:: Jejak Syam #42:: Negeri Syam Pada Zaman Daulah Umawiyah 41 H – 132 H

Jihad di Front Sebelah Barat
Membangun Angkatan Laut Yang Tangguh

42
Mu’awiyah bin Abi Sufyan telah membangun angkatan laut Islam sejak masa khalifah Utsman bin Affan guna melindungi kota-kota Islam di pesisir pantai dan menolak serangan angkatan laut Romawi Timur. Pada tahun 28 H, Mu’awiyah bin Abi Sufyan memimpin angkatan laut Islam menundukkan pemberontakan penduduk Kristen pulau Siprus.

Angkatan laut Syam di bawah pimpinan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bersama angkatan laut Mesir di bawah pimpinan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh berhasil mengalahkan angkatan laut Romawi Timur dalam perang Dzatu Shawari. Angkatan laut Islam dari Syam juga melakukan serangan terhadap pulau Rodhes dan pulau Sicilia (Italia Selatan) sebagai sebuah operasi pengumpulan data-data intelejen.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan telah mengatur kerjasama yang sangat teliti dan cermat antara pasukan Islam di daratan dan pasukan Islam di lautan. Di antara para komandan angkatan laut Islam yang paling terkenal adalah Busr bin Arthah, Malik bin Hubairah As Sakuni, Mundzir bin Zuhair, Khalid bin Anshari, Yazid bin Syajarah Ar Rahawi, Uqbah bin Nafi’, Junadah bin Abi Umayyah Al Uzdi dan lain-lain.

Sebagian mereka terkadang memimpin pasukan darat Islam dan pada kesempatan yang lain memimpin pasukan laut Islam. Hal itu kerena pada zaman itu belum ada spesialisasi khusus. Para komandan dan pasukan Islam bertempur di daratan maupun di lautan berdasar semangat jihad yang tinggi, di manapun mereka berjihad dengan sarana yang memungkinkan, bukan karena spesialisasi tempur mereka di darat atau laut.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam bersabda:
“Satu kali berperangdi lautan itu lebihbaik dari sepuluh kali berperang di daratan. Orang yang berlayar di lautan (dalam jihad) adalah seperti orang yang telah mengarungi seluruh lembah (daratan). Dan orang yang mabuk di lautan (dalam jihad) adalah seperti orang yang bersimbah darah (dalam jihad). “ [HR. Al Hakim- Ath Thabarani]

Jihad di lautan pada masa tersebut tidak dimonopoli oleh umat Islam yang hidup di wilayah pantai seperti penduduk negeri Syam dan Mesir. Kaum muslimin dari wilayah pedalaman dan padang pasir sepertiHijaz, Jazirah, dan lain-lain juga turut serta dalam jihad di laut. Mereka sama-sama melakukan tugasnya dengan baik. Pada tahun 48 H misalnya, pasukan Islamdari Mesir berjihad di lautan dibawah komandan Malik bin Hubairah As Sakuni, sementara itu penduduk Madinah berjihad di lautan dibawah komandan Mundzir bin Zuhair. Mereka semua berada dibawah komando panglima Khalid bin Abdurrahman bin Khalid bin Walid. Mayoritas para komandan peperangan di lautan sendiri berasal dari Jazirah Arab, wilayah padang pasir dan pedalaman.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan membangun industry perkapalan di wilayah pantai Akka (masuk wilayah Lebanon hari ini). Ia mendatangkan para pembuat kapal yang ahli dari wilayah Yaman dan wilayah pantai Teluk Arab. Proses pembuatan kapal-kapal ia mempergunakan kayu-kayu dari wilayah pegunungan negeri Syam.

Mu’awiyah memperkokoh konstruksi bangunan pelabuhan Shuwar dan Tripoli (keduanya wilayah Lebanon hari ini). Di kedua pelabuhan itu para ahli kapal juga memproduksi kapal-kapal seperti halnya di Akka. Mu’awiyah juga membangun industri pembuatan kapal di pulau Raudhah, negeri Mesir pada tahun 54 H. Kapal-kapal perang Islam pada saat itu bercirikan ukuran yang besar dan lebar, mampu mengangkut sejumlah besar pasukan, peralatan perang dan logistik pasukan.
Mu’awiyah secara bertahap menempatkan sejumlah penduduk muslim Arab di pulau-pulau Laut Mediterania untuk mempertahankannya dan mendakwahkan Islam kepada penduduknya . pada tahun 48 H, pasukan Islam telah mendarat di pulau Sicilia (Italia selatan). Pada tahun 49 H, pasukan laut Islam dibawah komando Fudhalah bin Ubaid Al Anshari membebaskan pulau Jarba.

Pada tahun 50 H, pasukan Islam untuk pertama kalinya menyerang dan mengepung kota Konsta tinopel dari daratan dan lautan. Imam Bukhari telah meriwayatkan hadits shahih dari Anas bin Malik bahwasannya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wassalam menyatakan pasukan Islam pertama yang menyerang Konstantinopel akan mendapatkan ampunan AllahTa’ala. Selama empat tahun penuh, yaitu tahun 53-57 H, pasukan Islam kembali mengepung Konstantinopel dari daratan dan lautan.

Pada tahun 53 H, pasukan laut Islam dibawah komanado Junadah bin Abi Umayyah Al Udzi berhasil membebaskan pulau Rhodes. Mu’awiyah bin Abi Sufyan memindahkan sejumlah umat Islamk ke pulau tersebut untuk menmjaganya.

Pada tahun 55 H, pasukan laut Islam berhasil membebaskan pulau Kreta di Laut Mediterania. Dua tahun setelah itu pasukan laut Islam berhasil membebaskan kepulauan Bahraijah yang berjarak dekat dengan Konstantinopel, sebagai persiapan untuk mengepung Konstantinopel kembali. [Mahmud Syakir – At Tarikh Al Islami]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*