Tak Sekadar Beda Persepsi: Sebuah Catatan untuk Jalaluddin Rakhmat

DALAM acara ‘Satu Meja’ bertema, “Kapan Kasus Syiah bisa Dituntaskan” di Kompas TV, Senin (16 September 2013), Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), menyampaikan  ‘hinaan’ terhadap Sahabat Nabi hanyalah perbedaan persepsi.

“Tadi Bu Musdah (Dr Musdah Mulia, red) mengatakan, dalam perbedaan pendapat dihargai dalam konstitusi kita, termasuk perbedaan tanggapan terhadap sahabat. Jadi kalau ada perbedaan persepsi  orang Syiah terhadap Sahabat, tidak boleh kita artikan sebagai penghinaan terhadap Sahabat, “ ujar Jalaluddin Rahmat.

Seperti diketahui, dalam al-Qur’an Allah telah ridha kepada para Sahabat yang telah berbaiat (berjanji-setia) di bawah pohon (bai’at al-Riḍwān), yang berjumlah 1.400 orang, diantaranya ada 10 orang mendapat jaminan masuk surga (al-‘asyrah al-mubasysyarūn bi al-jannah).

Allah memuji para Sahabat yang memeluk Islam sebelum Fatḥ Makkah (“Pembebasan Kota Mekah”) dan setelahnya. Dijelaskan pula bahwa siapa saja yang memeluk Islam sebelum Fatḥ Makkah kedudukannya lebih mulia (afḍal). Seluruh mereka dijanjikan oleh Allah mendapat anugerah kebaikan (Qs. al-Ḥadīd [57]: 10). 

Allah juga menjelaskan di dalam al-Qur’an bahwa istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam adalah ibu seluruh kaum beriman (ummahāt al-mu’minīn) (Qs. al-Aḥzāb [33]: 6). Di sini Allah tidak memberikan pengecualian kepada siapapun dari mereka. Juga, Allah menjelaskan bahwa ketika istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam. disuruh memilih antara kenikmatan duniawi dan hidup bersama Rasul-Nya, mereka memilih untuk hidup bersama beliau sampai wafatnya. Sekiranya mereka memilih duniawi, niscaya di dalam Islam mereka tidak dibenarkan hidup sehidup-semati bersama Nabi. Bahkan, beliau harus menceraikan mereka seluruhnya.

Allah juga sangat memuji kaum al-Muhājirīn dan kaum al-Anṣār. Kaum al-Muhājirīn disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang beruntung (al-mufliḥūn). Sementara kaum al-Anṣār disebut oleh Allah sebagai orang-orang yang jujur dan benar dalam beragama (al-Ṣādiqūn). Plus, Allah juga menegaskan bahwa kaum beriman setelah mereka semua adalah: orang-orang yang mendoakan mereka dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka kepada Allah. Jadi mereka bukan orang-orang yang suka mencaci-maki setiap pagi dan petang (Qs. al-Ḥasyr [59]: 8-10)

Jangan Caci-maki Sahabatku!
Selain beberapa ayat Al-Qur’an di atas, sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam. menegaskan kewajiban mencintai dan menghormati para Sahabat. Karena mereka adalah manusia-manusia mulia dan terhormat di hadapan Allah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam. menjelaskan, “Allah telah memilih para Sahabatku atas “al-Tsaqalain” (jin dan manusia) selain para nabi dan para rasul.” (HR. al-Bazzār).

Sahl ibn Sa’d bertutur ketika persiapan Perang Khandaq. Katanya, “Kami bersama Rasulillah Shalallahu ‘alaihi Wassalam. ketika beliau menggali parit sementara kami memindahkan tanah. Kemudian beliau melewati kami dan berdoa: ‘Ya Allah, sungguh tidak ada kehidupan sejati kecuali kehidupan dalam naungan persaudaraan, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.” (HR. al-Bukhārī, Muslim, al-Nasa’ī, dan al-Tirmidzī).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam. bersabda, Lā tasubbū aṣḥābī, falawu anna aḥadakum anfaqa mitsla Uḥud dzahaban mā balagha mudda aḥadihim walā nuṣaifahu (Jangan kalian caci-maki Sahabat-sahabatku! Sekiranya seorang dari kalian menginfakkan hartanya berupa emas sebesar  (seukuran) Gunung Uhud, dia tidak akan menyamai keutamaan seorang dari mereka, bahkan setengahnya pun tidak akan sampai) (HR. al-Bukhārī dan Muslim).

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wa al-Jamā‘ah sepakat bahwa mencintai seluruh Sahabat dan menjadikannya sebagai panutan hukumnya wajib. Tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali ahli bid’ah. Imam al-Lālikā’ī dalam Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahlus Sunnah wa al-Jamā‘ah menyebutkan satu riwayat dari Qabīṣah ibn ‘Uqbah, beliau berkata, “Mencintai seluruh Sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam. adalah sunnah.”

