:: Jejak Syam #39:: Negeri Syam Pada Zaman Daulah Umawiyah 41 H – 132 H

39

Jihad di Front Sebelah Barat

Front jihad sebelah barat meliputi wilayah-wilayah yang dikuasai Imperium Kristen Romawi Timur, baik wilayah daratan yaitu Asia kecil dan Afrika utara, maupun wilayah lautan yaitu Laut mediternia yang pada masa tersebut dikenal sebagai Laut Romawi.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan memberangkatkan pasukan darat dan pasukan laut untuk menghadapi kekuatan pasukan Imperium Romawi Timur. Sebagian pasukan dikerahkan ke jantung wilayah Romawi untuk memaksa pasukan Romawi berkonsentrasi mempertahankannya, sehingga pasukan Islam lainnya bisa dikerahkan untuk membebaskan wilayah-wilayah Romawi yang jauh dari ibukota.

A. Jihad di negeri-negeri Romawi

Negeri-negeri Romawi di sini adalah wilayah daratan Imperium Romawi Timur yang berada di sebelah utara negeri Syam. Negeri-negeri tersebut dalam sejarah modern dikenal dengan nama Anatolia atau Asia kecil (Turki hari ini). Wilayahnya membentang dari pesisir laut Mediterania ke arah timur laut sampai tiba di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan laut Kaspia di daratan tinggi Armenia.

Baik khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan maupun Imperium Romawi Timur telah membangun posko-posko ribath dan benteng-benteng pertahanan di sepanjang wilayah yang sangat panjang tersebut. Di antara posko ribath dan benteng pertahanan yang paling terkenal adalah Marsin, Mashishah, Mar’asy, Malathiyah, Hadats, Zabatrah, Kharsyaanah dan ‘Ain Zarbah. Pasukan Islam tak henti-hentinya melakukan serangan terhadap wilayah-wilayah Romawi. Pasukan Islam biasanya berhasil memasuki wilayah-wilayah Romawi, namun tak lama kemudian mereka harus mundur ke posko-posko ribath dan benteng-benteng pertahanan akibat gempuran balik pasukan Romawi Timur.

Khalifah Mu’awiyah membagi pasukan Islam menjadi dua pasukan: pasukan ‘Shawaif’ yang menyerang negeri-negeri Romawi pada musim panas dan pasukan ‘Syawati’ yang menyerang negeri-negeri Romawi pada musim dingin. Setiap kali sebuah pasukan Islam selesai melakukan serangan ke negeri Romawi, mereka akan ditarik mundur ke negeri Syam dan diistirahatkan bersama keluarganya. Posisi mereka digantikan oleh pasukan Islam lainnya. Pergiliran masa perang dan masa istirahat tersebut diatur oleh khalifah Mu’awiyah untuk menjaga kesegaran , stamina, dan semangat tempur pasukan Islam.

Selain itu, serangan dan peperangan tanpa henti yang dilancarkan oleh pasukan Islam sangat menguras kekuatan Imperium Romawi Timur. Imperium Romawi Timur mengkonsentrasikan pasukannya di wilayah daratan yang mendapat gempuran pasukan Shawaif dan Syawati. Hal itu melemahkan kekuatan pasukan Romawi Timur di wilayah Afrika sehingga pasukan Islam berhasil membebaskan satu persatu wilayah di daratan Afrika.

Komandan perang pasukan Islam yang paling terkenal dalam peperangan di wilayah negeri- negeri Romawi ini adalah:

  1. Abdurrahman bin Khalid bin Walid, putra Khalid bin Walid sekaligus gubernur Homs.
  2. Busr bin Arthah, di mana pada musim dingin tahun 43 H pasukannya telah sampai ke dekat Konstantinopel, ibukota Imperium Romawi Timur.
  3. Malik bin Hubairah
  4. Abu Abdurrahman Al Qaini
  5. Abdullah bin Qais Al Fazari
  6. Fudhalal binUbaid Al Anshari
  7. Sufyan bin Auf Al Uzdi, yang meninggal di negeri Romawi.
  8. Abdurrahman bin Ummul Hakam Ats Tsaqafi
  9. Muhammad bin Abdullah Ats Tsaqafi
  10. Junadah bin Abi Umayyah Al Uzdi
  11. Ma’an bin Yazid As Sulami
  12. Muhammad bin Malik
  13. Malik bin Abdullah Al Khats’ami
  14. Abdullah bin Kurz Al Bajali dan
  15. Amru bin Murrah Al Juhani.

Seluruh peperangan tersebut bertujuan menaklukan Konstantinopel. Sebagian pasukan Islam telah berhasil mendekati Konstantinopel dan sebagian pasukan lainnya tiba di wilayah Amuriyah, sebelah selatan wilayah Ankara hari ini.

Semangat khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan sangat terpacu oleh hadits yang menyebutkan keutamaan pasukan Islam yang berhasil menaklukan Konstantinopel.

Dari Bisyr bin Rabi’ah Al Khats’ami bahwasanya Ia telah mendengar Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Sungguh kota Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Maka sebaik-baik panglima adalah panglima pasukan penaklukan tersebut dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan penaklukan tersebut.” [HR. Bukhari, Ahmad dan Ath Thabarani]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*