Di Musim Dingin Suriah Cincin Mungil ini Dulu Dik yang Kakak Berikan

IMG-20141122-WA0001
Sudah lama saya mendakwahi kakak perempuan saya, semenjak SMK kelas 2. Ketika itu kakak saya bekerja di Jakarta, dari mulai surat, buku, majalah kaset cd dan lainya tidak membawa dampak yang signifikan bagi perubahan kakak saya. Ingan rasanya saya mendakwahi keluarga terutama kakak yang terbiasa memakai celana jeans dan kaos seperti remaja yang lain yang tiggal di ibukota. Saya terbiasa berantem dengan kakak karena ngeyel-ngeyelan (bertengkar-red). Saya tahu kakak saya punya banyak kelebihan dari mulai pintar memasak sampai menjahit. Kemudian di antara sifat yang menonjol yaitu lebih mementingkan orang lain dibanding keluarganya. Saya hanya bisa berdo’a kepada Allah supaya segera menyempurnakan dienya dengan memakai hijab syar’i.

Semua upaya itu saya lakukan terus menerus, sampai akhirnya hampir putus asa mendakwahi beliau karena sudah 6 tahun lebih tidak ada perubahan. Kala itu saya sedang tugas di suatu pesantren. Ketika i’tikaf saya berdoa kepada Allah agar segera memberi hidayah kepada kakak saya. Di sisi lain saya terbiasa mendakwahi orang lain yang lebih membutuhkan, alhamdulilalah walhasil beberapa akhwat tergugah mengenakan jilbab. Akan tetapi kebalikan dengan keluarga saya tambah sulit diatur karena masalah ekonomi seperti keluarga pada umumnya. Tetapi hal itu terus saya jalani dengan fasta’inu ala shobri washolah.

Tepatnya ketika bulan-bulan akhir saya menjalani pengabdian di pesantren, suatu waktu  saya menerima telepon dari kakak saya. Walaupun saya sering berantem dengan dia tapi setiap dia curhat, saya selalu setia mendengarkan dan menyimak dengan baik. Kala itu bak tersambar petir di siang bolong kaget plus senang karena kaka minta di beli’in hijab syar’ie. Tanpa pikir panjang saya langsung mencari pinjaman pada salah seorang ustadz yang terkenal akan kedermawananya, dan saya yakin beliau akan meminjamkan kepada saya.

Tidak selang lama beliau masuk  kemudian keluar dengan membawa uang Rp 1.500,000,- langsung saya belanjakan di distro fashion Islam sukoharjo. Alhamdulillah kakak saya sekarang memakai hijab syar’ie. Kemudian saya mengajak dia tinggal di lingkungan yang cukup islami untuk bekal dia nikah nanti. Tak disangka antusias dia membaca buku dan belajar ilmu syar’ie saya akui cukup keras, mengalahkan saya dalam melahap buku-buku baru.

Ketika dia membaca menjadi ahli tauhid di akhir zaman terbitan granada mediatama dan juga membaca berita-berita dari dari situs-situs islam, semakin sadar dia bahwasanya dia punya saudara di Suriah yang harus segera ditolong. Apa boleh buat, penghasilan saya dan kakak kala itu hanya cukup untuk makan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tapi kami punya komitmen dan cita-cita, bahwa kita harus memberikan apapun yang kita bisa.

Waktu terus berjalan dan kakak saya menikah dengan seorang pria yang sholeh dan tinggal di suatu kota. Tidak ambil pusing ketika ada peluang dia menelpon, “Hanya cincin mungil ini dulu dik yang kakak bisa berikan di musim dingin ini, insya Allah selanjutnya kakak bismillah ingin istiqomah untuk menabung buat Suriah walau hanya beberapa rupiah dalam setiap bulan,” katanya.

Alhamdulilah, yaa Allah…mudah-mudahan Allah menjaga keistiqomahan kakak dan keluarga saya untuk selalu berlomba-lomba dalam menabung tabungan yang abadi untuk Negeri Syam yang mana malaikat membentangkan sayapnya dan mendoakan keberkahan Bumi Syam. [akhukum fillah]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*