:: Jejak Syam #36:: Negeri Syam Pada Zaman Khulafa’ Rasyidun

36

Negeri Syam Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib

Pada tahun 36 H, khalifah Utsman bin Affan dibunuh oleh para pengacau dari Mesir, Bashrah dan Kufah yang diprovokasi oleh pendeta Yahudi yang berpura-pura masuk Islam, Abdullah bin Saba’. Para tokoh generasi sahabat dan kaum muslimin kemudian sepakat mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang baru.

Prioritas utama khalifah Ali bin Abi Thalib adalah menciptakan stabilitas keamanan, setelah itu baru melakukan pengusutan dan pengadilan terhadap para perusuh yang membunuh Utsman bin Affan. Untuk itu beliau mengganti sejumlah pejabat yang diangkat khalifah Utsman bin Affan dan dikritik oleh masyarakat dengan para pejabat baru. Khalifah Ali bin Abi Thalib mengangkat Ubaidullah bin Abbas sebagai gubernur baru Yaman, Utsman bin Hunaif sebagai gubernur baru Bashrah, Umarah bin Syihab sebagai gubernur baru Kufah, Qais bin Sa’ad bin Ubadah sebagai gubernur baru Mesir dan Sahl bin Hunaif sebagai gubernur baru Damaskus.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan selaku gubernur Damaskus sekaligus salah seorang kerabat Utsman bin Affan tidak mau membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah baru, sampai para perusuh yang membunuh Utsman selesai diusut dan diadili. Adapun khilafah Ali berpendapat pengusutan dan pengadilan tersebut sangat sulit dilakukan dalam kondisi keamanan yang belum stabil. Perbedaan sudut pandang ini berakibat Mu’awiyah menolak diganti oleh gubernur baru Sahl bin Hunaif.

Saat itu Sahl bin Hunaif berangkat dari Madinah menuju Damaskus untuk melaksanakan tugasnya sebagai gubernur baru Damaskus. Saat tiba di wilayah Tabuk, ia dihentikan oleh pasukan berkuda Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Mereka menanyai Sahl, “Siapakah engkau ini?”
“Saya adalah gubernur,” jawab Sahl.
“Gubernur atas wilayah mana?” tanya mereka.
“Atas wilayah Syam,” Jawab Sahl.
“Jika engkau diutus dan dilantik oleh khalifah Utsman, maka marilah , kami menyambutmu. Namun jika engkau diutus dan dilantik oleh selain Utsman, maka silahkan engkau kembali,” perintah mereka.
Sahl bin Hunaif terpaksa kembali ke kota Madinah. [Ibnu Katsir]

Perselisihan antara khalifah Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan akhirnya menemui jalan buntu. Pecahlah perang Siffin antara pasukan Kufah dan Bashrah yang dipimpin khalifah Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Syam yang dipimpin oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Amru bin Ash. Peperangan tersebut berakhir dengan peristiwa Tahkim di Dumatul Jandal yang juga menemui jalan buntu.

Pada tahun 40 H Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengikat perjanjian damai untuk tidak saling menyerang, dengan mengakui wilayah Syam dalam kekuasaan Mu’awiyah dan wilayah Irak dalam kekuasaan Ali bin Abi Thalib. Dengan perdamaian tersebut peperangan antara kedua belah pihak pun berakhir dan kesetabilan tercapai . [Ibnu Katsir]

Pada tahun 40 H, itu kelompok sesat Khawarij merencanakan pembunuhan terhadap tiga tokoh yang mereka tuding sebagai biang keladi konflik umat Islam, yaitu Khalifah Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Amru bin Ash. Rencana pembunuhan itu akan dilakukan oleh tigaorang anggota kelompok Khawarij bernama Abdurahman bin Amru bin Muljam Al Himyari Al Kindi, Burak bin Abdullah At Tamimi dan Amru bin Bakar At Tamimi.

Rencana pembunuhan itu mereka laksanakan secara serentak pad awaktu yang bersamaan, yaitu pada malam Jum’at 17 Ramadhan 40 H saat ketiga ‘calon korban’ tersebut berangkat Shalat Subuh.

Abdurahman bin Amru bin Muljam Al Himyari Al Kindi berhasil membunuh khalifah Ali bin Abi Thalib pada saat beliau berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat berjama’ah . Burak bin Abdullah At Tamimi melukai Mu’awiyah bin Abi Sufyan dengan pedang beracun, namun para pengawal Mu’awiyah berhasil membunuh Burak. Sementara Amru bin Bakar At Tamimi keliru membunuh Kharijah bin Abi Habibah, kepala kepolisian Mesir yang ditunjuk oleh Amru bin Ash untuk menggantikan posisinya sebagai imam shalat Subuh. Saat itu Amru bin Ash sedang sakit sehingga tidak bisa berangkat ke masjid. Ketiga orang Khawarij itu tertangkap dan dihukum mati.

Menurut riwayat para ulama sejarah, Abdurrahman bin Amru bin Muljam Al Himyari membunuh khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai bagian dari mahar perkawinannya dengan seorang wanita cantik jelita pengikut kelompok sesat Khawarij, bernama Qatham binti Syajnah dari suku Taimi, penduduk kota Kufah. Demi seorang wanita, Abdurrahman bin Amru bin Muljam rela membunuh seorang menantu Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam dan seorang sahabat yang telah dijamin masuk surga. [Ibnu Katsir]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*