:: Jejak Syam #31:: Negeri Syam Pada Zaman Khulafa’ Rasyidun

31

Negeri Syam Pada Masa Khalifah Umar Bin Khaththab [7]

Puluhan Ribu Kaum Muslimin Syam Meninggal Akibat Wabah Lepra Amwas

Imam Ibnu Katsir Ad Dimasqy menyebutkan bahwa wabah penyakit lepra yang melanda negeri Syam pada tahun 17 H tersebut berbeda dengan wabah lepra Amwas yang terjadi pada tahun 18 H. Wabah lepra yang terjadi 18 H dikenal sebagai wabah lepra Amwas, karena bermula dari daerah Amwas. Amwas adalah nama sebuah tempat di Palestine, terletak diantara kota Ramlah dan kota Al Quds. Ia berjarak enam mil dari kota Ramlah.

Wabah lepra Amwas merupakan wabah penyakit paling berbahaya dan menyebar luas di negeri Syam pada tahun 18 H. Menurut catatan sebagian ulama sejarah di antaranya Imam Al Wadiqi, tak kurang dari 25.000 kaum muslimin di Syam meninggal akibat wabah lepra Amwas. Sebagian ulama sejarah lainnya bahkan mengatakan 30.000 kaum muslimin meninggal oleh wabah tersebut.

Di antara mereka yang meninggal adalah para tokoh Islam di Syam, yaitu: Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, Syurahbil bin Hasanah, Muadz bin Jabbal, Fadhl bin Abbas bin Abdul Muthalib, Harits bin Hisyam saudara Abu Jahal, Abu Jandal bin Suhail bin Amru dan Abdul Malik Al Asy’ari [Ibnu Katsir, Al bidayah wan Nihayah].
Wafatnya sejumlah panglima, gubernur dan ulama Islam di negeri Syam menambah duka kaum muslimin.

Banyaknya umat Islam yang meninggal menyebabkan keadaan pemerintahan dan pembagian harta warisan menjadi persoalan yang rumit. Para komandan di negeri Syam tidak lagi mampu menanganinya. Sementara itu pasukan Romawi bersiap-siap menggelar serangan besar-besaran memanfaatkan situasi negeri Syam yang sedang berduka.
Kondisi itu membuat khalifah Umar bin Khaththab berangkat kembali ke Syam. Beliau mengurus pembagian harta warisan kaum muslimin sehingga keadaan mereka kembali stabil. Beliau mengangkat Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur baru di Damaskus menggantikan kakaknya, Yazid bin Abi Sufyan. Situasi pemerintahan dan keamanan kembali normal, sehingga pasukan Romawi pun membatalkan rencana serangan mereka ke negeri Syam. [Ibnu Katsir].

Para sahabat dan umat Islam yang meninggal akibat wabah lepra yang melanda negeri Syam adalah termasuk dalam golongan syuhada’. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda: “Lepra adalah kematian syahid bagi setiap muslim.” [HR.Bukhari]

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda: “ Orang yang mati karena penyakit perut (types atau lainnya) itu mati syahid dan orang yang mati karena penyakit lepra itu mati syahid” [HR.Bukhari]

Dari Aisyah bahwasanya ia pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang lepra,maka beliau memberitahukan: “Lepra adalah adzab yang Allah kirim kepada siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tiada seorang hamba pun (yang beriman) ditimpa oleh lepra lalu ia menetap di negerinya dengan sabar dan ia yakin bahwa apa yang menimpanya hanyalah apa yang Allah takdirkan kepadanya, niscaya ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid”. [HR. Bukhari] Penaklukan Baitul Maqdis dan terjadinya wabah penyakit lepra Amwas jauh-jauh hari telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagi salah satu tanda dekatnya kiamat. Dalam hadits dari Auf bin Malik bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda:

‘Hitunglah enam pertanda menjelang hari kiamat, kematianku, lalu penakluk Baitul Maqdis, lalu kematian yang menyebar luas dan menimpa kalian seperti penyakit ganas yang mematikan kambing”[HR. Bukhari].
Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani berkata:”Qu’ash Al-Ghanam” adalah penyakit yang menimpa hewan ternak sehingga dari hidungnya mengalir cairan (darah atau nanah) sehingga hewan ternak itu mati secara mendadak. Pakar bahasa Ibnu Faris berkata: Qu’ash adalah penyakit yang menyerang dada seakan-akan mematahkan (tulang) leher. Dikatakan bahwa pertanda (kiamat)ini telah muncul dalam wujud wbah lepra Amwas yang terjadi pada masa kekhilifahan Umar bin Khaththab dan hal itu terjadi setelah penaklukan Baitul Maqdis.[Al Asqalani, Fathul Bari]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*