Serahkan Hasil Usaha pada Allah dengan Doa dan Tawakal

FOTO UMAR
Purwodadi, Syamorganizer.com – Mencari tempat untuk terlaksananya event tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi event yang digelar sebuah Tabligh Akbar Serentak 26 Kota dengan mengusung tema Syam Menangis Madaya Menjerit. Meskipun di beberapa daerah event itu dapat dilaksanakan dengan baik bahkan terkadang hasilnya di luar dugaan para panitia yang mengusungnya, namun di Purwodadi tidaklah dapat berjalan semulus perjalanan di tempat lain.

Selain tidak banyak masjid yang memperkenankan Syam Organizer Purwodadi menggelar tabligh serentak tersebut, pembatalan secara mendadak pun sering dialami. Tetapi semua itu tidak menjadikan Syam Organizer Purwodadi menyerah, hingga akhirnya tempat pelaksanaan Event Tabligh Akbar Serentak 26 Kota pun didapatkan.

Yamata Center memperbolehkan Syam Organizer Purwodadi menggelar tabligh akbar di sana.

“Namun lokasi yang cukup “mblusuk”(bahasa jawa) atau terpencil berada di tengah-tengah sawah , jalan yang rusak membuat kami pesimis, ‘siapa yang akan mau hadir’ di tempat sehening ini?” kata salah seorang personel Syam Organizer Purwodadi kepada Syamorganizer.com.

“Namun koordinator Syam Organizer Purwodadi, yang saat itu mendapat tugas di luar Jawa sebagai pembicara pada event serentak ini, meyakinkan kami bahwa setelah kita berusaha maksimal, doa pun sudah kita panjatkan, selanjutnya Allah yang akan menentukan taqdir kita!” lanjutnya.

Dengan keyakinan itu akhirnya Tabligh Akbar Serentak 26 Kota dengan tema Syam Menangis Madaya Menjerit pun dilaksanakan. Ada kegelisahan yang dirasakan oleh panitia ketika jarum jam sudah mendekati angka 9 sementara peserta yang hadir masih dapat dihitung dengan jari.

Acarapun dimulai tepat pukul 09.00 WIB. Doa selalu dilantunkan meski dengan suara lirih atau bahkan hanya terucap dalam hati, doa disertai harapan agar Allah menggerakkan kaki kaum muslimin untuk menghadiri kegiatan itu. Dengan satu keyakinan bahwa usaha sudah dilaksanakan dengan maksimal, sehingga mereka dapat berharap bahwa apa yang telah dikerjakannya dapat menjadi hujjah di hadapan Allah tentang kesungguhan mereka mengkabarkan derita kaum muslimin di Bumi Syam.

Ustadz Lanang Mudadi sebagai moderator membuka tabligh akbar. Sebagai pembicara pertama yaitu Ustadz Taufik Hartono. Beliau paparkan materi dan data tentang apa yang terjadi di Madaya, sehingga tak ada lagi alasan bagi umat Islam untuk tidak membantu mereka dengan sekuat tenaga yang dipunyainya. Setelah beliau menutup materi yang beliau sampaikan, penggalangan dana sebagai bentuk kepedulian pun dilakukan dengan dipandu oleh moderator.

Di tengah keheningan menanti sebuah harapan melihat jumlah hadirin yang tak genap hitungan jari, tiba – tiba terdengar pelan sahutan seorang ibu di balik tabir hijab yang bersedia mendonasikan sebagian hartanya, tak lama kemudian ibu yang bersebelahan pun menyahut pelan untuk turut serta mendonasikan hartanya.
Penggalangan sesi pertama pun ditutup, kemudian berlanjut paparan sesi kedua yang disampaikan oleh Dudi Iskandar, relawan kemanusiaan Indonesia untuk Suriah. Merinding rasanya membayangkan duka negeri Syam yang seolah tak ada ujung habisnya. Merintih, menyesakkan dada menyaksikan luka demi luka derita kaum muslimin di Madaya yang kian merana. Kemana akan mereka teriakkan kata “ tolong! tolong! tolong kami!. Tak tampak lagi ada air mata iba di mata mereka karena tak tahu kemana harus menyapa luka. Tak tampak lagi tangis membasahi pipi mereka karena tak tahu juga kemana mereka harus mengusap tetesan air mata dan darah yang tak pernah sekalipun mereka minta. Tak tahu harus kemana mereka letakkan sebuah harapan dan doa kecuali mereka cukupkan atas dirinya hanya kepada Rabb-Nya dengan penuh iba…“mata nasrullah?”. Sampai kapan ini akan berakhir?, sampai kapan Syam Organizer akan terus peduli terhadap penderitaan yang terjadi di Syam?,” beliau menjawab, “sampai Syam kembali di pangkuan kaum muslimin”.

