Memotret Diri dari Sebuah Tragedi

Syamorganizer.com – Banyak kaum muslimin yang belum mengetahui kejadian yang menimpa saudara mereka di Suriah. Bukan hanya mereka yang hidup di daerah – daerah pelosok yang sulit dijangkau teknologi internet bahkan sebagian besar kaum muslimin yang berada di perkotaan pun banyak yang belum mendengar tragedi kemanusiaan di Suriah. Sebuah tragedi kemanusiaan yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun. Drama pilu yang menimpa rakyat sipil yang dibantai oleh pemimpinnya sendiri di Suriah. Mereka dibantai oleh pemimpinya sendiri Basyar Assad, yang berakidah Syiah Nusyairiyah. Sebuah kekejian dan kejahatan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Paling sadis dan paling kejam.
Bom dalam bentuk birmil dijatuhkan. Bangunan dan gedung dihancurkan. Masjid tempat ibadah umat islam diluluhlantakkan. Sungguh bukan merupakan ciri seorang muslim jika sudah berani meruntuhkan bangunan Allah. Ya, karena Syiah Nusyairiyah bukan islam. Dia lebih sesat dan keji dari zionis. Lihat saja kebiadapan dan kekejian yang ditimpakan Basyar Assad kepada rakyatnya.

Rakyat dibantai dan dibunuh. Tidak peduli apakah mereka anak-anak, dewasa ataukah orang tua. Tidak peduli juga apakah mereka laki-laki atau perempuan. Semua ingin dibinasakan. Bahkan janin yang masih berada di dalam perut ibunya pun menjadi ajang latihan sniper mereka. Semua dilakukan dengan cara yang sangat biadab. Dipukul, disembelih, dikubur hidup-hidup, dipotong-potong dan disayat-sayat bagian dari tubunya, padahal dalam keadaan hidup.

Telah hilang rasa kemanusiaan tentara Basyar Assad. Berganti jiwa kebinatangan yang menggelora. Menumpahkan nafsu di sembarang tempat dan kepada siapa saja yang diingininya. Para muslimah di Suriah menjadi sasarannya. Mereka ditarik, dipukul, diperkosa sebelum akhirnya dibunuh dengan kejammnya.

Telah hilang rasa kemanusiaan para snipper wanita yang didatangkan oleh Basyar Assad. Telah hilang rasa keibuannya. Telah sirna rasa kasihsayangnya. Berganti dengan rasa kejam dan biadab dan menuruti nafsu setannya. Malamnya mereka gunakan untuk nafsu binatangnya, hingga gelegak puas mereka dapatkan. Siangnya mereka gunakan untuk membunuh dan mengincar sasaran tembak, yang terdiri dari anak-anak dan wanita. Bahkan menembak wanita hamil menjadi sesuatu yang sangat memuaskan. Sungguh kebiadaban yang tiada tara.

Itulah sekilas potret kejadian sehari-hari yang terjadi di Suriah sejak tiga tahun terakhir. Memasuki tahun keempat ini mereka tidak menghentikan. Bahkan menjelang puasa serangan terus dilakukan oleh tentara Basyar Assad.

Gambaran kejadian bisa Anda saksikan dalam pameran foto dan pemutaran video yang didakan oleh Syam Organizer, yang salah satunya bertempat di Masjid Kampus UGM, tepatnya di sayap kanan Masjid Kampus UGM.

Datanglah. Lihat kemudian kabarkan kepada kaum muslimin dimanapun Anda temukan. Kabarkan kepada mereka tentang para muslimah yang diperkosa, anak-anak yang disembelih bahkan disetrum dengan listrik sedang mereka dalam keadaan terikat tak berdaya, ayah-ayah mereka yang ditawan dan disiksa sebelum akhirnya dihabiskan. Kabarkan pula tentang bangunan masjid dan rumah tempat tinggal yang dihancurkan. Selanjutnya, kabarkan pula bahwa di sana masih ada anak-anak yang saat ini telah menjadi yatim, para istri yang menjadi janda, dan orang tua yang tidak tahu lagi nasib anak-anaknya yang hilang. Kabarkan bahwa mereka menjerit memanggil Anda dan kaum muslimin semuanya. Mereka menjerit meminta pertolongan kepada saudaranya.

Saudara, sungguh malu ketika kaum muslimin Suriah yang tertindas itu memanggil kita dengan sebutan saudara. Karena setelah berkaca diri sebenarnya kita tidak menganggap mereka saudara. Bagaimana kita merasa menganggap mereka saudara. Lihatlah dan bandingkan apa yang kita lakukan:

  1. Di saat mereka kesulitan mencari apa yang mau dimakan kita justru menikmati semua hidangan yang kita suka
  2. Di saat para muslimah di sana berjuang mati-matian mempertahankan akidah kita justru beramai-ramai dengan kegiatan yang melalaikan mereka
  3. Di saat anak-anak mereka harus bermain dan bersekolah dengan pecahan roket di reruntuhan gedung kita justru sibuk mencarikan pengganti mainan anak kita yang baru kita belikan kemarin
  4. Di saat mereka teriak memanggil meminta pertolongan kita justru berlari cuek dan tidak memperhatikannya
Lalu dimanakah rasa saudara itu. Bukankah sudah masuk di telinga kita bahwa saudara dalam islam itu seperti satu tubuh, tatkala ada salah satu anggota tubuh yang merasakan kesakitan yang lain ikut merasakan sakitnya hingga demam dan tak bisa tidur. Ya, Allah kembalikanlah rasa itu pada diri kami. Ya Allah jangan timpakan pada diri kami rasa ketidakpedulian terhadap saudara kami. Sungguh kami tak mempunyai tempat berdiri ketika mendengar sabda dari utusan-Mu
“Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka dia bukan dari mereka”

AR70/syamorganizer

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*