Pentingnya Menjaga Martabat dan Kehormatan Pasangan Kita

Muslim yang baik seharusnya saling menjaga kehormatan dan martabat pasangannya

SIFAT dasar dunia adalah tidak sempurna. Jadi, siapa yang mencari kesempurnaan di dunia sudah pasti ia tidak akan pernah menemukannya.

Demikian pula halnya dengan manusia, siapa pun di dunia ini, lelaki atau perempuan, pasti punya kekurangan sekaligus kelebihan. Tidak satu pun pernah ada pasangan sempurna pernah ada di muka bumi ini, kecuali mereka berumah tangga atas landasan iman, dengan bahtera ketakwaan menuju jalan kebahagiaan yang diridhoi-Nya.

Artinya, kebahagiaan sebuah rumah tangga tidak ditentukan dari seberapa besar kelebihan yang dimiliki dan seberapa kecil kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing pasangan. Lebih-lebih jika hanya diukur dari kondisi fisik pasangan. Sama sekali bukan. Tetapi seberapa berkualitas iman yang bersarang di dada dan seberapa berkualitas ketakwaan serta akhlak suami istri dalam kehidupan sehari-hari.

Kadangkala sebagian besar orang lupa akan hal ini. Maka tidak sedikit orang yang dengan ringan membicarakan kekurangan-kekurangan pasangannya kepada orang lain. Karena tidak disadari, perbuatan tercela semacam itu berlanjut menjadi kebiasaan.

Hal ini tidak saja terjadi di zaman yang kata orang modern seperti sekarang. Kondisi semacam itu (membicarakan kekurangan pasangan ke orang lain) sudah ada sejak manusia ada, termasuk di zaman Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam.

Dalam kitab hadits Al-Lu’lu’ Wal Marjan pada hadits ke 1590 yang dinukil dari kitab shahih Imam Bukhari pada Kitab Nikah Bab Mempergauli istri dengan baik, disebutkan perihal perkumpulan sekelompok istri yang telah bersepakat membicarakan keadaan pasangannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah, ia bercerita, “Pada suatu hari sedang berkumpul sebelas orang wanita. Mereka sedang duduk-duduk santai. Mereka saling sepakat dan berjanji untuk mengungkap keadaan suami mereka.

Wanita pertama mengatakan, “Suamiku adalah ibarat daging tipis yang berada di puncak sebuah gunung yang tinggi sehingga tidak mudah untuk didaki. Ia tidak gemuk sehingga bisa dipindah-pindah.”

Wanita kedua mengatakan, “Maaf aku terpaksa tidak bisa menuturkan secara rinci mengenai keadaan suamiku. Aku khawatir tidak bisa melakukan hal itu. jika sampai aku lakukan, sama halnya aku mengungkapkan aibnya.”

Wanita ketiga mengatakan, “Suamiku berpostur tinggi. Jika aku katakan hal itu terus kepadanya, ia akan menceraikan aku. Dan jika aku diamkan saja, ia pun akan meninggalkan aku.

Wanita keempat mengatakan, “Suamiku laksana cuaca di wilayah Tihamah, tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin, tidak menakutkan dan juga tidak membosankan.”

Wanita kelima mengatakan, “Jika suamiku sudah masuk rumah, ia langsung tertidur nyenyak. Tetapi jika keluar rumah, ia laksana seekor singa. Dan ia tidak pernah menanyakan sesuatu apa pun yang bukan termasuk urusannya.”

Wanita keenam mengatakan, “Jika suamiku sedang makan, semua makanan akan dihabiskannya. Jika sedang minum, semua minuman pun akan diteguknya. Dan jika tiduran, ia selalu memakai kain selimut. Namu ia enggan memasukkan telapak tangannya karena takut diketahui kesusahannya.”

Wanita ketujuh mengatkan, “Suamiku adalah orang yang lemah syahwat dan gagap bicaranya, meski berbagai obat telah dicobanya untuk menyembuhkannya di samping itu ia adalah orang yang mudah melayangkan tangannya.”

Wanita kedelapan mengatakan, “Suamiku memiliki aroma khas seperti aroma zarnab, dan sentuhannya selembut sentuhan seekor kelinci.”

Wanita kesembilan mengatakan, “Suamiku punya kedudukan tinggi, berpostur tinggi, sangat dermawan, suka menjamu tamu, dan rumahnya dekat sekali dengan balai pertemuan.”

Wanita kesepuluh mengatakan, “Suamiku memiliki banyak unta, sebagian besar dibiarkan menderum di halaman rumah, dan yang sedang bunting baru beberapa ekor saja. Jika unta-unta tersebut mendengar suara kecapi, mereka merasa bahwa sebentar lagi mereka akan disembelih.”

Dari kesepuluh wanita tadi, kita dapat saksikan bagaimana hanya sedikit sekali di antara para istri yang enggan membicarakan keburukan suaminya. Naifnya, dia tetap termasuk wanita yang bersepakat duduk bersama teman-temannya yang memang bersepakat membicarakan tentang (keburukan) suaminya. Tetapi, mari kita lanjutkan membaca hadits yang lumayan panjang ini.

Dan, wanita kesebelas mengatakan, “Suamiku bernama Abu Zara’. Kalian tahu, siapa itu Abu Zara? Dia lah yang memberiku makanan-makanan yang berlemak sehingga aku kelihatan gemuk. Ia suka membangga-banggakan aku sehingga aku merasa senang. Ia tahu aku dari keluarga yang tidak mampu. Namun ia mau menerimaku dalam keluarganya yang cukup kaya.Ia tidak pernah mencela ucapanku. Setiap tidur aku bisa nyenyak sampai pagi, dan aku bisa minum sampai puas.”

