Vitra Marhum, “Antara Suriah dan Buol Sulawesi Tengah. Menyambung tangis, mengabarkan derita, juga tentang darah yang tumpah”

Buol dan suriahPalu – Syamorganizer.com – Pasca deklarasi Khilafah Islamiyah oleh Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS), masyarakat dunia semakin berhati-hati bahkan ketakutan untuk berbicara tentang Suriah. Isu ISIS menjadi salah satu alasan beralihnya perhatian masyarakat. Padahal, korban peperangan di negeri tersebut terus berjatuhan.

Namun, tidak demikian dengan gadis asal Buol Sulawesi Tengah ini. Kepeduliannya terhadap masyarakat Suriah ia buktikan dengan menggalang dana di tempatnya. Ia sampaikan penderitaan masyarakat Suriah, ia mengistilahkan, gerakannya adalah upaya menyambung tangis untuk didengarkan oleh saudara-saudara se-iman. Bermodalkan informasi internet serta korespondesi pada beberapa sahabatnya yang tinggal di luar negeri, Vitra Marhum mengumpulkan informasi tentang tragedi Suriah yang tidak banyak diekspos media massa.

“Sebenarnya bukan hanya Suriah, dari sejak masih kuliah saya juga aktif mengikuti perkembangan Palestina, mengabarkan pada teman-teman tentang kondisi Gaza juga saat itu. Ketika saya tau tentang Suriah, ternyata ini lebih parah, dan tragisnya ini tidak diberitakan oleh media,” jelas gadis alumni Teknik Geologi Unhas ini.
Penggalangan dana yang dilakukan Vitra berawal saat ia berlibur di kampung halamannya, Buol Sulawesi Tengah. Sebelumnya, ia juga sudah terlibat aktif mengikuti setiap event bertajuk peduli Suriah di Kota Palu, bahkan bergabung menjadi relawan sahabat Syam. Saat liburan ia bertukar informasi pada keluarga juga adiknya yang barusan pulang dari Jakarta.

“Adik saya yang barusan pulang dari Jakarta spontan menyoal tentang Palestina. Dia juga suka mengikuti perkembangan konflik Gaza yang terkini. Akhirnya saya sampaikan, di Suriah juga ada yang seperti ini, dan parahnya tidak diberikan media,” jelasnya kepada kontributor Syamorganizer.com

Saat itulah, ia menyadari bahwa kondisi Suriah belum banyak diketahui orang. Dia pun menyusun rencana untuk mengkampanyekan penderitaan masyarakat Suriah. Disuruhnya adik laki-lakinya membawa celengan peduli Suriah ke masjid untuk menguji respon masyarakat.

Tak disangkanya, jamaah masjid merespon baik celengan infak untuk masyarakat Suriah itu. “Mereka malah bilang, kenapa celengannya kecil begini, kalau bisa dibuat yang lebih besar,” ceritanya. Dari situlah ide penggalangan dana di Kabupaten Buol ia mulai.

Jelang lebaran, perempuan asli Bugis ini meminta izin pada pengurus masjid untuk menaruh dua kotak infak untuk Suriah. “Alhamdulillah saya diizinkan menaruh kotak infaq di tempat perempuan dan laki-laki, saat khutbah. Saya kemudian jalan membawa kotak infak yang bertuliskan untuk masyarakat Suriah itu”, paparnya.

Beberapa ibu-ibu ada yang memintanya untuk menceritakan kondisi Suriah. Vitra pun menyampaikan kondisi terkini yang tidak banyak diketahui masyarakat luas. “Ibu-ibu itu terharu, bahkan antusias menyumbangkan hartanya untuk kaum muslimin Suriah, saya sedikit lega dan semakin bersemangat,” tuturnya dengan logat Bugis yang kental.

Selesai lebaran, Vitra belum langsung kembali ke Palu. Ia masih menetap di Buol untuk beberapa lama. Di saat rehat di rumah, tak sengaja ibunya “nyeletuk,” menyarankannya untuk menggalang dana ke Sekolah-sekolah. “Saya pikir betul juga, mumpung belum ke Palu, saya penggalangan dana disini saja dulu.”

Mulailah Vitra mendatangi sekolah demi sekolah, memohon izin agar diberikan waktu untuk melakukan penggalangan dana bagi masyarakat Suriah. “Alhamdulillah, setiap kepala sekolah yang saya datangi semuanya merespon dengan baik, mereka bahkan mendukung.”

Setiap sekolah yang didatangainya, ia sebenarnya dipersilahkan untuk masuk ke kelas-kelas mempresentasikan dan membawa kotak infaq untuk Suriah. Namun, Vitra menolak dengan cara membawa celengan ke setiap kelas. Baginya, cara seperti itu seolah menodong dan memaksakan anak-anak untuk berinfaq.

Kepada pihak Sekolah Vitra menjelaskan, bahwa kedatangannya selain untuk mengkampanyekan kondisi Suriah, juga ingin mendidik kepekaan sosial para siswa untuk mulai belajar peduli terhadap penderitaan sesama. Kepala sekolah menyetujui dan mempercayakan penuh kepadanya metode penggalangan dana itu.

Akhirnya, Vitra meminta izin agar diberikan waktu berbicara saat apel pagi. Saat apel itulah ia sampaiakan kondisi Suriah, sembari menyediakan kotak infaq untuk diisi selesai ia memberikan pengarahan. “Yah, semi tabligh akbarlah, hanya saja ini saya lakukan di sekolah-sekolah,” kisahnya.

Total enam sekolah ia datangi untuk melakukan penggalangan dana bagi kaum muslimini Suriah. Kondisinya yang tak mampu bersepeda motor, tak menghalanginya untuk turun ke sekolah. Setelah diantar oleh ayahnya ke setiap sekolah yang akan didatanginya, ia pulang berjalan kaki dengan membawa bantuan untuk saudaranya di Suriah. Total dana yang ia kumpulkan selama di Buol berjumlah Rp  5.309.500,00 Bantuan masyarakat Buol tersebut diberikan langsung kepada Syam Organizer Kota Palu melalui Ust. Abu Falah.

Vitra telah mengajari kita tentang kepedulian tanpa batas sekat Negara. Perempuan itu, memperlihatkan kepada kita tentang semangat berbagi yang tak boleh padam, dan tangis anak-anak Suriah, harus terus digaungkan, agar air mata mereka, juga diketahui oleh keluarganya di Indonesia. Tak boleh lagi ada darah yang tumpah di Suriah, tanpa diketahui oleh orang-orang Indonesia, berjalanlah, dan sampaikanlah. (AF)

Comments

comments

One comment

  1. Smoga Syamorganezer tetap eksis menebarkan informasi dan menggalang dana untuk ummat muslim yang tertindas.. Amin
    Usulan famlet dan brosur SO di sebar sebanyak-banyaknya dan seluas-luasx agar semakin dikenal kalangan masyarakat luas..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*