Jejak Syam #13 :: Negara-negara yang tercakup dalam wilayah Syam

JS 13

B.Yordania – ‘Peran Penting Yordania dalam Sejarah Islam’

Yordania atau nama resminya Kerajaan Hasyimiyah Yordania (Bahasa Arab: اَلمَمْلَكَة اَلأُرْدُنِيَّة اَلهَاشِمِيَّة), Al-Mamlaka al-Urduniyya al-Hashemiyya) adalah sebuah kerajaan di Tepi Barat Sungai Yordan. Negara ini berbatasan dengan Arab Saudi di timur dan tenggara, Irak di timur-laut, Suriah di utara dan Tepi Barat dan Israel di barat, berbagi kekuasaan atas Laut Mati. Satu-satunya pelabuhan Yordania adalah di ujung barat-daya, di Teluk Aqaba, yang sebagiannya juga dikuasai oleh Israel, Mesir, dan Arab Saudi.

Lebih dari separuh Yordania diliputi oleh Gurun Arab. Tetapi, bagian barat Yordania berupa hutan dan lahan layak tanam. Yordania adalah bagian dari Bulan Sabit Subur. Ibu kota dan pusat pemerintahannya adalah Amman.

Yordania sepanjang sejarah Islam sejak zaman khalifah Umar bin Khattab sampai Perang Dunia I merupakan bagian dari negara Syam(Suriah).

Bagi pemeluk Islam, Yordania memiliki peran penting. Setidaknya ada 43 tempat suci dan makam para nabi beserta para sahabatnya, tersebar di Jazirah Yordania yang luasnya kurang lebih 97 ribu kilometer persegi.

Selain itu, dari hampir 5 juta penduduk Yordania, 70 persennya penganut Islam. Hal itu menjadikan negara berbentuk kerajaan ini, identik dengan nafas budaya Islam. Begitu menginjakkan kaki di daratan Yordania, nafas Islam kental terasa.

Keluarga Hashemite atau Bani Hashem, yang menjalankan roda pemerintahan Yordania sejak berdirinya negara ini tahun 1921, adalah keturunan kepala suku Quraysh yang sangat terkemuka di Arab. Sedang kepala suku itu sendiri, adalah keturunan Nabi Ismail Alaihissalam.

Tempat-tempat yang bernafaskan Islam pun, mudah ditemukan di Amman, Ibukota Yordania. Seperti Masjid Al-Hussein yang terletak di jantung kota Amman, berdekatan dengan Pasar Al Ballad. Masjid yang dibangun dimasa kejayaan Khalifah Umar bin Al Khattab Radhiallhuanhum, tahun 640 setelah Masehi, merupakan masjid tertua di Amman.

Masjid ini pernah runtuh, namun tahun 1924 dibangun kembali oleh raja Abdullah pertama yang berkuasa waktu itu, dengan tetap mempertahankan sentuhan arsitektur gaya Ottoman, yang terlihat hampir di setiap sudut bangunan masjid. Meski telah berusia ratusan tahun, namun masjid ini masih terpelihara baik. Setiap Jum`at tiba, penduduk Amman yang tinggal di sekitar masjid, melaksanakan sholat jama’ah dengan khusyuk.

Tempat lain yang mengesankan, tak jauh dari Ibukota Amman, adalah Dead Sea atau laut mati. Laut mati, yang merupakan tempat terendah dipermukaan bumi, terletak lebih dari 4 ratus meter dibawah permukaan laut. Menginjakkan kaki di tempat ini, akan terasa sentuhan Islam melalui kisah perjuangan di masa Nabi Luth Alaihissalam. Menjadi tanda peringatan akan kekejian perilaku kaum Nabi Luth, yang memuja dewa-dewa dan berperilaku menyimpang, saling mencintai sesama jenis.

Semua penduduk Kota Sodom dan Gomorah, termasuk istri Nabi Luth, terkubur di dasar bumi. Bekas tanah yang dibalik Allah itulah, yang sekarang menjadi laut mati. Itulah peninggalan Kota Sodom dan Amurah, yang masih bisa dilihat sampai sekarang. Kini, sebagian menjadi wilayah Palestina dan sebagian menjadi wilayah Yordania.

Di arah barat laut Kota Amman, atau ke wilayah Salt, akan dijumpai makam Nabi Syuaib AS. Makam ini pernah mengalami renovasi dan kini terletak di dalam sebuah bangunan masjid. Alkisah, Nabi Syuaib AS, berdakwah kepada kaumnya di Negeri Madyan atau sekarang wilayah selatan Palestina.

Kaum Madyan adalah penyembah berhala dan alam seperti pohon-pohon dan hutan. Penduduk Madyan akhirnya musnah disambar petir, kecuali Nabi Syuaib dan seluruh pengikutnya. Mengunjungi makam Nabi Syuaib a.s. dapat menambah keimanan. Kota kecil lain di selatan Jazirah Yordania yang punya sentuhan Islam adalah Petra.

Dalam kisah para nabi, pengikut Nabi Musa yang baru saja selamat dari kejaran Firaun, akhirnya tiba di Petra. Di tempat ini, Nabi Musa mendapat perlah untuk memukulkan tongkatnya ke sebuah batu. Dari batu itu memancarlah 12 mata air, untuk dimanfaatkan rombongan pengikut Nabi Musa yang kehausan setelah menempuh perjalanan panjang.

Petra pernah dihuni Suku Beduoin, kini keturunan Suku Beduoin, masih bisa dijumpai tinggal di sekitar obyek wisata Petra. Yordania, tanah yang penuh sejarah memang menyimpan pesona. Kerinduan akan suri tauladan para nabi, mungkin bisa terpuaskan di sini . (JS)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*