Yusra Mardini: Gadis Suriah yang Mencuri Panggung Olimpiade

file_1471251706

Setehun yang lalu, Yusra Mardini, yang kala itu berumur 17 tahun, terjebak bersama 20 pengungsi asal Suriah di atas sebuah perahu kecil yang rusak. Mereka terombang-ambing di perairan Aegea, yang membentang antara Turki dan Yunani. Situasi saat itu antara hidup dan mati. Banyak yang tidak bisa bertahan hidup.

Apa yang Yusra dan saudarinya lakukan sungguh mengejutkan.

Dua wanita ini memilih melompat ke dalam air. Mereka mendorong perahu tersebut hingga selamat sampai ke daratan. Semua yang berada di atas perahu mayoritas tidak bisa berenang, akhirnya selamat.

Kisah keberanian Yusra tidak terhenti sampai di sit. Ia kembali mencatatkan kisah yang inspiratif. Ia bertanding sebagai atlet olimpiade mewakili Skuat Pengungsi Olimpiade yang baru pertama kali ini ikut serta sepanjang perhelatan olimpiade. Ia berjuang tidak mewakili negara, bendera manapun, juga tidak ada lagu kebangsaan.

Pada 2012, rumah keluarga Yusra hancur dalam pembunuhan masal Daraya. Saat itu, pasukan Assad membunuh ribuan warganya sendiri di kediaman mereka. Tiga tahun berikutnya, Yusra dan keluarganya mencoba kembali hidup normal tetapi sekolah tiap minggu terpaksa diliburkan karena kondisi yang tidak aman.

Yusra dan Saudaranya memutuskan untuk melarikan diri. Keduanya diselundupkan hingga mencapai pesisir Turki, lalu dengan menumpang sebuah perahu mereka pergi ke Yunani. Mesin perahu yang ditumpangi Yusra dan penuh sesak oleh pengungsi lainnya mati hanya dalam waktu 20 menit setelah bertolak.

Hanya empat orang di dalam perahu tersebut yang bisa berenang, tetapi dua pria yang turut melompat ke dalam air bersama Yusra dan Saudarinya cepat menyerah. “Waktu itu aku berpikir, hah? Aku kan perenang dan bukankah pada akhirnya aku akan mati di air?” Kata-kata itulah yang melecut keberanian Yusra.

Mereka berenang, mendorong perahu hingga 3,5 jam. Bahkan, Yusra masih bisa menghibur anak kecil di dalam perahu yang terlihat ketakutan. “Aku menghiburnya dengan memainkan wajahku agar terlihat lucu.”

Keduanya berhasil membawa perahu tersebut sampai ke Lebsos. Lalu melewati Serbia menuju Hungaria, Austria, hingga akhirnya berakhir di Jerman. Berhari-hari ia mengantri demi memperoleh surat bebas suaka dalam cuaca dingin.

Yusra berbagi cerita ia bisa lolos bertanding ke di Olimpiade RIO 2016 apa lagi di nomor bergengsi gaya bebas 100 meter dan gaya kupu-kupu 100 meter.

“Hal yang paling mendorongku adalah aku ingin melakukan lagi dan lagi. Menangis di sudut ruangan sama sekali bukanlah diriku.”

Ia terus mengasah hobi berenangnya tersebut. Ia bergabung dengan klub renang lokal di Berlin. Di situlah bakatnya diketahui oleh Tim Nasional dan Tim Olimpiade Internasional. Ia lalu memutuskan untuk bertanding di Olimpiade walau tidak mewakili negara manapun. Kini, setahun setelah perjuanganya menyelamatkan diri melintasi laut Aegea, ia justru tampil di Olimpiade RIO 2016.

“Aku ingin menunjukkan kepada setiap orang bahwa hari tenang akan muncul setelah penderitaan, setelah badai. Aku ingin mengispirasi siapapun agar melakukan hal bermanfaat dalam kehidupan mereka.”

Betapapu segalanya terasa semakin sulit, ingatlah saat sulit itulah justru membuatmu lebih kuat. Jadi saat kamu mempunyai pilihan apakah tenggelam atau berenang, pilihlah yang kedua. Pierre De Courbertin, penggagas Olimpiade modern, pernah mengatakan hal terpenting dalam hidup bukanlah kemenangan tapi perjuangan.

“Jangan pernah menyerah,” Pesan Yusra dalam olimpiade tahun ini.

Sumber : Inspirasi.co

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*