Testimoni Relawan, Motivasi Crew Syam Organizer

testimoni

Yogyakarta, Syamorganizer.com – Sesi testimoni relawan mengawali sesi Rakernas Syam Organizer pada hari Sabtu (16/1/2016). Dari 16 relawan yang pernah dikirim oleh Syam Organizer yang hadir pada acara Rakernas ke 5 Syam Organizer hanya ada 7 relawan. Testimoni itu menjadi sarana motivasi bagi seluruh crew Syam Organizer. Setiap relawan membawa kisah yang unik dan selalu membuat suasana haru.

Mas Aan misalnya, relawan ini menceritakan saat dia hendak mengambil gambar dokumentasi sebuah pasar yang beberapa jam sebelumnya dijatuhi roket oleh rezim Bashar Assad. Namun tiba-tiba ada seorang lelaki tua yang kemudian marah-marah dan hendak mengusir relawan tadi.

“Sudah banyak yang mengambil gambar dan dokumentasi dari kami. Tapi mana buktinya, sampai sekarang kondisi kami masih seperti ini?”, demikian kemarahan lelaki itu. Namun setelah dijelaskan oleh relawan lokal, akhirnya relawan tersebut diijinkan untuk mengambil gambar.

Lain lagi cerita dari Abu Asma, relawan kemanusiaan Syam Organizer untuk Suriah tim ke 5. Dia menceritakan, ketika bantuan dari Turki datang dalam jumlah yang banyak, jauh dari yang dibawa relawan Syam Organizer, tetapi anehnya banyak dari warga Suriah yang mengerumuni relawan Syam Organizer. Ya, orang-orang Suriah lebih memilih relawan dari Syam Organizer.

“Orang-orang ini yang selalu datang ke sini ketika negara-negara tetangga kami yang dekat tidak peduli dengan kami. Kami mencintai kalian, jauh dari saudara kami”, demikian Abu Asma menirukan apa yang pernah didengarnya dari orang-orang Suriah.

“Karenanya, janganlah pesimis wahai Saudaraku. Ingatlah dengan jumlah rupiah yang kecil ini dapat menjadi hujah di hadapan Allah bahwa kita telah berbuat untuk saudara kita di Suriah”, katanya mengakhiri pembicaraannya.

Pada kesempatan yang sama, Chairul Abu Usamah menjelaskan bahwa meskipun dalam situasi perang ternyata banyak barang-barang di Suriah yang justru harganya lebih murah jika dibandingkan dengan harga di Indonesia. Relawan ke 4 itu memberikan contoh harga anggur dan apel yang satu kilonya harganya tidak mencapai sepuluh ribu.

“Ini salah satu wujud dari keberkahan Bumi Syam, khususnya Suriah”, ungkapnya. Chairul Abu Usamah memang diberangkatkan ke Suriah saat di Suriah sedang panen buah apel dan anggur. Sehingga buah itu dapat mereka peroleh dengan mudah. Bahkan kedua relawan saat itu berkesempatan membantu panen buah apel.

Lain lagi dengan Laswadi dan Saiful Haq. Relawan kemanusiaan Syam Organizer untuk Suriah tim ke 6 ini diberangkatkan ketika Suriah akan memasuki musim dingin.

“Paman bantu kami untuk menghadapi musim dingin”, suara Saiful Haq menirukan anak-anak Suriah. Dari apa yang dikatakan menunjukkan kekhawatirannya akan dasyatnya cuaca di musim dingin. Karenanya, relawan ini mengajak agar seluruh Crew Syam Organizer membuat sejarah untuk dirinya sendiri.

Hal senada disampaikan oleh Laswadi. Di awal pembicaraannya relawan itu bertanya kepada semua peserta Rakernas, mengapa banyak di antara umat Islam yang masih mengenal para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga bertanya siapa yang masih mengenal silsilah keturunannya. Ternyata banyak di antara peserta Rakernas yang tidak mengenal silsilah keturunannya kecuali sebatas sampai pada kakek saja.

“Kenapa demikian? Karena para sahabat itu telah mengukir sejarah”, tandas relawan yang juga terkenal seorang herbalis itu. “Karenanya, mari membuat sejarah. Suriah sangat membutuhkan bantuan kita. Barangsiapa membuat sejarah, Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman akan melihatnya”, pungkasnya.

Di sesi terakhir, Saiful Anwar, relawan kemanusiaan Syam Organizer untuk Suriah tim ke 1 dan sekaligus Ketua Umum Syam Organizer menyampaikan testimoninya. Kalau relawan-relawan sebelumnya bercerita saat keberadaannya di Suriah, Saiful Anwar justru berkisah saat dia berpamitan dengan keluarganya.

“Jika ingin menjadi relawan, kondisikan anak dan istri kalian”, ungkapnya mengawali testimoninya. Kemudian dia berkisah bagaimana anak dan istrinya dengan tabah dan sabar melepas kepergiannya.

“Tapi ayah jangan mati ya?”, demikian suara lirih salah satu anaknya. Lirih suara itu membuat haru biru di dalam kalbu. Namun keteguhan hati membuat sang ketua ini mengabaikan semua kesedihan dan kepentingan pribadinya hingga akhirnya ia pun sampai ke Suriah.

Saat itu menjelang akhir bulan Ramadhan. Serangan rezim Bashar Assad sangat gencar. Dalam sehari ratusan bom birmil dijatuhkan hingga salah satu dari relawan terkena serpihan kaca jendela yang hancur karena ledakkan.

Tetapi para relawan lokal selalu berusaha melindungi mereka. Setiap ada suara jet atau roket tidak boleh ada di antara relawan yang keluar dari ruangan. Mereka bahkan dibawa ke lorong-lorong dalam ruangan itu agar ketika terjadi getaran dan pecahan bangunan tidak mengenai para relawan tersebut.
“Anda tidak boleh mati. Keselamatan Anda ada pada leher kami”, demikian kalimat yang selalu diingat oleh Saiful Anwar. Sebuah kalimat pendek namun menunjukkan betapa para relawan lokal itu berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi mereka. (Ar70/Syamorganizer.com)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*