Kisah Bermakna Ramadhan 1437 H dari Negeri Syam, Suriah

DSC_0075

Bulan Ramadhan memang sudah berlalu. Namun, bagi Syam Organizer bulan Ramadhan 1437 H ini menyisakan kisah yang sangat mendalam. Sebuah kisah duka, suka dan gembira campur aduk menjadikan Ramadhan 1437 H tak ingin sirna begitu saja. Bagaimana tidak di bulan Ramadhan 1437 H, di saat penyerangan gencar dilakukan oleh rezim kepada kaum muslimin di Suriah, Syam Organizer berhasil mengirimkan 2 relawan kemanusiaan ke wilayah yang sedang berkecamuk perang, atau minimal dihujani dengan serangan-serangan roket dari rezim dan sekutunya.

Tentu, masuk di Suriah bukan perkara yang mudah. Tetapi, semua kekuatan hanya milik Allah. Jika Allah bermaksud menjadikan hambanya mudah memasuki wilayah yang secara umum sulit maka tentu tak ada satupun kekuatan yang dapat menghalanginya.

Banyak kisah suka yang dialami relawan. Namun tidak sedikit pula kisah duka perjalanan yang dialaminya. Syamorganizer.com merangkum kisah perjalanan Relawan Kemanusian Syam Organizer tim ke 8 dalam memasuki Suriah dan mendistribusikan bantuan kaum muslimin Indonesia yang berhasil dikumpulkan. Semoga kisah yang ditulis ini dapat dijadikan ibrah bagi siapa saja yang ingin mengambil pelajaran bermakna dari Relawan Kemanusiaan Syam Organizer tim ke 8.

Kisah perjalanan Relawan Syam Organizer tim ke 8 (bagian pertama)

Bagi umat Islam yang paham akan kemuliaan Bumi Syam, berada di dalamnya merupakan sebuah impian, apalagi saat bulan Ramadhan. Dan tentu dia akan mau mengorbankan apapun yang dia punya untuk mewujudkan impiannya tersebut. Maka, ketika ada tawaran dari lembaga kemanusiaan Syam Organizer untuk mendistribusikan bantuan yang berhasil dikumpulkan dari kaum muslimin Indonesia, tanpa pikir panjang kami pun langsung terima tawaran itu, meskipun kami tahu bahwa kondisi Suriah hingga sekarang masih belum aman. Peperangan masih terjadi, entah sampai kapan dan saat itu bertepatan dengan akan memasukinya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Wow.. tak terbayangkan bagaimana perasaan kami saat itu, ya meski tentu saja ada rasa deg degan nya.. . Hehehe maklum baru pertama kali ini mau jadi relawan kemanusiaan di wilayah yang sedang dilanda perang.

Sulitnya masuk di wilayah-wilayah tertentu seperti Allepo pun pernah terdengar bahkan bagaimana sulitnya memasuki wilayah Suriah pun telah dijelaskan oleh relawan sebelumnya yang membekali kami. Namun, sekali lagi itu tidak membuat hati kami ciut. Bahkan ada semacan kekuatan yang mendorong kami agar cepat sampai di Bumi Syam, Suriah. Tidak tega rasanya melihat dan menyaksikan kaum muslimin di Suriah khususnya anak-anak tidak bisa merasakan keceriaan dan kegembiraan di hari raya Idul Fitri nantinya. Ingin segera rasanya membuat anak-anak Suriah tertawa ceria dan mengokohkan hati kaum muslimin di Suriah bahwa masih ada saudaranya dari Indonesai yang peduli kepadanya.

Karenanya, begitu kaki kami menginjakkan bumi yang penuh berkah tersebut, rasa syukur pun tak terbendung. Kelelahan dalam perjalanan seolah sirna saat air dari bumi Suriah yang diberkahi menyentuh pori-pori kulit wajah, tangan serta kaki kami saat berwudlu. Ada haru dalam kalbu. Ada sendu dalam rindu saat kami dapat bercengkrama dengan anak-anak dan kaum muslimin di Suriah.

Cerita tentang keluarga yang hilang dan kepedihan-kepedihan lain. Meski menyayat tapi hati kami ingin terus mendengar ungkapan rasa mereka. Untuk kemudian membulatkan hati berusaha semaksimal mungkin memberikan apa yang memang benar-benar mereka butuhkan. Meski, kami pun paham bahwa apa yang kami bawa tidak sebanding dengan kebutuhan hidup yang mereka butuhkan. Namun, doa yang selalu mereka lantunkan kepada semua kaum muslimin di Indonesia membuat kaki kami kuat untuk melangkah memasuki kamp kamp pengungsian dimana sebagian besar dari umat Islam Suriah berada dalam tenda-tenda pengungsian itu. Bahkan ketika kami harus menaiki bukit atau naik motor yang apa adanya dan terkadang harus turun kemudian mendorong dan terpelanting dari motor pun tetap tidak menyurutkan niat kami untuk terus membantu mereka.

Laa haula wa laa quwwata illa billah, itulah yang kami yakini. Allahlah tempat kami bersandar. Dan kepada Allah lah kami menyadarkan punggung kami saat kelelahan mendera.(Bersambung)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*