Propaganda Rusia dan Realitas di Suriah

Oleh: Muhammad Pizaro (Jurnalis, pernah meliput di Suriah)

Kondisi kemanusiaan di Suriah tampaknya masih belum beranjak menuju tanda-tanda kemajuan. Pasca jatuhnya pesawat SU-24, Rusia tetap tidak mau mengevaluasi agresi militernya di Suriah. Isu kemanusiaan yang selama ini menjadi sasaran kritik para aktivis, kini justru beralih menjadi panggung orasi politik propaganda Rusia kepada Turki.

Rusia pun memutuskan untuk melakukan embargo terhadap Turki. Tak hanya larangan kunjungan ke Turki yang dikeluarkan oleh pemerintah Rusia, impor bahan makanan asal Turki pun juga dilarang untuk dilakukan.

Bahkan ada pihak-pihak yang turut mengancam: jika Turki tidak mengubah sikap politiknya, maka Rusia bisa saja menghancurkan negara bekas Khilafah tersebut dengan 10 rudal.

Padahal, jauh sebelum itu, Rusia sudah menyerang warga sipil Suriah keturunan Turki di sebelah barat provinsi Lattakia. Jauh sebelum “gertakan” itu dilancarkan, warga sipil Suriah keturunan Turki itu telah merasakan keganasan rudal-rudal Rusia.

Kemenhan Rusia menerangkan, ada 17 wilayah etnis Turkmen di Suriah yang telah digempur Rusia sejak 30 September 2015. Imbas dari serangan ini memaksa 2000 warga penduduk Suriah keturunan Turki meninggalkan kampung halaman mereka.

Mehmet Şandır, mantan anggota parlemen dari partai Gerakan Nasionali, mengatakan bahwa hari ini penduduk Suriah keturunan Turki menghadapi pembersihan etnis di Suriah utara. Bantuan kemanusiaan kepada penduduk Suriah keturunan Turki itupun masih jauh dari cukup.

Tapi, siapa yang menulis nasehat untuk Putin agar menghentikan kekejamannya? Siapa yang peduli terhadap mereka? PBB, Bashar Assad, Amerika? Tidak ada. Israel dan Rusia pun justru melakukan saling koordinasi, baik di Moskow maupun Tel Aviv, untuk mengamankan agresi militer mereka di Suriah.

Hanya Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric yang meminta agar Rusia mencegah jatuhnya korban sipil atas serangan-serangannya ke Wilayah Suriah. Itupun PBB bicara setelah ditanya kantor berita Anadolu.

Pertanyaannya adalah, benarkah serangan Rusia hanya dialamatkan kepada ISIS sebagaimana klaim resmi Rusia selama ini? Realita justru menunjukkan pihak yang turut menjadi korban pertama serangan Rusia justru kebanyakan warga sipil Suriah, termasuk anak-anak. Mereka adalah warga Homs, yang jaraknya jauh dari Raqqah, basecamp ISIS yang disebut-sebut Rusia sebagai target serangan.

Kelompok HAM di Suriah, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mencatat, sejak Rusia menyerang Suriah pada tanggal 30 September 2015 hingga 20 November 2015, 403 penduduk sipil telah tewas, termasuk di antaranya adalah anak-anak.

Sementara itu, Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Network for Human Rights/SNHR), mencatat sedikitnya 526 tewas, termasuk 137 anak-anak, sejak Rusia meluncurkan serangan udara pertama.

Salah satu korban serangan Rusia itu adalah bocah Suriah bernama Raghad. Jika anak perempuannya pada umumnya, menjadikan boneka sebagai temannya, maka Raghad sejak kecil “bersahabat” dengan desingan peluru dan lontaran bom.

Pada 30 September, sahabatnya itu menyapanya. Ia datang dari langit Suriah. Dikirim jauh dari negeri beruang merah. Mengetuk, menyapa, menghampirinya. Dan, bom dari Moskow itu benar-benar menghancurkan rumahnya.

Mulai saat itu, senyum Raghad tak lagi mengembang. Mata kirinya melebam ke dalam. Hari itu Raghad tiada, tewas. Iya, oleh “sahabatnya”.

Raghad tidak sendiri, sebab pada hari itu, empat anak lainnya ikut meregang nyawa oleh serangan Rusia.

Data-data ini kian membenarkan ucapan tokoh oposisi Rusia Garry Kasparov yang menegaskan serangan Rusia ke Suriah hanya akan menjadi dukungan bagi Bashar Assad untuk melanggengkan pembunuhan terhadap warga sipil di Suriah.

“Putin membantu Asad membunuh warga sipil dan menghancurkan semua oposisi, kecuali ISIS. Hampir ribuan warga Suriah dibunuh secara massal oleh Assad dan Putin,” ujar Kasparov dalam akun twitternya.

Langkah Rusia memasuki Suriah juga menimbulkan kritikan tajam dari sejumlah pemimpin muslim di Rusia. Seorang Mufti di Rusia, Nafigulla Ashirov, mempertanyakan sikap Putin untuk memaksa masuk ke Suriah untuk mem-back-up Bashar Aassad.

Ashirov menilai, tidak ada jaminan serangan Rusia hanya ditujukan untuk menyasar ISIS. Sebab, dalam banyak kejadian, serangan Rusia seringkali kerap menimbulkan korban tewas di kalangan sipil.

Kritikan kalangan muslim Rusia didasari atas rasa ukhuwah mereka sebagai sesama muslim. Ikatan ukhuwah inilah yang menyatukan hati warga muslim Suriah dan Rusia, meski mereka harus menerima kenyataan pahit karena Putin tetap tidak mundur untuk melangsungkan niatnya melakukan agresi militer di Suriah.

“Bashar al-Assad terkenal atas perlawanannya terhadap Muslim Suriah,” keluh aktivis Muslim, Ali Charinsky.

“Semua Muslim adalah salah satu komunitas, satu tubuh -itulah mengapa kita tidak bisa menerima keputusan Rusia. Tak satu pun teman-teman saya atau Muslim yang saya kenal menerima hal itu…”

Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, seharusnya Rusia memainkan peran penting untuk menjaga perdamaian dunia, bukan justru terlibat sebagai perpanjangan tangan kejahatan HAM yang dilakukan oleh Presiden Bashar Assad. Agresi keduanya menjadi bukti dan saksi atas hilangnya rasa kemanusiaan dari negara-negara yang ikut memperburuk kondisi kemanusiaan di Suriah.

Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai sesama manusia? Apakah kita menjadi bagian yang memperburuk kondisi kemanusiaan di Suriah atau menjadi bagian untuk meringankan beban warga Suriah? Pilihan itu ada di tangan kita.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*