Tangismu meredakan tangis dan derita mereka

Pagi yang cerah di hari yang ke-21 di bulan Romadhon yang mulia. Hari yang mungkin menjadi hari istimewa bagi kaum muslimin pada umumnya dan relawan Syam Organizer dan tim HASI ke- 8  pada khususnya. Hari yang menjadi bagian dari 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Hari-hari yang Allah memberikan sebuah fadhilah agung berupa Lailatul Qodr. Bagi orang-orang sholih, kesempatan emas dan berharga ini tidak akan dilewatkan begitu saja. Program I’tikaf di beberapa masjid mereka ikuti. Salat, shiyam, tadarus, tilawah dan amal sholih lainnya menjadi upaya untuk menggapai malam kemuliaan tersebut.

Bagi relawan syam Organizer dan Tim HASI ke-8, hari-hari akhir untuk I’tikaf di bulan Romadhon harus mereka relakan untuk ditinggalkan demi  menunaikan sebuah amanah besar dan agung. Amanah yang memiliki hukum sampai pada tingkat fardhu (kewajiban). Sebuah amalan yang harus ditanggung oleh seluruh kaum muslimin namun apabila sebagian dari mereka telah menunaikan maka gugurlah kewajiban itu atas sebagian yang lain. Itulah fardhu kifayah. Sebuah amalan yang menjadi barometer iman, ujud nyata dari konsokwensi persaudaraan Iman –ukhuwah Islamiyyah-. Merealisasikan ukhuwah bagi saudara-saudara seiman dan seislam yang tertindas di bumi Syam khususnya di Suriah. Sudah mencapai angka 200.000an korban dari kaum muslimin yang dibantai oleh rezim thoghut nushoiriyah –la’natullooh ‘alaihim-.

Hari demi hari berganti dalam kurun waktu 2,5 tahun. Pembantaian terhadap kaum muslimin Suriah masih terus berlangsung. Tak pelak, kondisi seperti ini membangkitkan semangat perlawanan dan perjuangan dari rakyat muslim Suriah melawan rezim yang telah menindas selama 40 tahun lebih. Bagi orang-orang yang masih memiliki iman dalam jiwanya tentu saja tidak akan membiarkan saudara-saudaranya  seiman ditindas, didholimi dan dibantai. Di sana ada hak bagi mereka dan kewajiban atas saudara lainnya untuk membantu menyelamatkan mereka atas dasar ukhuwah imaniyyah. 

Itulah amanah dan tugas yang diemban oleh relawan Syam Organizer dan Tim HASI ke – 8 sebagai penggugur kewajiban atas saudara lainnya kaum muslimin Indonesia. Kewajiban yang harus ditunaikan demi membela dan menolong saudara yang tertindas di belahan bumi lain yaitu negri Syam.

Relawan Syam Organizer ( Ustd. Abu Shofie dan Abu Fawzan Saiful Anwar) dan Tim HASI ke- 8 yang terdiri dari dua penerjemah, satu dokter dan seorang perawat (Abu Harits, Abu Romi, Abu Huur dan Abu Samir) harus merelakan untuk meninggalkan istri, anak, keluarga dan handai taulan mereka selama satu bulan –in shaa Allah-. Di saat semua berharap di akhir-akhir Ramadhan dan di hari Ied ingin berkumpul dan bertemu dengan kerabat, keluarga serta handai taulan maka mereka justru memilih untuk berpisah. Berpisah demi suatu ibadah.

picture by- nescafesejuk
Tidak mengherankan suasana haru dan syahdu membalut pelepasan kepergian mereka. Tangis haru menganak sungai di pipi-pipi keluarga mereka. Adalah suatu hal yang menusiawi, mereka para keluarga sedih ditinggal pergi oleh salah satu dari anggota keluarganya untuk sebuah misi berat nan agung yang terkadang harus bertaruh nyawa.

Namun di sisi lain, ada sebuah harapan besar dari kesedihan dan kaharuan para keluarga. Mereka berharap keikhlasan melepas anggota keluarganya bagian dari pembelaan untuk agama Allah dan jihad fi sabilillaah. Mereka berharap termasuk dari bagian sabda Nabi saw yang tercinta :

عن زيد بن خالد رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : “من جهز غازيا في سبيل الله فقد غزا، ومن خلف غازيا في أهله بخير فقد غزا”. متفق عليه.
Dari Zaid bin Kholid ra. Bahwa Rosululloh saw bersabda :“… barang siapa yang menyiapkan seorang pejuang di jalan Allah maka hakikatnya dirinya telah berjuang, dan barang siapa yang mengurus keluarga pejuang dengan baik maka dirinya telah berjuang…” (muttafaq ‘alaih)

Itulah suatu pengharapan yang mungkin bisa menjadi obat kesedihan bagi mereka para keluarga. Meskipun mereka sadari atau tidak disadari bahwa apa yang telah ia relakan untuk Allah ta’ala pastilah mendapatkan nilai tersendiri di sisi-Nya dengan ganti yang lebih baik dari-Nya.

Tangismu membalut luka mereka

Pada kenyataannya, relawan Syam Organizer dan tim medis HASI ke-8 menemui kondisi konflik yang semakin memanas khususnya di kawasan propinsi Latakia. Pertempuran sengit masih terus terjadi hingga tulisan ini ditulis. Tak pelak, korban pun berjatuhan. Rakyat dan penduduk di kawasan Jabal Akrod tempat tim bertugas juga menjadi target amukan roket, tank dan pesawat tempur milik rezim thoghut.
Darah berceceran melumuri lantai-lantai RSL Salma. Luka-luka menganga lebar pada sekujur tubuh para korban. Suara rintihan kesakitan dan tangisan menghiasi ruangan UGD RSL salma. Peluh keringat para dokter dan tim medis bercucuran demi memberikan pertolongan kepada mereka.
Tim dokter dan perawat HASI ditemani dengan dua penerjemah turun tangan ikut serta dalam menolong mereka. Dengan dedikasi dan niatan tulus, mereka berupaya semaksimal mungkin untuk menghentikan pendarahan dan menjahit luka. Suasana kerja medis di RSL Salma memang tidak ideal untuk memberikan tindakan medis optimal dan perawatan intensif bagi para korban. Hal itu dikarenakan, para dokter dan tim medis lainnya bekerja di bawah bayang-bayang muntahan bom, roket serta tembakan tanki-tank baja.

Demikianlah gambaran sedikit tentang kondisi lapangan para tim medis HASI 8. Mereka pun berupaya sekuat tenaga dan sesuai kemampuan dalam menolong saudara-saudara seiman yang terluka. -Inshaa Allah-Tangis haru dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan tidak akan tertumpah begitu saja. Tangis haru dan kesedihan mereka adalah bagian dari obat penyembuh luka dan penenang jiwa bagi saudara seiman dan seislam di bumi Syam.

“Ayah-bundaku, istriku dan anak-anakku… tangismu meredakan tangis dan menjahit luka mereka… baarokalloh fiikum… wa taqoobbalallooh minnaa wa minkum shoolihal a’maal…”

Salma, 5 Syawal 1434 H

Rep: Abu Harits  
Red: Osama

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*