Kisah relawan 10 – Kamp pengungsi Hammam

Tujuan relawan Syam Organizer selanjutanya adalah kamp pengungsian Hammam. Sesuai dengan namanya, Hammam, yang berarti pemandian umum. Kamp ini terletak di bibir sungai al-‘Ashi, sungai atau Orontes. Sungai yang mengalir sepanjang 571 KM melintasi tiga Negara dari Lebanon, Suriah hingga Turki untuk selanjutnya bermuara di Laut Tengah tepatnya di Teluk Suwaidiyah, Iskanderun Turki. Konon, dinamakan sungai al-‘Ashi yang berarti melawan atau membangkang, karena memang aliran sungai al-‘Ashi melawan arah aliran sungai yang ada di sana pada umumnya, jika umumnya sungai di sana mengalir  dari utara ke selatan, sungai ini justru mengalir dari arah selatan ke utara.

Kamp pengungsi Hammam tepatnya berada di tepi sungai al-‘Ashi yang melintasi pedesaan pinggiran Idlib. Pagi hari, di tengah cuaca dingin yang menusuk Relawan Syam Organizer dipandu relawan lokal bertolak menuju kamp Hammam. Setelah sekitar setengah jam perjalanan, kami sampai di tempat tujuan. Nampak tenda seadanya berjejer di sepanjang tanah lapang di bibir sungai yang deras dan dalam. Menurut koordonator pengungsian di sini terdapat lebih 200 keluarga pengungsi.

Karena letaknya yang agak jauh dari jalur transportasi, mereka -menurut relawan lokal- termasuk yang kurang mendapat perhatian para relawan kemanusiaan.

Sebagai permulaan, untuk misi kali ini Syam Organizer menyalurkan bantuan berupa 200 paket khubz (roti) sebagai makanan pokok para pengungsi. Mereka nampak sangat senang mendapatkan sedikit bantuan, menyampaikan rasa terima kasih, apalagi ketika mereka mengetahui bahwa bantuan ini berasal dari negeri yang sangat jauh (Indonesia).

Saat relawan sibuk membagikan paket makan seorang anak bertanya, “Yaa ‘amm, ‘Indakum jawakit? Haadza yatim laisa lahu jakit [Paman, apakah paman punya jaket, ini teman saya seorang yatim, dia tidak punya jaket].” Karena jadwal kali ini adalah penyaluran bahan makanan pokok, kami tidak bisa berkata apa-apa selain menahan rasa iba melihat sebagian anak-anak yang melalui musim dingin yang menggigit tanpa baju penghangat. Namun al-hamdulillah beberapi hari sebelum kembali ke Indonesia kami datang kembali dengan membawa lebih dari 200 jaket untuk anak-anak, dewasa, dan penutup kepala. Luar biasa, ucapan terima kasih diiringi doa terucap dari lisan mereka untuk kaum muslim Indonesia yang masih dan selalu peduli, ikut meringankan penderitaan dan ujian yang mereka alami. Bersambung…

Kisah tim relawan 10
Kisah Sebelumnya School 4 Sham
Kisah Selanjutnya Kamp pengungsian Khurbeh

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*