Lalu Ummu Abu Zara’. Kalian tahu, siapa dia itu? Dia memiliki simpanan bahan pokok makannan yang berkarung-karung dan rumahnya sangat luas.

Lalu Ibnu Abu Zara’. Kalian tahu siapa dia itu? Dia memiliki tempat tidur yang laksana ikatan pelepah kurma. Ia sudah merasa kenyang dengan hanya memakan sebelah kaki seekor kambing.

Lalu binti Abu Zara’. Kalian tahu, siapa dia itu? Dia adalah seorang yang amat patuh terhadap kedua orang tuanya. Tubuhnya gempal dan dia adalah orang yang sangat dermawan.

Kemudian pelayan puteri Abu Zara’. Kalian tahu, siapa dia itu? Dia tidak pernah menyebarkan ucapan-ucapan yang bersifat rahasia. Dia sangat jujur sekalipun dalam soal makanan dan dia adalah orang yang sangat rajin bekerja dan tidak pernah membiarkan rumahku kotor.

Selanjutnya Ummu Zara’ mengatakan, “Pada suatu hari Abu Zara’ keluar dengan membawa bekal sebuah bejana terbuat dari kulit yang sudah diisi penuh dengan susu. Ia bertemu seorang wanita dengan dua anaknya yang laksana sepasang macam kumbang.

Mereka mempermainkan buah delima di bawah pinggang ibunya tersebut. Demi menikahi wanita itu, aku diceraikannya. Setelah itu aku menikah lagi dengan seorang laki-laki yang cukup budiman dan cukup kaya. Kendaraannya adalah seekor kuda pilihan. Ia juga memperlihatkan kepadaku sebuah kandang yang penuh berisi unta, sapi, dan domba. Aku disuruh menikmati semua itu. kalau aku kumpulkan semua pemberiannya, maka apa yang pernah diberikan oleh Abu Zara’ kepadaku tentu tidaklah seberapa.”

Kata Aisyah, Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam pernah bersabda, “Aku terhadapmu adalah seperti Abu Zara’ terhadap Ummu Zara.”

Saling Menjaga Kehormatan

Hadits ini memberikan panduan bahwa idealnya dalam sebuah rumah tangga mengutamakan prinsip, saling menjaga dan mengharumkan pasangan (bahasa Sundanya silihwangi).  Ironis sekali jika pasangan suami istri antara satu dan lainnya saling menjelekkan.

Jadi, tidak perlu terjadi hal-hal yang tidak perlu, seperti membesar-besarkan kesalahan pasangan. Karena sudah pasti tidak mungkin ada pasangan yang tidak memiliki kekurangan atau bahkan kesalahan.

Seandainya pun harus bercerita kepada orang, maka ceritakanlah kebaikan-kebaikannya, agar yang mendengar terinspirasi dan tergugah, sehingga ketika pulang ia bisa memperbaiki diri bagaimana berinteraksi dengan pasangannya. Lebih-lebih bisa berkomunikasi lebih baik lagi, sehingga pasangan nya dapat memperbaiki diri.

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ …

“Siapa yang melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan di hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya….” (HR. Muslim no. 2699)

Hadits ini memberi bekal pada kita agar dengan pasangan hidup kita, harus lebih menutup aib dan menjaga kehormatan mereka.

Jika memang ada keluhan, sebaiknya tidak membahas hal yang sangat rahasia seperti itu di majelis santai alias ringan-ringan saja. Konsultasikanlah kepada yang ahli, sehingga masalah yang ada bisa ditemukan solusinya. Seperti kasus pada wanita ketujuh yang mengeluhkan kondisi suaminya yang lemah syahwat. Semestinya, jika itu terjadi, sebaiknya datang ke dokter atau yang ahli dalam hal tersebut.

Terakhir, bagi para suami, hendaknya benar-benar arif, santun dan bijaksana dalam mempergauli istrinya. Boleh jadi apa yang disampaikan para wanita tadi memang fakta sikap suami yang kurang berakhlak di hadapan istrinya.

Padahal, seorang suami mestinya mengerti sifat wanita, karena secara kodrati wanita memang tidak sama dengan lelaki. Seperti jamak dipahami, wanita itu terbuat dari tulang rusuk Nabi Adam yang diciptakan Allah bengkok. Apabila diluruskan dia akan patah, tapi kalau dibiarkan dia akan tetap bengkok.

Oleh karena itu wanita memang bukan diciptakan untuk dapat dimengerti oleh kaum lelaki atau para suami, tapi memang mereka diciptakan hanya untuk dicintai, karena dialah yang paling berjasa melahirkan dan mengurus anak-anak kita sejak lahir sampai dewasa.

Karena sehebat dan seperkasa apa pun kaum lelaki, ia tetap tidak akan pernah mampu menjalani tugas mulia seperti kaum wanita yang sangat luar biasa. Maka, cintailah dan sayangilah kaum wanita, apakah dia istrimu, apalagi ibumu bahkan mertuamu.

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At Tirmidzi)

Pemahaman seperti ini penting dimiliki oleh setiap keluarga Muslim, agar interaksi ideal dalam rumah tangga dapat diwujudkan secara bersama-sama. Patut kita bertanya dalam dada masing-masing, adakah yang lebih utama dari berkeluarga selain memupuk akhlakul karimah?

Jadi, mari kita pegang prinsip silihwangi¸yakni saling mengharumkan dan saling menjaga martabat suami-istri demi ridha Ilahi.*(Imam Nawawi/www.hidayatullah.com)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*