Ustadz Farid Ahmad Okbah, Merajut Jembatan Ukhwah Membangun Persatuan Umat Islam di Bali

4

Bali, Syamorganizer.com – Hidup Hanya Sekali Jangan Salah Jalan, demikian tema kajian ba’da subuh di Masjid Baitul Makmur – Perumnas Monang -Maning, pada Ahad (4/1/2015). Kajian yang berupa bedah buku tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai wilayah di Bali.

H. Bambang Santoso, selaku ketua Dewan Kemakmuran Masjid Provinsi Bali berkenan membuka kajian dengan memberi pengantar yang cukup membius antusias para hadirin.

“Kedatangan Ustadz Farid Ahmad Okbah sudah digadang-gadang sejak beberapa tahun silam namun belum bisa terwujud. Alhamdulillah walhasil dengan segala kehendak-Nya di awal Januari tahun 2015 ini Ustadz Farid Ahmad Okbah yang juga selaku MIUMI ( Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia ) dan sebagai delegasi Muktamar ulama se-dunia di Timur Tengah beberapa waktu lalu berkenan untuk menyambangi kami di Bali”, ungkap H. Bambang dengan raut senyum bahagia.

“Hal ini sekaligus menjadi sebuah moment pembaharu yang dapat menguatkan semangat persatuan ummat Islam di Bali, yang kini berjumlah 550.000 menurut jumlah penelitian LIPI, dan tersebar di berbagai wilayah, Buleleng, Klungkung, Karang Asem, Negara, Denpasar dan Badung”, sambungnya.

Sebagimana diketahui bahwa umat Islam di Bali menjadi kaum minoritas di tengah kalangan penduduk Bali yang mayoritas Hindu. Kondisi seperti itu menjadi tantangan dan problematika tersendiri yang dirasa pelik diungkapkan satu per satu. Eksistensi diri sebagai seorang muslim di lingkungan yang maoyoritas Hindu ini harus senantiasa dipupuk dan dimotivasi sehingga optimisme selalu ada. Hal itu bisa dilakukan dengan saling menguatkan silaturahmi, menjalin persaudaraan.

Kehidupan ummat islam di Bali yang minoritas haruslah menjadi penyemai semangat untuk terus semakin memperbaiki kualitas diri, membangun potensi agar semakin bangga dengan jati diri keislamanya agar berpengaruh sehingga mampu memperbaiki kondisi tatanan kehidupan bangsa menjadi lebih baik di masa depan.

Di awal kajiannya, ustadz Farid Ahmad Okbah menyampaikan ayat ke-15 dari surat Al Hujurat,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Ayat ini, kata beliau, menginsyaratkan orang-orang beriman yang benar kejujuranya, yakni bagaimana keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya mampu menghantarkan dirinya untuk penuh yakin sepenuh hati tanpa keraguan untuk menumbuhkan semangat ghirah perjuangan, baik harta dan jiwa di Jalan Allah, yang menyatu segala keberanian dan kedermawanan membangun menegakan umat ini untuk kemuliaan semata karena Allah.

“Makanya, letak kebahagiaan itu ialah karunia akan hati yang bersih ( qolbun salim ) bukanlah pada banyaknya hiburan”. Jelas ustadz Farid. “Betapa banyak penghibur yang justru kesepian. Hatinya kosong dilanda kehampaan. Letak kebahagiaan bukanlah pada gelak tawa dan canda. Betapa banyak orang yang hidup di antara gelak tawa, tapi hatinya gelisah tak bermakna”, tandasnya. Kemudian beliau melanjutkan, “Letak kebahagiaan bukanlah pada banyaknya harta di genggaman kita. Betapa banyak orang yang berlimpah harta, tetapi hatinya didera putus asa. Letak kebahagiaan bukanlah pada popularitas. Betapa banyak orang yang justru kesulitan mencari privasi bersebab popularitasnya. Ia tertekan”

Buku Hidup Hanya Sekali Jangan Salah Jalan yang dibedah pada saat itu antara lain berkisah tentang jejak kisah pencarian kebenaran.

Orientasi untuk menjadi pribadi muslim sejati yang kaffah, visioner, terdepan dalam garda tubuh ummat ialah bagaimana membentuk pribadi yang kuat yang mampu menguatkan diri dan memberikan pengaruh positif terhadap orang lain serta lingkungan sekitarnya, dan lebih jauh lagi kepada agama, bangsa, dan negaranya. Bagaimana jadinya bila membangun kokohnya bangunan keislaman tanpa didasari dengan kebenaran dan kejujuran pribadi-pribadi kaum muslimin itu sendiri.

Realita yang membuat miris juga beliau sampaikan, yakni tentang kondisi umat yang sedang sakit. Salah satu jalan dan cara yang bisa mengurai kondisi memprihatinkan umat ini adalah dengan kembali kepada islam, yang sejatinya telah dibangun oleh para pioner islam pendahulu bangsa ini.

Islam sebagai rahmatallil`alamin ialah bagaimana keindahannya harus melepas segala atribut kejahiliyahan, baik pandangan itu berdasar materi, rupa, tahta, harta, suku dan golongan. Karena Indahnya ukhwah islamiyah akan terjalin indah dan penuh keberkahan tanpa adanya sisi sekat-sekat pemisah perbedaan, dan hanyalah tali iman yang mampu mengeratkan itu semua.

Beberapa tokoh islam, ormas dan ulama juga menghadiri acara ini termasuk beberapa anggota Majelis Ulama Indonesia Provinsi Bali.

Dalam acara itu juga ditayangkan sebuah pesan dokumenter mengenai kewaspadaan terhadap penyimpangan Syi`ah yang bisa mengoyak tubuh ummat islam. Di berbagai media hal itu memang menjadi topik hangat hari ini. Aliran Syiah yang sudah menggeliat bagaikan racun cendawan menjadi ancaman bagi umat Islam seluruhnya.

Ustadz Farid juga mengungkapkan bahwa perlu adanya kekompakan semua pihak dalam mewaspadai dan menghalau menjamurnya Syiah di Indonesia.
Berkembangnya Syi`ah salah satunya karena adanya perhatian yang besar dari pemerintahan yang melalui jalur pendidikan kebudayaan dan keagamaan baik dalam maupun luar negeri. Dalam konteks ini beliau juga berpesan agar MUI bersama pemerintah kepada pemerintah RI untuk membatasi merebaknya Syi`ah yang bisa disinyalir melalui kerjasama bilateral sebagai hubungan kenegaraan.

“Untuk mewaspadai dan menutup segala hal yang dapat merusak tatanan kehidupan ummat ini, tentu harus ada kekompakan dan dukungan peran aktif semua pihak untuk menutup segala hal yang dapat merusak ajaran dan nilai islam”, papar beliau kepada hadirin dalam sesi tanya jawab seusai acara. [Aliazmi/Bali]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*