 Bahkan, ketika al-Ḥasan al-Baṣrī ditanya, “Apakah mencintai Abū Bakr dan ‘Umar hukumnya sunnah?” Beliau menjawab, “Tidak, tapi wajib!” Lebih indah lagi, Ayyūb al-Sakhtiyānī menyatakan, “Siapa saja yang mencintai Abū Bakr al-Ṣiddīq berarti telah menegakkan agama. Siapa yang mencintai ‘Umar berarti telah memperjelas jalan (agama). Siapa yang mencintai ‘Utsmān berarti telah menerangi hidupnya dengan cahaya agama. Dan siapa yang mencintai ‘Alī ibn Abī Ṭālib berarti telah berpenggang-teguh kepada tali Tawhid. Dan, siapa saja yang berkata-kata yang baik tentang Sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam. berarti telah terbebas dari kemunafikan.” (Lihat, Ibrāhīm ibn ‘Āmir al-Raḥīlī, Maḥḍ al-Iṣābah fī Taḥrīr ‘Aqīdah Ahlus Sunnah wa al-Jamā‘ah wa Mukhālifīhim fī al-Ṣaḥābah (Dār al-Imām Aḥmad, ttp.).

Syi’ah Mencaci-maki Sahabat
Berbeda antara Ahlus Sunnah wal-Jamā‘ah dan Syiah. Dalam masalah Sahabat kedua mazhab ini memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Mereka tak segan-segan untuk menghujat fondasi-fondasi akidah seperti hujatan terhadap Sahabat Nabi. Padahal masalah penghujatan terhadap para Sahabat Nabi merupakan perbuatan yang tidak dapat dibenarkan.

Dalam Buku Putih Mazhab Syiah yang ditulis oleh Tim Ahlul Bait Indonesia (ABI) juga disebutkan pandangan yang keliru mengenai konsepsi Ahlus Sunnah wa al-Jamā‘ah mengenai ‘udūl-nya para Sahabat. Menurut tim penulis buku itu,

    “Pada kenyataannya, meski sebagai prinsip umum para ulama Ahlus Sunnah menyebut bahwa semua sahabat bersifat terlindungi dari kesalahan (‘udul), tak jarang dalam kenyataannya sebagian di antara mereka – berdasar hadis-hadis sahih – menyebutkan kesalahan sebagian orang yang termasuk dalam golongan sahabat.” (Lihat, Tim Ahlul Bait Indonesia (ABI), Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Para Ulamanya yang Muktabar: Penjelasan Ringkas-Lengkap untuk Kerukunan Umat (Jakarta Selatan: Dewan Pusat Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia, cet. IV, 2012, hlm. 56).

Mengartikan ‘udūl dengan ‘bersifat terlindung dari kesalahan’ juga salah kaprah dan tidak dapat dibenarkan. Karena sebagaimana manusia biasa para Sahabat tidaklah ma‘ṣūm (bebasa dan kesalahan dan dosa). Meskipun begitu seluruh kesalahan para Sahabat yang pernah keliru bahkan meragukan agama Rasulullah, seperti dalam kasus Perang Tabūk, telah diampuni oleh Allah. Begitu mereka sadar bahwa mereka keliru dan bertubat, taubat mereka diterima oleh Allah Swt. (Qs. al-Tawbah [9]: 117).

Coba pula renungkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam. mengenai para syuhada’ Perang Badar. Kata beliau, “Semoga Allah melihat Ahli Badar, lalu Dia berfirman: ‘Bekerjalah kalian menurut yang kalian kehendaki, karena kalian wajib masuk surga, atau kalian telah Aku ampuni’.” (HR. al-Bukhārī). Tidak hanya itu, Imam al-Tirmidzī meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam. bersabda, “Tidak akan disentuh oleh api neraka seorang Muslim yang melihatku atau melihat orang yang pernah melihatku.” (HR. al-Tirmidzī, dari Jābir ibn Abdillāh).

Meskipun begitu, Ulama’ Ahlus Sunnah wa al-Jamā‘ah tidak pernah menganggap para Sahabat sebagaimana manusia yang ma‘ṣūm (terhindar dari salah dan dosa). Namun mereka sepakat bahwa mereka adalah manusia pilihan, manusia terbaik, dan kesalahan dan kekeliruan mereka telah diampuni oleh Allah.

Mereka tidak seperti para “imam” di kalangan Syi’ah yang dianggap ma‘ṣūm bahkan dapat mencapai derajat yang tidak dapat dicapai oleh malaikat terdekat kepada Allah dan rasul sekalipun, seperti yang dikatakan oleh Al-Khomeini. Agar lebih meyakinkan, dapat kita lihat pernyataan Al-Khomeini di bawah ini:

    وبموجب ما لدينا من الروايات والأحاديث فإن الرسول الأعظم (ص) والأئمة (ع) كانوا قبل هذا العالم أنوارا فجعلهم الله بعرشه محدقين، وجعل لهم من المنزلة والزلفى ما لايعلمه إلا الله. وقد قال جبريل – كما ورد فى روايات المعراج – : لو دنوت انملة لاحترقت. وقد ورد عنهم (ع): إن لنا مع الله حالات لا يسعها ((ملك مقرب ولا نبي مرسل)). (الإمام المجاهد السيد روح الله الخمينى، الحكومة الإسلامية (ألقاها الإمام الخمينى على طلاب علوم الدين فى النجف الأشرف تحت عنوان ((ولاية الفقيه))، 13 ذوالقعدة 1389)، ص: 52).

