Dibutuhkan US$300 juta untuk Memperbaiki Akses Pendidikan Anak-anak di Timur Tengah

anak-anak Suriah kehilangan sekolah

Badan PBB yang menangani anak-anak (UNICEF) menyebutkan ada sekitar 13,7 juta anak yang putus sekolah di wilayah Timur Tengah. 40% dari mereka mewakili anak-anak di Suriah, Irak, Yaman, Libia dan Sudan. Data tersebut dihimpun dari sebuah laporan bertajuk Education Under Fire. Lembaga itu juga menyebutkan jumlah itu akan terus bertambah lantaran ribuan sekolah hancur akibat konflik yang berkepanjangan. Bahkan terkini menunjukkan hampir 9.000 sekolah di Suriah, Irak, Yaman, dan Libia tidak bisa digunakan.

Di Suriah konflik yang terjadi sejak tahun 2011 telah menimbulkan kecemasan dan trauma kepada anak-anak usia sekolah. Lembaga PBB untuk Anak-anak (UNICEF) melaporkan dari 4.200 gedung sekolah yang ada di Suriah, lebih 20 persennya hancur. Sisanya sebagian digunakan sebagai tempat penampungan pengungsi dan selebihnya dijadikan markas oleh para pihak yang bertikai. Lebih dari 50.000 guru tewas atau terpaksa mengungsi. “Jumlah ini mencakup separuh dari jumlah guru keseluruhan di Suriah”, tutur Unicef.

”Imbas konflik yang menghancurkan dirasakan oleh anak-anak di kawasan. Bukan hanya kerusakan fisik pada sekolah-sekolah, melainkan rasa putus asa yang dirasakan satu generasi anak-anak usia sekolah yang melihat harapan dan masa depan mereka hancur,” kata Peter Salama, direktur Unicef di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Salama juga mengatakan imbas tersebut juga dirasakan oleh para guru. Hal itu disebabkan oleh penculikan murid, guru dan staf pendidik telah menjadi hal biasa. Karenanya, ribuan guru meninggalkan pekerjaanya karena resiko yang besar.

Untuk memperbaiki akses pendidikan bagi anak-anak di kawasan Timur Tengah dibutuhkan tambahan dana senilai US$300 juta tahun ini.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*