Catatan Relawan # 16: I Love Pizza

Sore itu ditanggal 28 oktober menjelang malam, setelah perjalanan melelahkan untuk penyerahan bantuan di tenda pengungsian Jabal Turkman, tiba-tiba kami berhenti di sebuah rumah yang pada bagian depannya tertulis MSF. Tidak lama kami memandang kepanjangan dari tulisan tersebut yang berarti medisines sans frontiers, kami tim relawan syam organizer dan HASI ke 9 langsung diminta masuk ke dalam rumah. Ada yang berbeda dengan orang-orang yang biasa menyambut kami di dalam rumah, ada wajah-wajah bule orang barat, ada juga cina, ada wajah latin dan wajah arab.

Akhirnya setelah masuk ke ruang tamu dan diperkenalkan oleh dr Romi selaku tuan rumah kami di suriah, akhirnya kami mafhum inilah tim medis dokter lintas batas atau doctor without border yang dalam bahasa perancisnya dikenal sebagai MSF.

MSF merupakan organisasi kemanusiaan profesional yang didirikan oleh dokter-dokter perancis untuk membantu dalam bidang kedokteran di negara-negara yang sedang dilanda kekacauan, perang maupun bencana alam masif di seluruh dunia. Organisasi ini sangatlah profesional dan bekerja dengan etika kedokteran yang terstandar di seluruh dunia. Tim mereka terdiri dari dokter spesialis bedah, spesialis THT, spesialis anestesi, dokter umum, perawat, apoteker, penerjemah bahasa inggris ke arab fusha/ amiyah dan tenaga supporting lainnya yang mendukung operasional rumah sakit seperti koki, penjaga keamanan, administrator rumah sakit serta pembantu rumah tangga.

Setelah diperkenalkan oleh dr Romi, kami mengenali mereka ternyata ada seorang dokter umum wanita yang berasal dari Italia dan seorang dokter pria yang berasal dari Brazil, seorang perawat wanita dari Perancis, seorang apoteker dari Malaysia dan penerjemah dari suriah. Mereka bercerita bahwa ternyata esok hari mereka sudah akan pulang ke negaranya masing-masing setelah 5 bulan bekerja dan akan digantikan tim berikutnya, sedangkan dokter bedah,THT dan spesialis lainnya sudah terlebih dahulu pulang.

Selain menjalankan pengobatan, tindakan operatif bedah, mereka juga menjalankan program imunisasi untuk anak-anak suriah di desa-desa sekitar tempat mereka tinggal di dekat perbatasan Turki. Senang rasanya menjadi tenaga medis yang memahami bahwa di negara yang sedang perang, pastilah tidak ada program perlindungan kesehatan anak-anak seperti imunisasi hingga pemahaman itu menggerakkan mereka untuk datang ke wilayah-wilayah yang dilanda perang seperti Suriah. Padahal penyakit-penyakit menular maupun tidak menular yang dapat dicegah dengan vaksinasi atau imunisasi,seperti polio, TBC, hepatitis, difteri, pertusis maupun tetanus pasti berkembang dengan cepat.

Saya membayangkan di Indonesia, negara dengan sistim pemerintahan yang masih berjalan pun masih dijumpai penyakit-penyakit seperti saya sebutkan di atas, apalagi di negara suriah dalam kondisi perang yang berpenduduk 20 juta orang lebih. Terlepas dari segala pro dan kontra imunisasi.

Saya selaku dokter Muslim merasa senang dengan kabar ini, saya cukup yakin ketika tim MSF menjunjung profesional dan etika kedokteran mereka pasti mempertimbangkan bahwa mereka sedang berada di dalam sebuah negara arab dengan mayoritas beragama Islam sehingga halal maupun haram menjadi hal yang vital bagi penduduknya.

Kunjungan kami saat itu merupakan kunjungan silaturahim informal antara Masyfa Maydani Salma dengan RS MSF, kunjungan non formal untuk mempererat kerjasama yang sudah terjalin, karena banyak dari pasien korban perang yang sudah terstabilisasi dari RS lapangan Salma kami rujuk ke RS MSF untuk mendapatkan penatalaksanaan medis lebih lanjut.

RS Salma merupakan RS terdepan dengan garis depan musuh sekaligus terletak di medan perang, 1 menit seawal mungkin ikhtiar medis berupa stabilisasi terhadap pasien bisa menentukan hidup-mati maupun cacat-tidaknya seorang pasien korban perang selain dari Qodarullah yang sudah ditetapkan tentunya. Itulah salah satu alasan utama mengapa kami tim medis HASI bersama tenaga medis RS Salma bertahan di tengah gempuran musuh dan risiko membahayakan lainnya.

