:: Jejak Syam #45:: Negeri Syam Pada Zaman Daulah Umawiyah 41 H – 132 H

Periode Ketidakstabilan di Negeri Syam 64-73 H

45
Salah satu peristiwa penting yang mengharumkan nama Daulah Umawiyah dan negeri Syam adalah saat gubernur mereka di wilayah Afrika, Uqbah bin Nafi’, memimpin pasukan Islam menaklukkan seluruh wilayah Afrika Barat [Tunisia, Aljazair dan Maroko hari ini] sehingga mereka sampai di pantai Laut Atlantik. Hal itu terjadi pada masa pemerintahan khalifah Yazid bin Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada tahun 62-63 H. Uqbah bin Nafi’ sendiri pad atahun 64 H gugur bersama sejumlah pasukannya saat hendak kembali dari pantai laut Atlantik ke kota Qairawan melalui jalan pintas gurun pasir, saat mereka disergap oleh pasukan Barbar.
Namun negeri Syam mengalami masa ketidak stabilan setelah Mu’awiyah bin Yazid bin Mu’awiyah meninggal pada tahun 64 H dan terjadi perebutan kekuasaan di antara sesama keluarga Bani Umayyah untuk menjadi penguasa di negeri Syam. Puncaknya adalah peperangan pada tahun 69 H antara pasukan Abdul Malik bin Marwan dan pasukan Amru bin Said yang berlangsung selama 16 hari di kota Damaskus.
Peperangan itu berakhir dengan perdamaian antara kedua belah pihak, dimana Abdul Malik menyetujui pengangkatan Amru bin Said sebagai “putra mahkota” yang akan menggantikan dirinya sebagai penguasa di negeri Syam. Belakangan Abdul Malik menyiasati kesepakatan damai itu dengan pembunuhan terhadap Amru bin Said, sehingga Abdul Malik sepenuhnya menguasai negeri Syam.
Romawi Timur melihat peluang emas pada ketidak stabilan di negeri Syam. Peperangan panjang antara khalifah Abdullah bin Zubair di Hijaz dengan Abdul Malik bin Marwan di Syam telah melemahkan negeri Syam. Maka pada tahun 70 H pasukan Romawi bergerak untuk menyerang Syam. Abdul Malik bin Marwan terpaksa mengikat perjanjian damai dengan Romawi, dengan syarat ia harus membayar 1000 dinar setiap pekan kepada pihak Romawi.
Perjanjian damai itu memberi kesempatan kepada Abdul Malik bin Marwan pada thun 71 H untuk menyerang dan merebut Irak dari kekuasaan khalifah Abdullah bin Zubair. Pada bulan Dzulhijah 72 H pasukan Syam dipimpin oleh gubernur Irak, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi mengepung dan membombardir khalifah Abdullah bin Zubair di kota Makkah dengan tembakan manjanik, semacam ketapel raksasa yang melontarkan batu-batu besar.
Pengepungan dan penyerangan itu berlangsung selama 6 bulan 17 hari, sampai dinding Ka’bah runtuh dan Abdullah bin Zubair terbunuh pada tanggal 17 Jumadil Ula 73 H. Sejak peristiwa itu Abdul Malik bin Marwan dibaiat oleh seluruh kaum muslimin sebagai khalifah yang baru. Kota Damaskus kembali menjadi ibukota kekhilafahan.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*