Hukum Ghibah terhadap Orang Kafir

Syamorganizer.com – Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Ghibah itu tidak diperbolehkan, baik kepada orang mukmin, kafir, atau fasik. Kecuali jika di dalamnya ada maslahat yang nyata. Adapun jika untuk bersenang-senang di atas penderitaan manusia, maka hal tersebut tidak diperbolehkan.”
Jawaban Syaikh Albani ketika ditanya tentang hukum mengghibah orang kafir dan musyrik. Beliau mengatakan, “Secara umum boleh melakukan hal tersebut. Tidak boleh jika terdapat dampak negatif setelahnya.”
Al-Ghazali ditanya tentang ghibah kepada orang kafir, maka beliau menjawab, “Jika dilakukan terhadap orang Islam, hal tersebut memiliki tiga kesalahan: Menyakiti, meremehkan ciptaan Allah, karena Allah pencipta prilaku para hamba, dan menyia-nyiakan waktu yang tidak ada gunanya.” Perbuatan pertama haram. Perbuatan kedua makruh. Perbuatan ketiga bertentangan dengan sifat utama.
Adapun ghibah terhadap ahlu dzimmah, seperti halnya terhadap orang Islam yang dilarang untuk menyakitinya. Karena Islam menjaga kehormatan, darah dan hartanya.
Ibnu Hibban menyebutkan sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَمَّعَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا فَلَهُ النَّارُ
“Barang siapa yang memperdengarkan (sesuatu yang menyakitkan) bagi orang Yahudi dan Nasrhani, maka dia akan mendapatkan neraka.”
Hadis ini berkaitan dengan orang kafir yang berada dalam perlindungan Islam (ahlu dzimmah).
Adapun terhadap kafir harbi (orang kafir dalam posisi memerangi Islam), menurut Al-Ghazali, tidak diharamkan pada posisi pertama. Dan dimakruhkan pada posisi kedua dan ketiga. Maksudnya, boleh kalau tujuannya untuk menyakiti. Dan makruh kalau mengarah kepada cacat fisik dan menyia-nyiakan waktu. Misalnya ungkapan: “Si fulan itu, sudahlah bibirnya sumbing, kafir lagi.”
Sementara itu bagi orang ahli bid’ah, kalau sampai derajat kafir, maka hukumnya seperti kafir harbi. Kalau tidak, maka seperti orang Islam. Tetapi menyebutkan perilaku bid’ahnya, bukan termasuk makruh.”
Ibnul Munzir ketika menyebutkan hadits Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بمَا يَكْرَهُ
“Engkau menyebut saudaramu tentang apa yang tidak disukainya,” ia berkomentar, “Hadis ini mengandung dalil bahwa bukanlah ghibah bila tidak termasuk saudara Anda. Yakni dari kalangan orang Yahudi, Kristen, dan seluruh agama lain, atau orang yang murtad.”
Dalam Subulus Salam 4/1583, Imam Shan’ani mengatakan, “Yang dimaksud saudaramu adalah saudara dalam agama. Sehingga hadis ini adalah dalil yang menunjukkan bolehnya menggunjing orang kafir.”
Menggunjing orang kafir yang berada dalam perjanjian tidak dibolehkan. Dalilnya firman Allah yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman penuhilah perjanjian-perjanjian.” (Al-Maidah: 1 dan ayat-ayat yang semisal).
Zakariyah Al-Anshari berkata, “Ghibah kepada orang kafir diharamkan kalau dia termasuk ahli dimmah (orang kafir dalam perlindungan pemerintahan Islam). Karena hal itu dapat menjadikan mereka tidak mau membayar jizyah dan tidak menunaikan tanggungan. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

مَنْ سَمَّعَ ذِمِّيًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ
“Barang siapa yang memperdengarkan (apa yang dapat menyakiti) ahli dimmah, maka dia akan masuk neraka.” (HR. Ibnu Hibban di shahihnya)
Ghibah dibolehkan jika terhadap orang kafir harbi (yang memerangi Islam). Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Hassan mencela orang-orang Musyrik. (Kitab Asna Al-Mathalib Ma’a Hasyiyatihi vol. 3 hal. 116)
Kesimpulannya, ghibah yang dibolehkan seperti dijelaskan Imam Nawawi adalah:
  1. Kezaliman, diperbolehkan bagi orang yang terzalimi mengadukan kezaliman kepada penguasa atau hakim yang berkuasa yang memiliki kekuatan untuk mengadili perbuatan tersebut. Sehingga diperbolehkan mengatakan,”Si Fulan telah menzalimi diriku” atau “Dia telah berbuat demikian kepadaku.”
  2. Meminta bantun untuk menghilangkan kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat kepada kebenaran. Maka seseorang diperbolehkan mengatakan, “Fulan telah berbuat demikian maka cegahlah dia!”
  3. Meminta fatwa kepada mufti (pemberi fatwa) dengan mengatakan, “Si Fulan telah menzalimi diriku atau bapakku telah menzalimi diriku atau saudaraku atau suamiku, apa yang pantas ia peroleh? Dan apa yang harus saya perbuat agar terbebas darinya dan mampu mencegah perbuatan buruknya kepadaku?”
  4. Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan, contohnya memperingatkan kaum muslimin dari perawi-perawi cacat supaya tidak diambil hadis ataupun persaksian darinya, memperingatkan dari para penulis buku (yang penuh syubhat). Menyebutkan kejelekan mereka diperbolehkan secara ijma’ bahkan terkadang hukumnya menjadi wajib demi menjaga kemurnian syariat.
  5. Ghibah terhadap orang yang melakukan kefasikan atau bid’ah secara terang-terangan seperti menggunjing orang yang suka minum minuman keras, melakukan perdagangan manusia, dan perbuatan maksiat lainnya. Diperbolehkan menyebutkannya dalam rangka menghindarkan masyarakat dari kejelekannya.
  6. Menyebut identitas seseorang yaitu ketika seseorang telah kondang dengan gelar tersebut. Seperti si buta, si pincang, si buta lagi pendek, si buta sebelah, si buntung maka diperbolehkan menyebutkan nama-nama tersebut sebagai identitas diri seseorang.
Berkaitan dengan poin terakhir, hukumnya haram jika digunakan untuk mencela dan menyebut kekurangan orang lain. Namun lebih baik jika tetap menggunakan kata yang baik sebagai panggilan. Wallahu a’lam. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, Hal.400)
Atau ungkapan semisalnya. Hal ini diperbolehkan karena ada kebutuhan. Dan yang lebih baik hendaknya pertanyaan tersebut diungkapkan dengan ungkapan umum, contohnya, “Seseorang telah berbuat demikian kepadaku” atau “Seorang suami telah berbuat zalim kepada istrinya” atau “Seorang anak telah berbuat demikian” dan sebagainya. (sumber: Kiblat.net)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*