Catatan Relawan # 18: Rihlah di Bumi Ribath

Kemarin, Kamis, (31/10/2013) bada Dhuhur sebagian tim Hilal Ahmar Society Indonesia 9 dan Syam Organizer 2 mendapatkan kesempatan yang langka. Kali ini tim diajak dr. Romy melakukan kunjungan ke area garis depan. Sebelumnya sebagian tim juga diajak ke area serupa di lain tempat. Hal ini dimaksudkan agar para relawan benar benar bisa menjiwai kondisi lapangan yang menjadi ranah tugasnya.

Bersama dr. Romy, 3 orang tim dan Abu Nidza, rombongan akhirnya berangkat. Mobil yang mengantar tim tidak seperti biasanya. Opel Blazzer yang berbody tangguh namun sudah diubah menjadi ambulance. Mobil sejenis ini memang handal untuk melaju kencang di areal perbukitan yang terjal dengan sejumlah tikungan yang tajam. Pas dengan kondisi alam di Suriah. Maka alhamdulillah, di tangan sopir hebat seperti Abu Nidzar, guncangan di perjalanan relatif bisa diredam. Justru tim disuguhi berbagai pemandangan yang mencekam dan menyesakkan dada. Puluhan gedung yang menjadi pemukiman warga luluh lantak akibat birmil dan roket roket yang ditembakkan pesawat MiG serta tank. Kerusakan infra strukturnya demikian parah. Sedikit sekali warga yang masih bertahan di sana dengan keterbatasan hidup yang serba kekurangan. Warga lainnya mengungsi, entah kemana. Realita ini hanyalah gambaran kecil dari sekian besar kedzoliman thoghut Bashar yang bisa disaksikan di semua tempat di Suriah.

 Dikatakan mencekam karena perjalanan ini harus melewati area terbuka yang berbatasan dengan desa-desa Nushoiriyyah. Menurut warga, di sanalah kekuatan Syiah berkumpul dengan dukungan penuh tentara tentara Bashar. Sehingga seringkali mobil melaju kencang sambil sesekali mengambil jalan alternatif dibalik bukit yang bisa bermanfaat sebagai cover dari pantauan mereka.

Setibanya di lokasi, tim disambut hangat oleh adalah warga setempat. Sajian khas penduduk Syam pun dikeluarkan. Mulai minum teh panas, kopi hangat, air putih dingin hingga buah anggur yang baru dipetik. Tak lupa obrolan ringan memeriahkan acara ini hingga keluhan keprihatinan tentang kondisi di sana. Maka setelah saling memberikan nasehat, dr. Romy pun memberikan bantuan uang sekian ratus dolar Amerika. Bantuan ini untuk kebutuhan harian mereka.

Di akhir kunjungan, rombongan diajak untuk melihat pos penjagaan terdepan yang ada di atas bukit. Di tempat inilah, seakan menjadi jantung pertahanan warga Muslim sekitar. Demikian strategis karena jaraknya yang begitu dekat dengan area musuh. Hingga seorang yang mengantar tim mengatakan bahwa kegaduhan obrolan mereka bisa terdengar di sini. Saat ditanya tim, berapa jumlah personil penjaga di tempat ini, ia bilang hanya 2 orang jika siang dan bila malam hari hanya 4 orang. Masya Alloh. Terbayang dalam benak tim, betapa beratnya tugas para penjaga ini. Tapi mereka ikhlas. Maka cukuplah apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan diantara mata yang tidak tersentuh api neraka adalah mata mereka, mata Murobith fie Sabilillah.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*