    (Lihat, Imam Al-Khomeini, al-Ḥukūmah al-Islāmiyyah (Disampaikan di Najf dengan judul “Wilāyat al-Faqīh, 13 Dzulqa’dah 1389), hlm. 52). Jadi, para “imam” menurut Syi’ah lebih baik daripada malaikat dan rasul-rasul Allah. Ini jelas tindakan dan sikap yang berlebihan (al-ghuluww).

Bahkan dalam pandangan Ahlus Sunnah wa al-Jamā‘ah para Sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam. selurunya adalah ‘udūl (adil). Namun dalam pandangan Syi’ah menjadi berbeda. Gara-gara tidak memilih ‘Alī ibn Abī Ṭālib 114 ribu Sahabat sepeninggal Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam. itu harus menanggung dosa besar. (Lihat, Prof. Dr. Mohammad Baharun, 201 Tanya Jawab Syi’ah (Jakarta: Sinergi [Kelompok GIP], 1434 H/2013 M), hlm. 27). Maka tak heran jika Abū Bakar dan ‘Umar disebut sebagai al-Jibt wa al-Ṭāghūt (Patung atau Setan). Lihat, ‘Allāmah Tsānī Ayatullah Al-Mamqānī, Tanqīḥ al-Maqāl fī Aḥwāl al-Rijāl (1352 H, Vol 1, hlm. 207).

Bahkan kaum Syiah dari sekte al-Rāfiḍah menyebut Ahlus Sunnah yang lebih mendahulukan Abū Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsmān daripada ‘Alī dalam masalah khilāfah sebagai kelompok yang oleh mereka disebut dengan ‘al-Nāṣibah’: orang yang membenci Ahlul Bait. Atau, yang mendahulukan kepemimpinan Abū Bakar dan ‘Umar, sebagaimana disebutkan oleh tokoh Syiah Al-Mamqānī dalam bukunya Tanqīḥ al-Maqāl di atas.

Kaum Syi’ah memang sangat memusuhi Sahabat, kecuali sebagian kecil saja (tidak lebih dari 13 orang). Bahkan, kebencian mereka ini meliputi Ahli Bait Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassalam. sendiri, seperti: al-‘Abbās (paman Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassalam.) dan anaknya, ‘Abd Allāh ibn ‘Abbās (berjuluk Ḥabr al-Ummah). (Baca, Dr. Rāghib al-Sirjānī, al-Syī‘ah: Niḍāl am Ḍalāl (Kairo: Dār Aqlām li al-Nasyr wa al-Tawzī‘ wa al-Tarjamah, 1432 H/2011 M), hlm. 14).

Hujatan terhadap Sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam. yang dilakukan siapapun, menurut ulama’ Ahlus Sunnah wa al-Jamā‘ah, hukumnya sangat berat. Karena mereka, kata Ibn Ḥazm al-Andalusī, mutlak penghuni surga. Menurut Imam Aḥmad, siapa saja yang menghina Sahabat harus dihukum bahkan dipukul supaya jera. Karena mereka harus disucikan, dipuji, dan dihormati, kata Ibn Hajar al-Haitsamī (Mazhab Syafi’i). Begitu pula menurut Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah (mazhab Hanbali), Ibn ‘Ābidīn (mazhab Hanafi), dan ulama Sunni lainnya. (Lihat, Ḥukm Sabb al-Ṣaḥābah li Ibn Ḥajar al-Haitsamī, wa Ibn Taimiyyah, wa Ibn ‘Ābidīn (Kairo: al-Maṭba‘ah al-Fanniyyah, cet. I, 1398 H/1978 M).

Sebagai catatan akhir, penting dikemukakan bahwa tidak akan pernah dicapai kesepahaman apalagi kehidupan yang harmonis antara kaum Sunni dan Syi’i selama masih ada caci-maki terhadap para Sahabat Rasulillah Shalallahu ‘alaihi Wassalam.: manusia terbaik yang telah diampuni oleh Allah dan diridhai-Nya serta dibanggakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam. sebagai generasi terbaik. Semoga Allah membukakan hati kita agar dapat berpikir dengan sehat dan jernih. Karena dalam masalah penghormatan maupun caci-maki terhadap Sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam. bukan sekadar caci-maki. Tapi ini bagian dari akidah yang akan dipertanggungjawabkan setelah mati. Wallāhu a‘lamu bi al-Ṣawāb.

Oleh : Qosim Nursheha Dzulhadi 
(Guru di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Menulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia” (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2013 M) dan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sumatera Utara
Rep: Anonymous www.hidayatullah.com)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*