal Turkman, Senin (28/10/2013) – Syamorganizer.com – Mobil yang biasa membawa kami bertugas selama di Suriah penuh dengan barang bantuan. Ada selimut tebal, susu untuk balita, jilbab, pakaian dalam, dan solar. Siang ini kami bertolak ke kemah pengungsian di sekitar Jabal Turkman.

Mobil kami yang disupiri Khol Nizar melaju kencang menyusuri jalan sempit berkelok. Seperti biasa, sepanjang perjalanan kami menikmati panorama yang eksotik. Namun selalu saja ‘keindahan’ Syam berubah menjadi keprihatinan ketika melihat tenda-tenda putih yang berjajar di antara pepohonan Pinus. Camp pengungsian yang jauh dari layak untuk ditempati.

Setelah melewati camp pengungsian bertenda seragam dan teratur, mobil kami berhenti di camp yang tendanya berbeda-beda. Kedatangan  kami disambut anak-anak yang sepertinya sudah mengenal mobil kami. Wajah mereka yang berdebu tersenyum berseri-seri. Saat kami menghampiri, mereka tak sungkan menghulurkan tangan dan mengucapkan salam. Mungkin mereka sudah akrab dengan wajah melayu kami.

Terbukti seorang anak bertanya, “Wen Abu Fauzan?”. Ternyata mereka teringat relawan Syam Organizer pertama sehingga ditanya keberadaannya.

Kami dan beberapa pemuda setempat menurunkan barang bantuan ke dekat dr. Romi berdiri. Para orang tua berkeliling mengitari dr. Romi yang mengatur agar bantuan tersalur merata. Sambil mencatat kebutuhan mendesak mereka yang akan dibawa pada kunjungan berikutnya. Di antara kebutuhan yang mereka ajukan selain yang rutin kami bawa adalah tanur (tempat pemanggang roti) dan midfa’ (alat penghangat ruangan).

 

Selagi dr. Romi membagikan bantuan untuk orang tua, giliran kami membagikan jatah anak-anak. Meski tak seberapa mereka gembira berebut hadiah.

Sebelum pulang, kami berkesempatan melihat kondisi tenda pengungsian. Kami tak bisa membayangkan penderitaan mereka yang bertahan menempati camp ini setahun lamanya. Tenda plastik, dan alas tikar pasti tidak melindungi tubuh mereka dari suhu dingin yang kini mencapai 10 derajat celcius. Padahal dua bulan ke depan salju akan turun menutupi tenda-tenda mereka.

Kami meninggalkan camp dengan keprihatinan dan haru. Langkah kepergian kami diiringi teriakan anak-anak, “Ilal liqo…!” Dan “Indonesia!”  berulang-ulang hingga mobil kami bergerak dan hilang ditikungan. Ya, setelah bergantung kepada Allah, mereka berharap perhatian saudara-saudara mereka.
Rep: Relawan Syam Organizer
Red: AR70

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*