Suriah; Pembantaian ‘Nero’ Abad 21 & Titik Tolak Revolusi Hakiki

“APA kabar Suriah hari ini?” Nampaknya itu adalah kalimat tanya yang pas untuk diucapkan oleh kita semua, terutama bagi seorang Muslim. Sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Muslim, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” secara tidak langsung menyatakan keharusan adanya kepedulian yang dibangun atas apa yang terjadi pada saudara kita sesama muslim, dalam hal ini Suriah. Betapa tidak, sudah 2 tahun lebih lamanya yang terhitung sejak Maret 2011, konflik yang terjadi di sana seakan luput dari pemberitaan media massa. Jika pun ada, hanya diberitakan sebagai konflik antara pemerintahan dan rakyat yang terjadi lazimnya seperti di negara-lain karena kekecewaan rakyat terhadap kebijakan pemerintah. Padahal fakta yang terjadi di lapangan lebih dari itu; pihak pemerintah Bashar Al-Assad sudah memerangi rakyatnya sendiri dengan kekuatan fisik dan militer. Jika berkaca pada sejarah, tindakan rezim Assad ini mirip dengan kisah pembantaian yang dilakukan oleh Kaisar Nero di Roma. Nero membantai rakyat Roma, juga istri dan ibunya dan menjadikan kaum Nasrani sebagai obor hidup. Maka pantaslah apa yang terjadi di Suriah hari ini dikatakan sebagai pembantaian Nero Abad 21 karena sudah memakan korban lebih dari 70.000 rakyatnya sendiri. Ada beberapa hal yang bisa kita analisis dari konflik Suriah ini, yakni : Pertama, pada awal mulanya, konflik terjadi karena rembetan Arab Spring dimana rakyat kecewa terhadap pemerintah. Namun Suriah berbeda. Revolusi yang terjadi disana tak dapat dibajak dengan mudah oleh Barat seperti halnya di Mesir, Tunisia, Yaman dan Libya. Muncul sebuah kesadaran dari rakyat Suriah yang menyatakan bahwa revolusi yang hakiki tak bisa didapat dengan jalan perjanjian-perjanjian, diplomasi, dan demokrasi; akan tetapi haruslah dengan mengambil syariah Islam yang diterapkan dalam institusi negara bernama Khilafah sebagai jalan satu-satunya. Tak salah jika rakyat Suriah menginginkan hal ini, mengingat Suriah pernah menjadi bagian dari negara Khilafah yang diruntuhkan tahun 1924 silam; negara yang berdiri selama 13 abad lamanya dan sempat menyatukan 2/3 dunia dalam satu kesatuan. Kedua, Barat, khususnya Amerika Serikat, dengan posisinya sekarang sebagai pemangku ideologi Kapitalisme, jelas tak mau posisinya digeser oleh kedigdayaan Islam yang awal kemunculannya bisa berawal dari revolusi-revolusi kecil seperti ini di Timur Tengah. Oleh karenanya wajar AS selalu turun tangan dengan label ‘polisi dunia’ untuk mengamankan kepentingannya di negeri-negeri berkonflik serta berusaha untuk menyebarkan ideologi Kapitalismenya ke negara lain untuk menjaga eksistensinya. Ketiga, konflik yang terjadi di Suriah hari ini bukan lagi masalah kebijakan pemerintahan yang menyengsarakan, tapi sudah berupa penyerangan secara fisik, yakni dengan menggunakan militer dan senjata kimia oleh Rezim Assad terhadap rakyatnya sendiri. Maka pengiriman tentara militer seharusnya menjadi sebuah solusi. Berbicara militer sebuah negara, tentu berbicara tentang penguasa negaranya karena ia menjadi corong politik dan penentu setiap kebijakan yang dilakukan oleh sebuah negara. Kemanakah penguasa negeri-negeri Muslim, khususnya negeri yang berbatasan langsung dengan Suriah; Libanon, Yordan, Palestina? Hanya karena sekat nasionalisme kah akhirnya mereka tidak membantu saudara Muslimnya