Disela pembicaraan antara dr Romi dan ketua MSF dr silvia, kami disuguhi teh manis panas. Sambil menikmati teh manis, kami baru menyadari ternyata tim MSF sedang makan malam saat kami datang karena tepat di atas meja depan kami sakaligus meja kerja mereka masih terdapat loyang besar berisi tumpukkan kepingan pizza kecil berwarna coklat dengan topping sossis tentunya. Karena bahasa yang digunakan dalam percakapan dr Romi adalah bahasa Inggris, sedangkan para ustadz kita dari Indonesia ini mumtaz dalam berbahasa arab jadilah para ustadz kita perhatiannya menuju kepada hal-hal positif selain obrolan Bahasa Inggris. Ternyata makanan di atas meja menjadi bagian positif itu.

Bagai petir di siang bolong dan mungkin karena senangnya ketemu bule, tiba-tiba salah seorang dari tim kami berujar dengan mantap dalam bahasa inggris, I LOVE PIZZA. Maklum, setelah seharian perjalanan dan hanya sempat makan siang separuh kentang rebus, perut dan mata kami tidak bisa berbohong, ditambah keinginan untuk berkomunikasi Bahasa Inggris dengan orang bule tapi ndak kesampaian, terceletuklah I LOVE PIZZA. Tersentak kaget, seluruh tim HASI dan SYAM ORGANIZER. Serempak menegok ke arah pizza sambil tertawa. Wah, ternyata ustadz kita yang satu ini mewakili kondisi perut dan benak dalam kepala kami, alhamdulillah ketua medis MSF dr. Silvia dari Genoa Italia merespons cepat dengan menyodorkan loyang pizza dan menawarkannya kepada semua tamu yang datang sambil bercanda bahwa ini pizza Italia dengan bahan dari Suriah, mantaps, lazid jiddan. Untuk menutup kecanggungan kami dan juga kembali mencairkan suasana, dr. Romi berujar saya juga kangen dengan makanan seperti ini, dia teringat memori selama 7 tahun dia sering berhadapan makanan seperti ini ketika sekolah spesialis di Inggris.

Alhamdulillah, ternyata setelah celetukan I LOVE PIZZA, suasana justru menjadi hangat, ada yang berkomunikasi dengan apoteker dari Malaysia dengan bahasa melayu campur inggris, ada yang saling menceritakan pengalaman lapangan dengan sesama dokter dengan bahasa Inggris dan ada juga yang sepatah dua patah kata mencoba berkomunikasi dengan menyebut kota-kota eropa tempat bernaung klub sepak bola terkenal di benua eropa. Maklum, karena bule – bule ini dari Italia dan Perancis, satu persatu kami sebutkan klub yang kami ketahui ada yang berseloroh Bordeaux, Marseiles, Milan atau mungkin Persebaya.

Di sela-sela obrolan yang terjadi di ruangan itu, Abu Yazid mencoba bertanya kepada relawan Malaysia keturunan China yang berkhidmad di MSF tentang seberapa sering dentuman yang didengar dekat markas MSF?
Relawan itu menjawab, hanya sekali sebulan. Dan jaraknya hanya 400 meter dari markasnya. Itupun sudah membuat Tim mereka harus berlari keruang basement untuk menyelamatkan diri.

Setelah agak lama mengobrol, keramahan tim MSF ini tidak hanya berhenti sampai di PIZZA dan teh saja, tetapi mereka kembali menyuguhkan roti bakar sandwich dengan isi mayonnaise lezat, ternyata orang-orang MSF dapat membaca muka-muka lusuh, lelah dan kelaparan kami sejak dari datang, sehingga semenjak awal mereka sudah mempersiapkan makanan-makanan tersebut.

Silaturahim kami di markas MSF malam itu, melahirkan kenangan dan pelajaran tak terlupakan. Ada canda, tawa dan kejengkelan dalam hati yang ternyata berbuah manis. Ada perkenalan dengan tenaga profesional berbeda negara dari berbagai belahan benua. Namun, ada juga pelajaran berharga dari pekerja sosial MSF yang pada dasarnya berlatar belakang Nasrani atau bahkan atheis itu. Yang utama adalah mereka melakukan pekerjaan dan bertindak menolong sesama manusia di tempat yang paling membutuhkan (most needed), mereka berfikir, mereka bergerak dan menggerakkan serta menghadapi segala risiko. Tidak seperti beberapa individu, organisasi kemanusiaan maupun negara berlatar belakang Islam yang hanya bisa menganalisa dan berbicara tanpa tindakan atau bahkan melarang bantuan bagi saudara-saudara yang seakidah dengan mereka. Padahal waktu yang mereka habiskan hanya untuk analisa, konferensi maupun rapat-rapat tanpa tindakan nyata, mempunyai arti pembiaran terhadap kematian ratusan penduduk Suriah setiap harinya.  Wallahualam Bishawab. 

Rep: AS/HASI Tim 9
Red: AR70

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*