Apa yang dipaparkan relawan kemanusiaan Indonesia untuk Suriah tim kedua inipun membuat suasana bertambah menjadi haru. Pilu dan mengharu biru.

Selanjutnya sang moderator kembali mengetuk pintu hati kepedulian yang masih tersimpan di dalam dada untuk menggenapkan jumlah donasi yang sudah terkumpul di awal sesi penggalangan dana pertama.

Langkah kecil mungil mengejutkan panitia yang bertugas saat itu. Risya anak berumur 5 tahun itu merelakan lembaran rupiah untuk ia sedekahkan untuk menggenapkan jumlah donasi, tak lama kemudian langkah tegap dan gagah sosok serang anak kecil bernama Umar berlari sembari memegangi recehan yang ia bawa untuk sekedar menggenapkan jumlah donasi yang kurang 600,- rupiah saja.

“Subhanalloh merinding rasanya menyaksikan Umar saat itu, kembali ia selalu melangkah menyambut seruan moderator, saat menawarkan “siapa yang menggenapkan jumlah donasi agar mudah menghitungnya!”, lagi – lagi Umar pun selalu berlari meski hanya recehan yang ia bawa.” Papar panitia lewat email yang dikirimkan kepada redaksi Syamorganizer.com.

“Kami pun tidak ada yang tahu berapa langkah Umar berlalu lalang dan dari mana recehan itu selalu ada melengkapi setiap Umar berlari menuju di garis depan tepat di depan kami. Umar yang hadir saat itu membuat kami tak bisa menahan air mata”, lanjutnya.

Saat Indonesia hari ini bangga ada ‘Joey Alexander’ yang di usianya yang kedua belas tahun mencatat sejarah hadir sebagai anak yang termuda masuk dalam nominasi grammy awards 2016 di los Angeles, karena penampilannya memainkan piano yang memukau penonton grammy awards hari itu! Tapi hari ini sungguh lebih membanggakan sosok ‘Umar’ di usianya yang masih muda berlari dengan membara mengukir sejarah untuk menghantam congkaknya dunia. Anak kecil itu selalu menjadi yang pertama peduli dengan penderitaan saudara – saudaranya yang menderita kelaparan dan kesakitan di Madaya di Yamada Center.

“Apa yang dilakukan Umar membungkam kami dengan kecongkakan yang ada di hati”, katanya lebih lanjut.

“Sempat kami mengkerdilkan dan meremehkan tempat yang terpencil ini, sempat kami meragukan peserta yang hadir berjumlah tak genap hitungan jari, namun Umar pagi itu di event tabligh akbar serentak 26 kota di sudut pelosok kota bernama Purwodadi, ditengah – tengah semangat yang masih mencoba untuk bangkit bersama ratusan peluh yang mengalir di atas kulit, Alloh datangkan untuk membungkam keraguan kami untuk melangkah, Alloh datangkan Umar untuk menghadirkan nafas baru mengembalikan raga kami untuk bangkit dan berlari membelah mimpi di ujung langit” demikian panitia mengisahkan.

“Seiring realita betapa susahnya menyampaikan pesan duka ini di tengah – tengah umat yang masih buta akan luka mereka, kisah Umar kecil yang tak dikenal di mata dunia tapi tenar di ujung langit ini mampu menginspirasi semua orang untuk tak berhenti terus berlari mengejar Jannah, dengan membantu dan peduli dengan saudara – saudara yang terdzolimi. Meski badai datang menerjang, rintangan tinggi menjulang datang menghadang, meski dengan atau tanpa bantuan, selama matahari masih terbit dari timur, selama nafas masih menemani umur. Mari genggam erat bersama meraih mimpi dengan keinginan yang kuat, usaha, doa dan pengorbanan. Karena itu adalah sahabat yang selalu melekat dalam setiap langkah yang kuat, sehingga tak kan ada lagi resah, gelisah di kemudian hari untuk menyerah memikirkan masa depan yang cerah untuk menyelamatkan anak – anak Palestina dan Suriah!” Itulah yang diungkapkan panitia kepada Syamorganizer melalui emailnya. (soemantri/Syamorganizer.com)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*