sendiri? Negeri-negeri Eropa yang notabene berkiblat pada kemanusiaan dan perjuangan HAM pun dipertanyakan sikap politiknya jika tak mengirimkan tentaranya. Inikah bukti kejujuran (baca: kemunafikan) mereka terapkan pada negeri-negeri kaum Muslim? Untuk Boston Anda menangis sedang untuk Suriah tidak? Keempat, berbicara tentang solusi pengiriman tentara, tentu harus dideskripsikan tentara seperti apa yang mampu mengatasi masalah Suriah. Tentara yang membela Suriah dengan landasan aqidah Islam akan membawa sikap dan hasil yang berbeda dengan tentara yang berlandaskan kemanusiaan semata; ia pantang mundur karena orientasi mati syahid dan menganggap Suriah seperti bagian tubuhnya sendiri, sedangkan tentara kemanusiaan membela hanya atas landasan kasihan dan membela dengan membawa embel-embel negara masing-masing karena ia dididik dalam didikan nasionalisme, bukan atas asas Islam, misalnya Indonesia. Kelima, keberadaan tentara di Suriah memang mampu menyelesaikan masalah, tapi itu hanya untuk sementara waktu dan bersifat keregionalan Suriah saja, padahal masih banyak permasalahan yang harus ditangani, seperti korupsi, narkoba, free sex, premanisme, dll yang juga dialami oleh negeri-negeri lain di belahan dunia. Dibutuhkan sebuah solusi yang mampu menangani masalah-masalah tersebut sampai ke akar. Solusi tersebut tidak lain adalah penerapan kembali aturan Islam dalam bingkai institusi Khilafah. Wacana kehancuran ideologi Kapitalisme sudah menjadi wacana dunia hari ini; banyak pakar yang memprediksi kejayaan Islam akan bangkit kembali. Oleh karena itu, disadari atau tidak, konflik yang terjadi di negeri kaum muslim hari ini bukanlah sekedar konflik kenegaraan biasa, tapi sebuah benturan dua peradaban, yakni Kapitalisme yang terseok-seok mempertahankan eksistensinya dan Islam yang mulai bangkit. Di bawah naungan Kapitalisme, dunia dibuat bersifat unipolar; dengan keberadaan AS sebagai polisi dunia dan PBB sebagai organisasi ‘pengontrol’ negara dunia, dengan tujuan sebisa mungkin menghambat kebangkitan Islam. Penerapan Islam dalam naungan Khilafah pada akhirnya bukan hanya berorientasi benefit saja setelah mampu diterapkan -seperti yang dikatakan oleh para sejarawan mengenai kegemilangannya penerapannya, akan tetapi merupakan sebuah konsekuensi keimanan yang mendasar bila ia seorang Muslim, seperti yang termaktub dalam potongan ayat berikut : “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yg mereka perselisihkan…” (QS. An-Nissa : 65) “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Alloh bagi mereka yang meyakini (agamanya)?” (QS Al-Maaidah: 50) Menjadikan Allah dan Rasul sebagai hakim berarti menjadikan Islam sebagai solusi dalam semua permasalahan kehidupan dan mengamalkan keseluruhan isi Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup umat. Hal tersebut hanya bisa terlaksana apabila kita menerapkan aturan Islam dalam bingkai Khilafah. Jika rakyat Suriah dengan perjuangan fisiknya diprediksi mampu menjadikan Suriah sebagai titik tolak sebuah revolusi yang hakiki, bukan berarti kita yang berada di tanah Indonesia tak bisa turut membantu. Mendukung propaganda, berjuang, dan mempersiapkan umat menuju penegakkan syariah-khilafah di muka bumi adalah cara yang bisa kita lakukan mulai dari sekarang. Oleh : , Penulis adalah Staf Kajian Strategis BEM Kema FKep Unpad dalam www.islampos.com

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*