Tatapan Anak Itu………

“Adik mau permen?”
Anak itu hanya menggeleng.
“Lalu adik pingin apa?”
Ditatapnya anak itu dengan kasih sayang. Sejurus kemudian anak itu menatap wajah sang laki-laki yang baru saja dilihatnya.
“Boleh ndak saya ikut ke negeri Om” Suaranya sendu penuh iba
“Kenapa?”
“Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di sini”

Trenyuh. Hampir saja air mata laki-laki itu menetes.
Demikianlah sekilas pembicaraan yang dituturkan oleh ust. Fauzan relawan dari Syam Organizer saat berkunjung di Khurbatul Jauz, di sebuah kamp pengungsian. Tidak sedikit anak-anak yang terpaksa harus menjalani hari-harinya tanpa belaian kasih sayang orang tua. Tidak sedikit dari mereka yang harus berpisah dengan orang yang seharusnya mendampingi kehidupannya.

Rumah yang seharusnya dapat digunakan oleh mereka untuk bermanja dengan orang tua, kini telah hancur oleh serangan birmil si laknatullah, Basyar Assad. Orang tua yang seharusnya menjadi curahan rasa kini tiada diketahui rimbanya. Kini mereka harus berada di kamp-kamp pengungsian yang dindinya tidak mampu mengusir dingin yang mereka rasakan. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak kebagian tenda, harus tidur di bawah pohon-pohon yang kerindangan serta keteduhannya tidak bisa melindungi mereka dari dingin malam dan panasnya siang.

Dan pada bulan Oktober nanti musim dingin akan datang menyapa mereka. Suhu di bawah nol derajat akan menggigit daging dan tulang mereka. Tidak ada selimut tebal yang dapat digunakan untuk mengusir dinginnya malam. Tidak ada perapian yang mampu menggantikan kasih sayang dan kehangatan pelukan orang tua mereka.

Ini bukan cerita imaji. Bukan pula untuk menimbulkan rasa iba di hati. Semua adalah kisah nyata, dari  bumi mulia, Suriah, salah satu bagian dari bumi Syam. Kisah nyata yang menguji keimanan kita. Kenyataan yang menuntut kita ikut merasa. Merasa bahwa mereka adalah saudara kita. Saudara yang punya hak untuk dibantu. Sekali lagi bukan mereka yang meminta. Tapi tuntutan imanlah yang memintanya. Karena selama ini dan sampai saat ini kita mengakui telah beriman kepada Allah dan Nabi-Nya, telah beriman kepada Al Qur’an dan Malaikat, Hari Akhir dan Takdir-Nya. Saat ini keimanan itu dituntut realisasinya. Bukan suadara kita di Suriah yang meminta, tapi keimanan kita, yah, keimanan kita.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*