Catatan Relawan #6 ‘Derita Anak Pengungsi Suriah’

Syamorganizer.com – Kekejaman Bashar Asad dan pengikutnya yang terlaknat tidak hanya sekedar membunuh kaum muslimin yang tak berdosa dan tidak hanya sekedar meluluhlantahkan kehidupan masyarakat Suriah dalam lini prekonomianya, sosial dan kulturalnya. Kekejian itu menjadi sempurna ketika kita menyaksikan dan merasakan derita anak pengungsi suria.

Hati mana yang tak terluka, siapa yang tak meneteskan air mata ketika melihat anak-anak yang begitu polos dan tak berdosa tidak mendapatkan hal yang semestinya didapatkan, seorang anak yang mestinya mendapatkan pelanyanan, pendidikan, dan kebutuhan harian dan itu semua luput dari mereka, derita itu kami rasakan ketika kami berkunjung di salah satu tempat yang bernama Ainulhur. Kami dapati anak-anak yang sungguh terlantar dan tidak terurus. Wajah kurus, memelas, kering kerontang dan pakain yang lusuh ditambah lagi keadaan mereka yang serba terbatas dan kurang, menjadikan kami berempati dan meneteskan air mata. Hati ini terasa pedih ketika mereka meminta-minta dan berebut hewan Qurban yang akan kami bagikan. Sungguh fenomena yang meyakitkan karena hal itu terjadi di bumi Syam, bumi yang penuh berkah.

Di tempat yang lain kami dapati ada seorang anak yang bernama Ahmad berumur 8 tahun yang memakai baju ala kadarnya dan tidak terurus layaknya anak-anak kaum muslimin di belahan bumi lain. Dia menangis dan meminta mainan saat pembagian daging Qurban, dia berkata “ya ammuh” berikan aku mainan karena di rumahku tak ada satu mainan pun yang dapat kami mainkan”. Sungguh permintaan yang tidak bisa kami turuti mengingat kami hanya membawa daging qurban untuk dibagikan.

Ketidakmampuan kami membahagiakanya membuat kami sedih sepanjang perjalanan pulang karena permintaan itu adalah ringan, mudah dan tak bernilai namun kami tidak bisa memberikanya. Ya Allah ampunilah kami atas ketidak sanggupan ini.

Sama dengan kisah di atas, ketika kami mengunjungi tempat pengungsian anak-anak di Hambusyiyyah ketika kami datang kami dikerumuni anak-anak yang begitu riang dan gembira. Kami datang membahagiakan mereka. Kami membagikan daging qurban dan membagikan mainan anak-anak untuk para pengungsi yang di Hambusyiyyah. Karena terbatasnya jumlah dan jenis mainan pembagian itu tidak merata dan tidak sesuai dengan keinginan mereka, sehingga saat pembagian itu, kami mendengar tawa dan tangisan. Mereka tertawa karena senang mendapatkannya dan menangis karena tidak mendapatkanya dan tidak menyukainya.

Salah seorang anak yang menangis itu meminta dan berkata,“Ya ammu aku minta sesuatu seperti dia!”. Serentak hati kami pilu dan tersungkur malu atas ketidakmampuan dan ketidakberdayaan kami, ya Allah ampuni atas ketidakberdayaan. Hati kecil ini ingin membahagiaan mereka namun beginilah keadaan kami, semoga Allah menjaga meraka dan memberikan kebahagiaan yang telah hilang dan luput dari kehidupan mereka. 

Lain daripada kisah di dua tempat di atas, kami mendatangi sebuah desa yang bernama Syaturiyyah. Kami temukan banyak anak-anak pengungsi Suriah, kami terharu ketika melihat keadaan mereka, hati kami bahagia dan bersyukur kepada Allah ketika ada seorang anak yang bernama Barro’ berusia 12 tahun dia berujar, ‘ya ammuh kami pergi dari tempat kami (Salma) atas dasar tauhid dan benci kepada kekufuran.’
Subahanallah!! hati sedih dan rasa pilu ini terobati seketika begitu mendengar perkataan si bocah tadi.

Begitulah gambaran derita anak pengungsi syuriyah yang kami jumpai di ainul hur, hambusyiyyah dan syaturiyah. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Wallahu Musta’an.

Rep:Abu Hunaifah
Red: AR70

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*