Gempuran ke Homs Terus Berlanjut, Warga Sipil Terancam Kelaparan

Homs – (Syamorganizer.com) – Meskipun sudah memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah, pasukan rezim tirani Bashar Al Asad dan Syiah Hizbullah tidak menghentikan gempurannya ke sejumlah wilayah yang terkepung di Homs. Hingga hari Rabu (10/7/2013), gempuran berturut-turut tersebut telah memasuki hari ke-12.
Akibat gempuran setiap hari dengan berbagai jenis rudal dan artileri tersebut, pejuang Suriah dan, khususnya warga sipil, tidak bisa bepergian keluar rumah. Tak ayal, persediaan kebutuhan pokok semakin hari semakin menipis, sementara pasokan bahan pokok dari luar Homs terputus total.
Aktivis indepnenden Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan, Rabu, bahwa anak-anak Homs yang mengalami gempuran intens selama 12 berturut-turut itu menderita kekurangan bahan makanan yang sangat menghawatirkan pada awal bulan Ramadhan ini. Nyawa mereka dan warga lainnya terancam akibat kelaparan.
Seorang ibu Suriah menuturkan kepada saluran berita televisi ‘alarabiya’ bahwa dirinya tidak mempunyai makanan pokok untuk anaknya kecuali hanya beberapa butir gandum yang hampir habis. “Saya menyeru ummat Islam untuk membantu rakyat Suriah” serunya.
Baybars At Talawi, salah seorang aktivis, menyebutkan  bahwa di Homs terdapat 14 daerah yang dikepung pasukan kejam Bashar Al Asad sejak 400 hari lalu. Aliran listrik dan air terputus, sementara bahan kebutuhan pokok sangat sulit untuk masuk ke daerah-daerah tersebut.
Seorang warga Homs mengatakan kepada BBC bahwa pasukan Asad dan Hizbullah pada awal bulan Ramadhan ini semakin gencar melancarakan serangannya, “Gempuran dan serangan belum berhenti. Begitu juga dengan tembakan-tembakan rudal, terlebih beberapa hari terakhir ini” katanya.
Rumah-rumah dan toko-toko milik warga terbakar. Sejumlah gedung-gedung tinggi juga hancur, luluh-lantak.
Seorang saksi mata lainnya menjelaskan bahwa Homs terbagi menjadi tiga bagian. Wilayah yang berada di dalam kepungan pasukan rezim lebih dari satu tahun, wilayah yang berhasil dibebaskan dan wilayah yang dihuni loyalis rezim Bashar Al Asad. “Harga bahan pokok di Homs sangat mahal. Bahkan, bahan-bahan tersebut, seperti air minum, obat-obatan dan bahan pokok lainnya, menghilang di wilayah-wilayah yang terkepung,” jelasnya.
Sementara itu, melihat kepungan dan gempuran yang terus berlanjut dan juga makanan kebutuhan pokok tidak bisa didapat, sejumlah ulama Homs di laporkan mengeluarkan fatwa bolehnya makanan daging kucing sebatas untuk menyambung hidup. Ulama Homs menilai bahwa situasi di Homs adalah situasi darurat yang membolehkan memakan makanan yang haram.
Perlu diketahui, di Homs masih terdapat kurang lebih 800 kepala keluarga yang terkepung di tengah gempuran pasukan rezim dan Syiah Hizbullah. [sumber:hunef/kiblat.net]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*