Siapkan Energi Untuk 10 Hari Pertama Dzulhijjah!

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
 
Salah satu dari karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah dengan menjadikan beberapa musim ketaatan dan melipatgandakan pahalanya. Sehingga mereka terdorong memperbanyak amal shalih dan berlomba-lomba dalam bertaqarrub kepada-Nya. Maka orang yang beruntung adalah mereka yang mampu memanfaatkan musim-musim tersebut dan tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Di antara musim ketaatan itu adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
 
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan kesaksian langsung bahwa sepuluh hari pertama ini sebagai kumpulan hari terbaik. Beliau mendorong umatnya agar memperbanyak amal shalih padanya. Bahkan Allah sendiri telah bersumpah dengannya.  Dan sebenarnya ini saja sudah cukup menunjukkan keagungan kumpulan hari ini. Karena Allah yang Mahagung tidak akan bersumpah kecuali dengan sesuatu yang mulia di sisi-Nya.
 
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
 
Imam al-Thabari dalam menafsirkan “Walayaalin ‘Asr” (Dan malam yang sepuluh), “Dia adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli ta’wil (ahli tafsir).” (Jaami’ al Bayan fi Ta’wil al-Qur’an: 7/514)
Penafsiran ini dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini, “Dan malam-malam yang sepuluh, maksudnya: Sepuluh Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.” (Ibnu Katsir: 4/535)
 
Kemuliaan sepuluh hari ini juga disebutkan dalam Surat Al-Hajj dengan perintah agar memperbanyak menyebut nama Allah pada hari-hari tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 27-28)
 
Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini dengan menukil riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallaahu ‘Anhuma,  “Al-Ayyam al-Ma’lumat (hari-hari yang ditentukan) adalah hari-hari yang sepuluh.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/239)
 
Maka dapat disimpulkan bahwa keutamaan dan kemuliaan hari-hari yang sepuluh dari Dzulhijjah telah datang secara jelas dalam Al-Qur’an al-Karim yang dinamakan dengan Ayyam Ma’lumat karena keutamaannya dan kedudukannya yang mulia.
 
Sedangan dari hadits, Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Dawud dan  Ibnu Majah)
 
Keterangan ini sudah cukup menjadi landasan untuk mempersiapkan diri menyambutnya dengan gembira dan menjamunya dengan sebaik-baiknya saat ia sudah tiba, yakni dengan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan memperbanyak amal kebaikan; seperti shalat, berpuasa, membaca Al-Qur’an, dzikrullah, memperbanyak doa, membantu orang-orang yang kesusahan, menyantuni orang miskin, berkorban, dan selainnya. [Badrul Tamam/voa-islam.com]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*