Forum Diskusi Bersama Tokoh dan Ormas Islam Sikapi Isu ISIS

isisJakarta – Syamorganizer.com – Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) mengadakan forum diskusi bersama dengan tajuk ‘Menyikapi Perkembangan ISIS di Indonesia’  di Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center, Jakarta, Ahad (10/08) . Hadir dalam kesempatan itu sejumlah tokoh dari beberapa ormas Islam, seperti Dewan Dakwah Islamiyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Syam Organizer, Jurnalis Islam Bersatu, DPP Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, Ustadz Anung Al Hamat dari Forum Study Sekte-Sekte Islam (FS3I), Ustadz Abu Rusydan, Ustadz Abdurrohim Ba’asyir, dan Ustadz Fuad Al-Hazimi, dan lain sebagainya.

Masing-masing perwakilan dimintai sikap dan pendapatnya terhadap isu ISIS yang saat ini telah menjadi pembicaraan di masyarakat bahkan hampir di seluruh lapisan. Uniknya isu Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) ini hanya marak di Indonesia tapi tidak di negara-negara Asia Tenggara lainnya, sebagaimana yang disampaikan oleh Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir.

“Baru-baru ini kami dari MIUMI mengikuti daurah di Malaysia dan ketika kami memaparkan isu ISIS, rekan-rekan dari Malaysia, Thailand, Burma dan negara ASEAN lainnya malah bingung karena menurut mereka isu ISIS tidak menjadi isu utama di negara mereka masing-masing,” jelas Bachtiar

Sementara itu aktivis kemanusiaan, Bambang Soekirno menilai isu Suriah di Indonesia sudah bergeser dari masalah bencana kemanusiaan menjadi perang melawan terorisme. Ada upaya sistematis mengalihkan persoalan sebenarnya yang terjadi di Suriah.

“Di Indonesia informasi yang sampai bukan tragedi kemanusiaan, tetapi war on teror, padahal persoalan sesungguhnya di sana adalah bencana kemanusiaan,” ungkapnya. “Persoalan ISIS dan segala kontroversi yang terkait di Suriah adalah persoalan aksi dan reaksi, terdapat persoalan sebenarnya yang dilupakan,” jelas pria yang pernah mengunjungi Suriah ini.

Menurut Bambang, ISIS sendiri baru muncul setelah 3 tahun tragedi Suriah. Sebelum kemunculannya, di Suriah sudah terdapat korban jiwa kurang lebih 200.000 orang, banyak janda, dan banyak anak yang menjadi Yatim. Sehingga, masyarakat seharusnya memperhatikan pula persoalan sebenarnya di Suriah.

“Persoalan ini sudah dibikin horor, padahal ISIS baru muncul. Ada satu tragedi kemanusiaan besar di sana, PBB menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan yang terbesar, ini yang nampaknya dilupakan,” papar pria yang juga analis pergerakan Islam ini.

Apalagi, persoalan Suriah di Indonesia tidak ditangani oleh lembaga negara ataupun lembaga-lembaga kemanusiaan yang cukup besar. Sehingga, pemerataan informasi Suriah yang sebenarnya di masyrakat masih banyak menghadapi berbagai kendala.

“Tidak seperti Palestina, isu Suriah hanya ditangani kelompok aktivis-aktivis kecil yang keliling ke daerah-daerah,” ucap Bambang.

Di sesi akhir kegiatan tersebut diadakan penandatanganan dan pembacaankesepakatan yang diharapkan dapat menjadi bayan bagi umat islam dalam menyikapi ISIS. (AR70/Syamorganizer.com)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*