Seorang Anak Yatim Hadiahkan Puisi untuk Madaya

pembacaan puisi

Binjai, Syamorganizer.com – Ahad (14/2/16), Syam Organizer kembali mengadakan event serentak berupa Tabligh Akbar solidaritas kemanusiaan yang diadakan di 26 kota di Indonesia. Tema yang diangkat adalah “Syam Menangis Madaya Menjerit”. Ini disesuaikan dengan kondisi bumi Syam saat ini khususnya Suriah dan Palestina yang terus-menerus semankin memperihatinkan. Begitu juga dengan kota kecil di Suriah yang bernama Madaya, kota ini sudah lama di blokade oleh rezim diktator hingga makanan sama sekali tidak bisa masuk ke kota tersebut.

Binjai adalah salah satu kota yang ikut andil dalam mengadakan Tabligh Akbar serentak. Pada kesempatan tersebut hadir Ust Fahmi Salim, Lc. M.A, pengurus MUI pusat dan Dr.H M Jamil, M.A, MUI Kota Binjai.

Pada acara Tabligh Akbar yang diadakan tepat pada pukul 09:30 WIB di Masjid Agung Binjai ini ada sedikit yang berbeda dari yang biasanya, sebab di tengah acara Tabligh Akbar setelah narasumber pertama Dr. H M Jamil, M.A berbicara mengenai kepedulian terhadap bumi Syam. Tampil seorang anak yatim kecil yang membacakan Puisi untuk “Madaya”, berikut puisi yang dibacakannya:

SYAM MENANGIS MADAYA MENJERIT
Mata ini sesak memandang bayi-bayi mungil tergeletak tak berdaya
Di tengah dentuman birmil dan desingan roket
Meluluhlantakkan bumi mereka
Mereka berusaha merintih
Tapi rintihannya disia-siakan debu-debu reruntuhan
Mereka berusaha menjerit
Tapi jeritannya ditelan udara hampa
Mereka berusaha menatap dengan sorot mata tajam berbicara
Tapi sorot matanya di lenyapkan oleh tawa canda saudaranya
Yang asik menyantap hidangan di meja makan
Yang asik menonton film
bahkan derita mereka menjadi Headline di beberapa media dan penyiaran

Hening yang di telan
Sepi yang dirasa
Sedih dan derita yang mendera
Menjadi perbincangan sepanjang masa
Sementara yang merasa penjaga perdamaian dan kemanusiaan dunia
Tak sanggup menembus kemahajahatan yang di tayangkan
Dalam sebuah layar lebar bernama Madaya

Bungkam dibungkam atau merasa tak berdaya
Syam menangis Madaya menjerit
Tapi rintihannya disia-siakan debu-debu reruntuhan
Dan jeritannya di telan oleh udara hampa
Hingga tulang mereka tetap menonjol di balik selaput kulit tipisnya
Cekung tajam matanya tak lagi mampu memberi makna
Pada siapa yang menyebutnya saudara

Wahai…
Tidak adakah nurani
Tidak adakah hati
Melihat kemanusiaan yang terus di kuliti
Yang tak pernah menyisakan kecuali
Segurat derita yang menggores panjang
Melengking tangis dari Abi dan Ummi
Madaya.. . . .

Demikianlah pusi yang di hadiahkan faiz seorang anak yatim untuk Madaya,
Walaupun tidak memiliki Ayah lagi tapi dia tetap menunjukkan kepeduliannya terhadap saudara-saudaranya di Madaya. (Abdurrahman/Syamorganizer.com)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*